
Byantara membawa Anggita kembali ke tempat tidurnya dan menekan bahu Anggita agar duduk di tepi tempat tidur. Anggita kali ini sudah menurut dan tidak banyak protes lagi, Anggita terpengaruh perlakuan Byantara yang lembut padanya. Perlakuan yang sudah sejak lama dia rindukan, saat menjadi istri Byantara.
Melihat Anggita yang sudah menurut, Byantara akhirnya bisa bernafas lega dan ikut duduk di samping Anggita. Byantara langsung memulai cerita tentang temannya Anton yang mengajaknya ke Night Club, sambil menggenggam kedua tangan Anggita. Byantara menceritakan dengan jujur kepada Anggita kejadian yang sudah menimpanya.
"Aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan kemeja ku kena cap bibir perempuan itu, Gita. Yang aku ingat terakhir kali dia jatuh di pangkuan ku, itu posisi aku dan dia yang paling dekat. Saat aku mau memarahi perempuan itu, dia sudah meminta maaf dan berkata tidak sengaja. Setelah itu aku mengusirnya pergi, aku tidak berbohong pada mu Gita, sepanjang pesta aku hanya sendiri dan tidak ditemani perempuan manapun. Kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada Anton. Bukankah kau juga mengenal Anton?" tanya Byantara.
Anggita terdiam mendengar penjelasan Byantara. Anggita tentu mengenal Anton karena dulu Anggita memang membantu Ayah Byantara dan bekerja di perusahaan Darmawan, sebelum menikah dengan Byantara.
Anggita menatap ke mata Byantara yang juga tengah menatap ke arahnya menunggu jawaban Anggita. Anggita tidak melihat kebohongan di kedua netra itu.
"Tidak usah mas Byan, aku percaya," sahut Anggita tertunduk dan memandang kakinya, dari tadi Anggita merasa jantungnya berdebar-debar, seperti saat pertama dia menikah dengan Byantara. Saat di mana dia menunggu Byantara mengarungi malam pertama bersamanya, tapi harus berakhir dengan kecewa, karena Byantara malah bersikap dingin padanya.
Sepertinya mas Byan sudah benar-benar berubah, sikap mas Byan pada ku sekarang hangat dan banyak mengalah. Kalau memang aku mencintai mas Byan kembali, harusnya aku juga tidak boleh keras kepala dan dendam lagi pada mas Byan. Harusnya aku sudah membuang kenangan buruk ku tentang mas Byan, agar aku tidak curiga lagi pada mas Byan dan membencinya, pikir Anggita dalam hati berusaha meredakan jantungnya yang berdebar kencang itu.
**********
__ADS_1
Melihat Anggita yang menunduk dan diam saja, akhirnya Byantara mengangkat dagu Anggita untuk melihat ke arahnya
"Mengapa kau diam saja Gita? Kau boleh menanyakan apapun yang ingin kau tanyakan pada ku saat ini. Aku akan menjawabnya dengan jujur. Aku ingin ke depannya hubungan kita berdua menjadi baik dan saling mengerti, seperti ayah dan ibu, apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai anak lagi Gita!" ujar Byantara yang menatap lekat mata indah Anggita.
"Apakah kau melakukan itu karena aku sedang hamil anak mu lagi?" tanya Anggita.
"Harus berapa kali aku berkata pada mu Gita, kalau saat ini aku mencintai mu. Maafkan aku yang telat menyadarinya. Andai kau tidak hamil saat ini, aku tetap akan melamar mu menjadi istri ku kembali, Gita!" ujar Byantara.
Anggita merasa hatinya benar-benar tersentuh dengan perkataan Byantara kali ini, perlahan Anggita menarik tangannya dari genggaman Byantara, yang membuat Byantara sempat kaget, mengira Anggita menolak dirinya. Tapi rasa khawatir itu berubah menjadi rasa bahagia ketika Anggita memeluk leher Byantara dan menempelkan wajahnya di dada Byantara tanpa berkata-kata apa-apa lagi.
"Gita! Apakah kau sudah mau memaafkan kesalahan ku dulu?" tanya Byantara. Anggita tidak menjawab, tapi hanya mengangguk saja, Byantara dapat merasakan itu karena kepala Anggita menempel di dadanya.
"Tapi kali ini aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita lagi dan membuat kita saling mencurigai terus. Aku juga ingin menanyakan sesuatu pada mu!" ujar Byantara yang memutuskan untuk bertanya pada Anggita tentang foto yang sudah diberikan Sella padanya empat tahun yang lalu, foto Anggita bersama laki-laki yang tidak terlihat jelas dan masuk ke hotel.
Byantara bangun dari duduknya dan mengambil foto yang disimpannya itu, yang dulu ingin dia tanyakan pada Anggita, tapi karena emosi menguasai dirinya dan selalu mencurigai Anggita saat itu, telah membuat Byantara membulatkan tekad menceraikan Anggita langsung, tanpa bertanya lagi.
__ADS_1
"Siapa pria di samping mu, yang bersama mu masuk ke hotel?" tanya Byantara sambil menunjukkan foto itu. Anggita menatap foto itu dengan dahi berkerut, mencoba mengingat hal itu.
"Ah.. Aku ingat. Saat itu mas Byan sedang ke luar negeri, Ayah sedang merasa tidak enak badan akhirnya meminta aku menemui Tuan Freddy dari Singapura untuk memberikan proposal kerjasama. Tuan Freddy saat itu terburu-buru karena sudah dekat jam pesawatnya untuk kembali, karena ayah terlambat memberitahuku untuk mewakilinya. Akhirnya aku masuk ke hotel itu untuk berbincang-bincang dengan Tuan Freddy di loby hotel, agar Tuan Freddy bisa menyesuaikan jam terbangnya," cerita Anggita
"Memang ada apa dengan foto itu?" tanya Anggita.
"Mengapa kau tidak pernah memberitahu ku? Malah ayah yang memberitahu ku soal kedatangan Tuan Freddy, sehingga aku sama sekali tidak terpikirkan kalau kau menemui Tuan Freddy? Karena dari foto ini aku tidak bisa melihat wajah Tuan Freddy!" tanya Byantara merasa heran.
"Bukankah mas Byan sudah pernah bilang pada ku, kalau saat aku sudah menjadi istri mas Byan aku tidak boleh ikut campur masalah perusahaan. Mas Byan hanya menginginkan aku di rumah saja. Jadi pertemuan itu tidak ingin aku beritahu pada mas Byan, aku takut mas Byan akan marah dan salah paham lagi," jawab Anggita.
Mendengar jawaban itu Byantara menatap kesal foto itu dan tiba-tiba saja merobeknya, Byantara benar-benar menyesali kebodohannya yang mempercayai Sella dan mencurigai Anggita. Padahal saat itu dia sudah sempat ingin memperbaiki hubungannya dengan Anggita, tapi foto itu membuat dia marah dan berprasangka yang tidak-tidak.
"Kau kenapa mas Byan? Ada apa dengan foto itu? Apakah kau mencurigai ku?" tanya Anggita.
"Sudahlah Gita, maukah kau bersama ku membuang semua kenangan buruk kita di masa lalu. Maukah kau bersama ku memulai mengukir kenangan yang indah bersama Benji dan adik Benji?" tanya Byantara yang kembali memeluk Anggita dengan erat.
__ADS_1
"Aku mau mas Byan," sahut Anggita yang membalas memeluk Byantara. Dari jendela tampak bulan yang bulat membuat suasana malam itu menjadi begitu romantis dan syahdu untuk mereka berdua.
Langsung tancap 2 episode ya readers, biar langsung cus tamat, biar gak penasaran 🤭🤭