Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Hari pertama di kamar baru


__ADS_3

Benji berlari kegirangan di kamar yang luas itu. Bahkan di kamar itu terdapat satu lemari kaca yang berisi mainan anak laki-laki.


"Buat Benji Ma?" tanya Benji sambil menunjuk lemari itu dengan mata berbinar-binar.


"Wah! Benji hebat! Sudah bisa sebut huruf J," sahut Anggita yang merasa senang tiba-tiba Benji sudah bisa mengucapkan namanya dengan benar.


Benji menghampiri Anggita dan menarik Anggita ke arah lemari kaca yang berisi mainan semua.


"Benji boleh main?" tanya Benji sambil menunjuk sebuah mobil Transformer dan disampingnya terletak remote nya.


"Tentu boleh! Semua mainan ini pasti nenek yang beli buat Benji!" sahut Anggita yang membuka lemari itu dan mengambilkan mobil Transformer yang ditunjuk Benji itu, setelah itu Anggita juga mengambilkan remote nya.


Benji sampai sudah lupa kalau dia berada di tempat asing, Benji langsung duduk di lantai dan memutar-mutar mobil itu sambil memperhatikan mobil itu dengan serius.


"Benji pakai remote ini, nanti pasti mobilnya bisa jalan!" ujar Anggita setelah mengecek remote itu juga sudah diisi baterai.


Ibu benar-benar baik dan pengertian, ibu bahkan sudah mempersiapkan semuanya! pikir Anggita yang semakin terharu.


*********


Ketika mendengar suara pintu kamarnya diketuk, Anggita segera berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya. Tampak Bu Darmawan berdiri dan tersenyum.


"Ibu mengganggu gak?" tanya Bu Darmawan.


"Masuk Bu, ganggu apanya?" sahut Anggita yang segera menarik tangan Bu Darmawan, Anggita mengajak Bu Darmawan duduk di atas tempat tidur. Dari sana mereka bisa dengan jelas memperhatikan Benji yang sedang asyik dengan mainan barunya. Tampak Benji mulai mengerti cara kerja mainannya. Bukan hanya bisa berjalan saja, bahkan mobil itu bisa berubah bentuk menjadi robot.


"Benji suka?" tanya Bu Darmawan tiba-tiba.


"Suka nek," sahut Benji masih saja melanjutkan mainnya.

__ADS_1


"Terimakasih Bu, ibu sudah begitu perhatian pada Benji. Bahkan ibu menyediakan semua mainan yang begitu banyak ini!" ujar Anggita berterimakasih.


"Kalau ini bukan ibu yang menyediakan, tapi Byantara yang menyediakan buat Benji. Ibu mana ngerti mainan apa saja yang bagus, Gita. Kau jangan lihat Byantara seperti itu, Byantara cukup perhatian pada Benji. Byantara sudah mempersiapkan nya dua hari yang lalu." sahut Bu Darmawan tidak sadar kalau Anggita menjadi curiga mendengar perkataannya.


Kok sebelumnya sudah disiapkan? Bukankah aku mencari mas Byan juga baru hari ini? pikir Anggita yang menjadi curiga, Anggita tentu tidak tahu kalau itu sudah rencana Theo dan Byantara.


*********


"Ya sudah, ibu gak mau ganggu kalian lagi, hari sudah malam. Sebaiknya kau dan Benji cepat istirahat juga. Tuh lihat! Benji sudah menguap terus." ujar Bu Darmawan bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke pintu. Sedangkan Anggita mengantar sampai ke depan dan pintu.


"Terimakasih untuk semuanya Bu. Ibu begitu baik pada saya. Maafkan saya yang tidak berbakti pada ibu." ujar Anggita.


"Kau tidak bersalah Gita. Salahkan Byantara yang sudah egois. Ku harap kau bisa memaafkan Byantara. Kau kembali ke sini lagi membawa Benji saja, ibu sudah merasa senang." ujar Bu Darmawan tersenyum dan menepuk-nepuk punggung tangan Anggita penuh kasih.


**********


"Ayo Benji, ini sudah malam, Benji mandi dulu. Besok baru lanjut main lagi!" ujar Anggita yang segera berjongkok di bawah dan mulai melepaskan baju Benji.


Benji menurut saja, sepertinya Benji juga sudah lelah dan mengantuk. Selesai memandikan Benji, Anggita memilih membereskan Benji dulu sebelum dia juga mandi, karena Benji sudah terlihat sangat mengantuk.


Benar saja, ketika mengeringkan rambut Benji dengan Hair dryer, beberapa kali kepala Benji tertunduk. Anggita segera membaringkan tubuh Benji di atas kasur setelah rambutnya kering. Tidak sampai lima menit saja, Benji sudah tertidur pulas dan terdengar dengkur halusnya.


Anggita tersenyum melihat wajah polos Benji dan perlahan menarik tangannya yang tadi mengelus rambut Benji sampai tertidur.


Ketika melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, Anggita segera bangun dari duduknya.


Hmm.. Akhirnya aku bisa mandi! pikir Anggita yang segera mengambil handuk dan terburu-buru menuju ke kamar mandi, karena hari sudah cukup malam.


Tapi ketika sudah berada di dalam dan melihat melihat Bathtub di kamar mandi itu, Anggita pun tergoda untuk berendam, apalagi ada sabun aromaterapi yang tersedia di atas Bathtub. Anggita mengambil botol itu dan mencium baunya.

__ADS_1


Ah..wangi Lavender kesukaan ku! Apakah ibu juga tahu wangi kesukaan ku? Ibu sungguh teliti! puji Anggita dalam hati, dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam bathtub itu untuk berendam.


Rasanya sudah begitu lama aku tidak melakukan kegiatan ini! pikir Anggita yang memejamkan matanya menikmati air hangat yang sudah dia campur sabun aromaterapi. Khasiat yang bagus untuk menghilangkan penat di tubuhnya setelah seharian belum menyentuh air. Anggita juga merasa tenang karena Benji biasa jarang terbangun kalau tidur malam.


*********


"Kau mau ke mana Byan?" tanya Sella ketika melihat Byantara bangun dari duduknya dan tiba-tiba berjalan menuju pintu tembusan ke kamar Anggita dan Benji, setelah sejak tadi Byantara duduk di meja nya dan entah apa yang dikerjakan Byantara yang sejak tadi di depan laptop nya itu.


"Aku ingin melihat Benji" sahut Byantara.


"Besok kan bisa! Masak malam-malam begitu kau ke kamar sebelah. Itu kan bukan hanya kamar Benji saja, juga ada Anggita! Bagaimana kalau ada pelayan yang lihat? Bukankah kau hanya akan jadi bahan gosip saja?" protes Sella cemburu.


"Memang siapa yang tahu selain kamu Sella. Aku kan masuk dari pintu tembusan. Memang siapa yang berani gosip tentang aku? Lagipula sejak kapan aku harus mendapat persetujuan mu untuk bertindak? Kau tidak usah coba-coba mengatur aku! Kau kan tahu sendiri kalau aku paling benci dengan orang yang suka mengatur aku!" sahut Byantara yang sama sekali tidak perduli dengan peringatan dari Sella.


Setelah itu Byantara sama sekali sudah tidak memperdulikan Sella, Byantara membuka pintu tembusan itu perlahan dan langsung melangkah masuk ke kamar Anggita dan Benji, dengan mengendap seperti maling, tetapi ketika melihat Benji yang sudah tidur di atas kasur, Byantara langsung duduk di pinggir kasur dan memperhatikan wajah Benji dengan takjub. Baru kali ini dia bisa melihat wajah Benji dengan jelas, tanpa sadar tangannya mengelus pipi Benji yang chubby.


Maafkan ayah mu yang bodoh ini! Mengapa sejak pertama aku tidak mengenal mu, padahal aku sudah memimpikan kamu! Mengapa aku tidak bisa sadar kalau wajah mu yang familiar itu mirip dengan ku? Andai aku mengenal mu lebih awal, mungkin hubungan kita tidak seburuk ini. Mungkin ini hukuman buat aku! sesal Byantara dalam hati.


*********


Setelah puas berendam dan airnya sudah dingin Anggita segera membilas tubuhnya dengan air shower, sesudah itu Anggita segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


Duh aku lupa bawa baju ganti! pikir Anggita yang segera menggulung tubuhnya dengan handuk yang lumayan lebar itu.


Dengan santai Anggita berjalan keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke arah lemari untuk mengambil baju tidurnya yang tadi sudah dia masukkan ke lemari. Karena Benji sudah tidur, Anggita berpikir dia akan memakai baju di kamar saja.


Anggita tidak sadar kalau Byantara dari tadi memperhatikan gerak geriknya, karena dari tadi lampu kamarnya sudah dimatikan dan hanya menyisakan lampu kecil saja. Baru mau melepas handuknya, tiba-tiba Anggita merasa ada yang sedang memperhatikannya. Anggita segera membalikkan badannya, betapa kagetnya Anggita ketika melihat Byantara yang sedang duduk diatas tempat tidur dan sedang menatap ke arahnya dengan intens.


Bersambung............

__ADS_1


__ADS_2