
Dear pembaca,
maaf ya, update nya agak tidak teratur karena author lagi flu berat, ngarangnya malam hari, karena pengaruh obat jadi gak tahan malah ngantuk dan ketiduranππ
Happy reading π₯°π₯°π₯°
:
:
Anggita memutuskan bersembunyi di bawah meja kerja, kebetulan meja kerja nya besar dan hanya memiliki dua laci kecil di samping kanan, jadi kolong mejanya cukup besar untuk bersembunyi.
Mendengar derap langkah yang melangkah masuk ke kamar Byantara, membuat Anggita jantungnya berdebar kencang, tiba-tiba dia merasa seperti maling yang bersembunyi karena kedatangannya ketahuan sang penghuni.
Jantung Anggita semakin berdebar kencang ketika melihat sepasang kaki yang mendekati meja kerja, dan seketika Anggita langsung mengenal sepasang kaki itu dengan dilihat dari sepatunya. Sepertinya Byantara sedang terburu-buru, sampai tidak mengganti sepatu kerja dengan sandal rumah. Sangking takut ketahuan, Anggita sampai menahan nafas.
Aduh ngapain mas Byan pakai acara pulang segala? Moga-moga jangan sampai ketahuan, harap Anggita dalam hati sambil memejamkan matanya karena takut ketahuan.
*********
Terdengar suara laci dibuka, dan sepertinya Byantara sedang mencari sesuatu, Anggita mendengar seperti halaman kertas yang dibuka, tetapi Anggita tidak berani melihat apa yang dilakukan Byantara sangking takutnya. Anggita masih memejamkan matanya dan menahan nafas.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menjauh sesudah itu terdengar suara pintu dibuka dan ditutup. Anggita akhirnya menarik nafas lega dan perlahan membuka matanya.
Ahh, untung gak ketahuan! Aku harus cepat keluar dari kamar inihl! pikir Anggita yang perlahan merangkak keluar dari kolong meja kerja itu.
Setelah berdiri di depan meja kerja Byantara, pandangan mata Anggita kembali tergoda dengan laptop yang berada di depannya.
Anggita yang terbiasa bersikap jujur, kali ini benar-benar merasa dia seperti maling, sebetulnya Anggita paling tidak suka mengotak-atik barang kepunyaan orang lain. Saat dia masih menjadi istri Byantara saja, Anggita sama sekali tidak pernah memeriksa telpon genggam Byantara. Anggita perlahan menaikkan monitor laptop di depannya itu dengan tangan bergetar, dan segera mencari posisi tombol on/off laptop itu.
Ketika sudah menemukan letak tombol on/off itu, baru saja Anggita hendak menekannya, kembali terdengar suara pintu dibuka.
Anggita yang kaget langsung mendongakkan kepalanya, tapi kali ini pandangan matanya langsung bertemu dengan mata Byantara yang menatap tajam dan curiga kepada Anggita.
Ternyata Byantara bukan keluar kamar, tapi Byantara sedang ke kamar mandi, suara pintu yang didengar Anggita adalah suara pintu kamar mandi. Sedangkan pintu kamar mandi berhadapan langsung dengan meja kerja Byantara.
Tampak Byantara keluar dengan rambut setengah basah dan sedang memegang handuk kecil.
__ADS_1
Aduh! Aku kok bisa lupa dengan kebiasaan mas Byan yang satu ini! sesal Anggita yang teringat kalau Byantara setiap baru balik dari luar pasti mencuci muka dan membasahi rambutnya.
"Apa yang kau lakukan di kamar ku, Gita?" tanya Byantara yang melangkah menghampiri Anggita. Anggita sama sekali tidak bergerak karena kaget sudah tertangkap basah.
"Gita! Apa yang kau lakukan di kamar ku?" ulang Byantara lagi ketika Anggita tidak bisa menjawab pertanyaan Byantara.
"Maaf--aku---aku--- sedang iseng gak ada kerjaan, aku membantu mu membersihkan kamar mu!" sahut Anggita.
"Ha-ha-ha, Gita sejak kapan kau menjadi bodoh? Sampai membuat alasan saja tidak masuk akal! Sejak kapan Mansion kita kekurangan pelayan, sampai kau harus membersihkan kamar ku? Kalau kau mau berbohong pikirkan baik-baik dulu!", ujar Byantara tertawa terbahak-bahak, Byantara merasa lucu dengan alasan yang diberikan Anggita.
Anggita yang mendengar Byantara mengatainya bodoh menjadi tersinggung dan marah.
"Aku tahu kalau kau yang paling pintar. Sudah! Aku malas berdebat dengan mu!" sahut Anggita mengerucutkan bibirnya dan segera melangkah ke sebelah kiri, sekalian menggunakan kesempatan untuk keluar dari kamar Byantara, karena Byantara berdiri di sebelah kanan meja.
"Memang aku pintar, jadi kau jangan coba-coba menipu ku dan mengalihkan perhatian ku. Kalau kau sudah masuk ke kandang ku, kau tidak bisa seenaknya keluar begitu saja tanpa menjelaskan tujuan mu ke kamar ku!" ujar Byantara yang refleknya memang cepat.
Byantara melangkah lebar ke arah Anggita dan langsung mencekal pergelangan tangan Anggita. Anggita langsung membalikkan badannya dan berusaha menarik lepas tangannya, tapi Byantara malah semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Lepaskan!" teriak Anggita marah dan dengan sebelah tangannya yang bebas, Anggita memukul dada Byantara.
Kini kedua tangan Anggita berada dalam cengkraman tangan Byantara, membuat Anggita tidak bisa bergerak, bahkan Byantara menarik Anggita mendekat padanya.
Posisi Byantara yang begitu dekat dengan Anggita, membuat Anggita teringat kejadian Byantara yang melampiaskan hasratnya malam itu. Anggita dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan cengkraman tangan Byantara, tapi sayang Anggita kalah tenaga.
"Lepaskan aku! Kalau tidak aku akan berteriak!" ancam Anggita.
"Kau yang berada di kamar ku! Paling orang yang mendengar teriakan mu mengira kau yang hendak menggoda ku!" sahut Byantara yang sama sekali tidak takut mendengar ancaman Anggita, malah tersenyum nakal.
"Kau..kau...manusia cabul! Otak mesum!" omel Anggita marah.
"Nah! Kan aku sudah bilang, kalau kau sebut aku seperti itu malah aku akan menuruti mu menjadi seperti itu", sahut Byantara yang tersenyum senang melihat wajah di depannya yang mulai kalang kabut.
"Kau mau apa?" tanya Anggita dengan suara bergetar.
"Menurut mu?" tanya Byantara yang mulai mendekatkan wajahnya ke Anggita.
Sekali-kali harus dibikin kapok agar tidak sembarang menyebut ku manusia cabul, pikir Byantara yang merasa semakin seru dengan permainannya, menakuti Anggita, lupa dengan tujuannya yang pulang untuk mengambil surat penting.
__ADS_1
**********
Samuel seorang pria yang sopan, bahkan pada orang yang kurang dia sukai, Samuel akan berlaku sopan.
Samuel menuju ke tempat duduk yang nyaman, sesudah Samuel dan Sella sampai si sebuah coffe shop yang letaknya tidak terlalu jauh dari Mansion Darmawan.
Samuel menarik kursi untuk diduduki Sella, sesudah itu baru Samuel menuju ke kursinya sendiri dan duduk di hadapan Sella.
Setelah memesan dua gelas kopi, Samuel langsung memulai pembicaraan sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Nona Sella hendak menceritakan tentang Anggita mengenai hal apa?" tanya Samuel tidak sabar untuk mengetahuinya.
"Kau pria yang baik Tuan Samuel, kau juga begitu sopan memperlakukan perempuan. Sungguh beruntung Anggita mendapatkan cinta mu!" puji Sella, tapi tentu saja dalam hatinya berkata lain.
Heran! Anggita ini selalu lebih beruntung dari ku, sudah mendapat perhatian dari pria seperti Tuan Samuel, kini Byantara sepertinya juga mulai menyukainya!
"Langsung ke intinya saja nona Sella," sahut Samuel tidak sabar.
"Apakah Tuan Samuel masih mencintai Anggita, walaupun Anggita memutuskan untuk kembali tinggal di Mansion Darmawan?" tanya Sella.
"Tentu, aku tahu kalau Anggita juga memiliki perasaan yang sama dengan ku!" ujar Samuel mulai terpancing.
"Kalau begitu segera bawa Anggita pergi dari Mansion Darmawan. Hal seburuk apa pun berani dilakukan Byantara agar dia bisa memiliki Anggita kembali!" ujar Sella memanasi Samuel.
Awas kau Byantara! Laki-laki yang sedang cemburu, bisa melakukan apapun! pikir Sella.yang ingin memanfaatkan Samuel untuk membalaskan dendamnya pada Byantara.
"Tuan Samuel tahu mengapa aku akhirnya bercerai dengan Byantara?" tanya Sella lagi.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu masalah orang lain yang tidak ada hubungan dengan ku," sahut Samuel sama sekali tidak berniat menebak urusan perceraian Sella dan Byantara
"Ini ada hubungan Tuan Samuel! Aku menangkap basah Byantara memperko*sa Anggita, makanya akhirnya aku tidak tahan lagi dan memutuskan bercerai dengan Byantara!" ujar Sella memasang wajah sendu.
Samuel langsung terdiam mendengar ucapan Sella, apalagi saat itu pelayan Coffe Shop mengantarkan kopi pesanan mereka. Sella merasa senang melihat wajah Samuel yang mengetatkan geraham, apalagi ketika pandangannya turun ke bawah melihat tangan Samuel yang mengepal karena geram.
Hajar si Byantara kalau kau berani! sorak Sella dalam hati.
Bersambung πππππ
__ADS_1