
Akhir pekan adalah waktunya Rafael bersama ayahnya. Sudah menjadi kebiasaan jika setiap akhir pekan anak lelaki itu akan menghabiskan waktu dengan sang ayah. Walaupun dia masih kecil tapi dia tergolong anak yang pintar dan pengertian. Dia tidak pernah bertanya mengapa dan kenapa kedua orangtuanya tidak bisa tinggal bersama seperti keluarga yang lain. Meski kadang dia ingin seperti teman-temannya yang kadang bercerita bagaimana rasanya berlibur dengan keluarganya yang lengkap.
Rafael, anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu cukup mendengarkan dari kejauhan karena dia sedang berusaha untuk tidak iri pada temannya yang lain. Namun, jika ada yang bertanya maka Rafael akan menjawabnya dengan jujur. Dia juga sering berlibur dengan ayah atau ibunya meski di waktu yang tidak bersamaan.
Pagi ini Rafael menyiapkan keperluannya untuk menginap di rumah ayahnya selama dua hari. Tepatnya di rumah Oma dan Opanya juga karena sang ayah tinggal bersama mereka. Walaupun di sana ada banyak orang dan begitu di perhatikan tidak membuat dia menjadi anak yang manja. Ajaran dari sang ibu tetap ia terapkan dimana pun.
"Kau, sudah siap nak. Ayahmu sudah datang," ujar Mishel memanggil sang putra.
"Aku sudah siap Bu." Meski di rumah Oma dan Opanya dia tidak kekurangan apapun dia tetap membawa beberapa keperluannya.
"Biar ibu bawakan, ayo." Mishel membawakan tas ransel sang putra.
Di depan rumah, seorang pria tampan dengan setelan kemeja putih sudah menunggu. Dia berdiri di samping mobil, seperti biasa dia hanya menunggu di luar rumah. Belum pernah sekalipun selama Mishel tinggal di rumah yang ia beli sendiri, Marco masuk ke dalam karena memang sang tuan rumah tidak pernah mengajaknya meski hanya basa-basi. Marco pun tidak selancang itu untuk masuk begitu saja.
__ADS_1
"Ayah ...."
Panggilan dari sang putra menyadarkan Marco dari pikirannya yang berkelana entah kemana. Dia menoleh lalu tersenyum lebar melihat putranya. Sebenarnya tidak hanya di akhir pekan dia bisa bertemu, saat hari biasa pun bisa tapi khusus di akhir pekan Rafael baru bisa menginap di rumahnya.
"Jagoan Ayah." Marco merentangkan kedua tangannya serta menekuk lututnya menyambut sang putra yang berlari ke arahnya.
"Hati-hati nak!" teriak Mishel melihat putranya berlari begitu kencang. Dia sadari kalau sang putra pasti begitu antusias setiap kali bertemu dengan ayahnya.
"Ayah juga nak, ayah selalu merindukanmu setiap waktu." Mereka berpelukan erat. Beruntung dia bisa sedekat ini dengan sang putra padahal dulu dia tidak mengakuinya. Marco pernah berpikir mungkin putranya itu akan membencinya suatu hari nanti jika dia tau apa yang pernah ayahnya lakukan pada ibunya.
Setelah puas melepas rindu, Rafael pun masuk ke dalam mobil lebih dulu menyisakan kedua orangtuanya yang seperti biasa masih canggung meski sudah berjalan lima tahun lebih mereka saling mengenal.
"Hmm titip Rafael, dia sudah semakin pintar sekarang kadang suka membuat eksperimen aneh. Tolong jangan sampai dia membuat keributan di rumah papah dan membuat merepotkan mereka," ujar Mishel berpesan.
__ADS_1
"Rafael adalah cucu mereka jadi mereka tidak akan pernah merasa direpotkan. Oh ya, mamah menitipkan sesuatu untukmu. sebentar." Marco mengambil sebuah bingkisan di kursi belakang.
"Ini ..."
"Kata mamah kau tidak boleh menolaknya. Kau harus datang di pesta ulang tahun pernikahan mereka. Rafael juga pasti senang melihat kamu datang," ujar Marco. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang."
"Ayo ayah," panggil Rafael yang sudah tidak sabar bertemu dengan Oma dan Opanya.
"Ok nak, ayah datang." Sebelum pergi Marco tersenyum pada Mishel.
Mishel melambaikan tangan pada sang putra. Dua hari ini dia pasti akan kesepian tapi walaupun Rafael sedang menghabiskan waktu dengan keluarga ayahnya, anak itu tidak pernah melupakan ibunya di rumah. Biasanya dia akan sering melakukan panggilan video, menceritakan apa saja yang dia lakukan di sana.
Sebelum masuk Mishel membuat bingkisan yang berisi gaun untuknya. Setiap tahun orangtua Marco memang mengadakan pesta ulang pernikahan dan Mishel selalu mendapatkan undangan tapi dia tidak pernah datang karena merasa tak pantas apalagi di pesta itu pasti banyak rekan kerja dan rekan bisnis mereka yang sudah seperti orangtua kandung bagi Mishel. Apa kali ini dia harus datang?
__ADS_1