
Byantara segera mengejar Anggita dan menarik lengan Anggita.
Sepertinya apapun yang ku katakan saat ini, selalu saja salah di depan Gita. Ayo Byan, kau harus lebih bersabar lagi. Salahkan perbuatan ku dulu yang sudah terlalu! keluh Byantara dalam hati.
"Gita! Maaf kalau perkataan ku sudah menyinggung perasaan mu! Kau baru sadar, biarkan aku menggandeng mu!" ujar Byantara akhirnya mengalah dan meminta maaf.
Anggita terdiam sejenak dan memandang ke arah Byantara, Anggita sungguh tidak menyangka kalau Byantara bisa meminta maaf padanya. Byantara segera menggunakan kesempatan itu untuk menarik Anggita menuju ke ruangan Benji dan ibunya berada.
**********
"Mama!" panggil Benji yang segera berlari ke arah Anggita. Anggita langsung tersenyum pada Benji, dan menarik tangannya dari genggaman Byantara.
Anggita berjongkok di bawah dan memegang kedua pipi Benji dengan tangannya dan menatap ke wajah Benji.
"Benji sudah tidak apa-apa?" tanya Anggita.
"Sudah gak sakit ma, sudah pakai obat," ujar Benji sambil menunjuk ke arah kakinya yang kini sudah diperban.
"Kau sendiri sudah sembuh Gita?" tanya Bu Darmawan sambil memperhatikan Anggita.
"Sudah Bu. Sebenarnya aku tidak apa-apa, aku hanya alergi pada racun ular, sehingga membuat ku sesak nafas dan kesulitan bernafas hingga tidak sadarkan diri," ujar Anggita yang memang sudah tahu penyakitnya sendiri sejak dulu, karena saat dia menolong Byantara, Dokter Gunawan dulu sudah pernah memberitahu pada Anggita kelemahannya itu.
"Ya sudah, ayo kita balik dulu ke ruangan tadi, biar kau diperiksa dokter lagi. Kalau sudah tidak apa-apa, kita sudah bisa pulang ke Mansion!" ajak Byantara yang menarik Anggita bangun dari posisi jongkoknya.
Kali ini Anggita menurut dan tidak banyak protes lagi, apalagi saat ini ada Bu Darmawan bersama mereka. Lagipula Anggita juga ingin segera kembali ke Mansion, sungguh tidak enak berada di rumah sakit.
__ADS_1
*********
Saat mereka tiba di Mansion, hari sudah menjelang malam. Bu Darmawan dan Anggita keluar dari mobil dengan kompak. Tinggal Benji yang tadinya duduk di tengah di antara Bu Darmawan dan Anggita yang masih berada di dalam mobil. Saat Anggita membungkuk ke dalam mobil dan hendak menggandeng Benji keluar, Byantara yang sudah keluar dari mobil mencegah Anggita.
"Biar aku saja Gita", ujar Byantara.
"Ayo Benji!" ajak Byantara membuka kedua lengannya. Dengan ragu Benji bergeser ke ujung mobil mendekati Byantara. Begitu dekat, Byantara langsung mengangkat Benji dan menggendong Benji.
Benji tentu merasa senang, apalagi kakinya baru saja diobati, tentu Benji ingin bermanja-manja. Sudah lama Benji tidak digendong, sejak mereka meninggalkan Mansion Tang. Biasa Samuel yang sering menggendongnya. Anak yang berusia tiga sampai lima tahun memang paling suka digendong.
"Papa gendong sampai ke kamar Benji ya? Kaki Benji masih sakit," ujar Benji. Byantara tentu tidak menolak dan menggunakan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Benji. Byantara memang mulai melakukan pendekatan pada Benji.
"Baik, papa gendong sampai ke kamar Benji. Papa boleh kan ke kamar Benji?" tanya Byantara sengaja dan tersenyum senang. Benji sepertinya sudah lupa kalau dia pernah mengusir Byantara dari kamarnya dan Anggita.
Anggita hanya mengikuti dari belakang dan menatap kesal ke arah Byantara.
*********
Setelah keluar dari kamar Anggita dan Benji, Byantara langsung menuju ke kamar Sella. Byantara ingin segera menyelesaikan hubungannya dengan Sella.
Sella yang stres, hanya berada di kamar bermalas-malasan saja karena sedang tidak semangat. Lagipula dia juga sedang sepi job.
Sella langsung tersenyum senang saat membuka pintu kamarnya melihat Byantara yang berdiri di hadapannya. Bagaimanapun Sella masih berharap kalau Byantara akan merubah keputusan untuk menceraikannya.
"Byan! Ada apa? Ayo masuk!" ajak Sella yang segera menarik Byantara ke kamarnya. Byantara yang memang ingin membicarakan masalah pribadi, menuruti kehendak Sella, melangkah masuk ke kamar Sella dan menutup pintu kamarnya. Byantara tidak ingin ada pelayan yang mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
Saat itulah Anggita yang sedang ke dapur hendak membuatkan susu untuk Benji kebetulan melewati kamar itu dan melihat Byantara yang masuk ke kamar Sella. Anggita yang memang sudah berpikiran negatif pada Byantara, sejak Byantara melampiaskan hasratnya pada Anggita, sudah pasti berpikir yang tidak-tidak.
Cih! Sok-sokan ngusir Sella dari kamarnya dan mau bercerai. Belum beberapa hari saja sudah gak tahan! cemooh Anggita dalam hati. Anggita sendiri tidak menyadari kalau hatinya menjadi panas karena melihat kejadian itu.
*********
"Aku tidak rela Byantara! Apalagi akhir-akhir ini aku mulai mengurangi job ku untuk memperbaiki hubungan kita Byan! Karena aku sering menolak job, akhirnya sekarang aku juga sudah jarang diberi job!" ujar Sella yang menunjukkan pengorbanannya.
"Aku tidak minta pendapat mu Sella! Tandatangan saja surat cerai itu sekarang dan kau segera angkat kaki dari sini, aku tidak ingin melihat mu lagi!" ujar Byantara menunjuk ke surat cerainya.
"Mana janji mu dulu Byan! Kau bilang akan mengabulkan semua permintaan ku karena aku lah yang sudah menolong nyawa mu! Kau seorang pria, harusnya kau bisa menepati janji mu itu!" tagih Sella.
"Apakah kau tidak malu mengakui itu, Sella? Mata ku sudah buta hingga semua kebenaran tertutup oleh tipu muslihat mu! Entah ke mana otak ku saat itu! Kau tidak usah menagih hutang budi ku pada mu lagi! Aku sudah tahu siapa sebenarnya yang sudah menyelamatkan aku!" ujar Byantara.
"Siapa yang sudah memberitahu mu Byantara? Pasti pria pengecut itu yang memberitahu mu bukan? Apa bedanya dia dan aku? Bukankah dia adalah teman baik mu Byantara, tapi mengapa dia juga mengkhianati mu? Dari sini saja kau harusnya tahu kalau sebenarnya banyak orang yang tidak menyukai mu karena sifat arogan dan egois mu! Ha-ha-ha, " ujar Sella tertawa sampai mengeluarkan air mata. Sella mengira kalau Theo sudah mengkhianatinya dan memberitahu Byantara. Sella tidak rela, Sella juga ingin mencelakakan Theo.
Sementara itu Byantara hanya diam saja, Byantara juga ingin tahu siapa sebenarnya yang dimaksud Sella, walaupun dia mulai bisa menebak.
"Theo juga tidak memberitahu mu bukan, kalau dia lebih memilih menyelamatkan Gita dan meninggalkan mu yang sahabat baiknya. Untung dia bertemu dengan ku, dan menyuruh aku memanggil orang untuk menyelamatkan mu!" ujar Sella yang akhirnya menyebutkan nama Theo.
"Kasihan sekali diri mu Byan! Bahkan Anggita menganggap Theo adalah malaikat penyelamat nya. Kau pikir aku tidak tahu kalau Anggita kembali ke sini karena demi Theo. Dasar manusia bermuka dua, kini dia malah bersekutu dengan mu untuk menjebak Anggita masuk ke perangkap mu. Bahkan posisi mu di hati Anggita saja dikalahkan oleh Theo. Aku sudah puas Byantara, aku tidak mendapatkan mu, kau pun tidak bisa mendapatkan Anggita. Ha-ha-ha!" ujar Sella sengaja memanasi Byantara.
"Kau tidak usah berbohong untuk menyakiti aku Sella! Aku tidak bisa dipengaruhi mu! Theo lah yang membantu aku membawa Anggita kembali pada ku!" ujar Byantara tidak percaya.
"Karena dia tidak tahu kalau perasaan mu pada Anggita sudah berubah! Karena dia juga ingin memiliki Anggita! Dia sudah memanfaatkan mu Byan, dia takut Anggita dibawa Samuel maka dia tidak punya harapan lagi! Ha-ha-ha," ujar Sella tertawa lagi. Sella merasa puas dia sudah membongkar rahasia Theo.
__ADS_1
Tahu rasa kau Theo, masak hanya aku yang tertangkap basah! geram Sella dalam hati
Bersambung...........