Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Pernikahan yang sebenarnya


__ADS_3

Begitu sampai di bawah terlihat Bu Darmawan yang sedang berbicara dengan Bu Tatik. Sepertinya Bu Darmawan memang sedang menunggu Byantara, Anggita dan Benji untuk turun makan.


Begitu Byantara menurunkan Benji, Benji langsung berlari ke arah Bu Darmawan.


"Nenek, sebentar lagi Benji sudah mau punya adik," ujar Benji senang.


Bu Darmawan yang tadi sedang tersenyum melihat kedatangan Benji, senyumnya langsung hilang dan menatap ke arah Byantara dan Anggita, mencari kebenaran perkataan Benji.


Tampak Byantara tersenyum dan hanya menaikkan bahunya, tidak mau menjawab Bu Darmawan, dan langsung menuju ke tempat duduknya. Akhirnya Bu Darmawan mengalihkan tatapannya ke arah Anggita yang berjalan menunduk dan duduk di samping Benji.


"Benarkah apa yang Benji katakan, Gita?" tanya Bu Darmawan memilih bertanya pada Anggita. Tentu lebih mudah mendapatkan informasi dari Anggita.


Perlahan Anggita menaikkan kepalanya dan menatap kesal ke arah Byantara. Anggita tahu kalau Byantara sengaja bersikap acuh pada sang ibu, dengan demikian Bu Darmawan pasti memilih bertanya padanya.


Semua salahnya! Kalau malam itu mas Byan tidak meniduri ku, aku tidak akan hamil! pikir Anggita kesal. Anggita akhirnya mengangguk pasrah.


Tentu Bu Darmawan merasa senang, satu cucu saja dia sudah senang, apalagi diberi dua cucu. Tapi masalahnya hubungan Byantara dan Anggita sudah bukan suami istri lagi saat ini.


"Nanti kalau sudah selesai makan, kau dan Byantara ke kamar ibu, ibu mau berbicara dengan kalian. Biar Benji sama Bu Tatik dulu." ujar Bu Darmawan.

__ADS_1


"Baik Bu", sahut Anggita patuh dan mengangguk.


*********


"Byantara! Bagaimana kau bisa seperti itu? Melakukan hal itu, tapi status Anggita bukan apa-apa mu! Harusnya kalau kau menginginkan Anggita, kau harus meresmikan hubungan mu dengan Anggita dulu! Jangan berpikir kalau dulu kau adalah suami Anggita, kau bebas melakukan apa pun!" omel Bu Darmawan yang sebenarnya menginginkan agar Byantara dan Anggita segera meresmikan hubungan mereka kembali sebagai suami istri, biar halal.


Tadi di ruang makan, Anggita tidak bebas menjawab, saat ini hanya tinggal mereka bertiga, akhirnya Anggita yang kesal pada Byantara mengadu pada sang ibu kejadian yang sebenarnya.


"Ibu! Bukan Gita yang mulai. Mas Byan yang tahu-tahu muncul di kamar ku dan melakukan hal itu hingga aku hamil. Makanya waktu itu Gita minta agar kamar Gita dan Benji dipasang kunci, karena mas Byan suka masuk dengan seenaknya. Tapi mas Byan cuman janji saja, dan sampai sekarang juga masih tidak dipasang!" protes Anggita.


"Byantara! Kau kok bisa seenaknya begitu?" tanya Bu Darmawan.


"Mas Byan hanya alasan saja! Saat itu kan Sella masih istri mas Byan, mengapa mas Byan melampiaskan nya ke Gita?" malah Anggita yang menjawab perkataan Byantara, karena Bu Darmawan terdiam ketika mendengar jawaban Byantara.


"Tidak Gita, aku tidak asal membuat alasan. Betul kalau Sella sudah memberi obat perang*sang buat ku!" ujar Byantara meyakinkan.


"Kalau benar seperti yang Anggita katakan, kalau saat itu kau masih suami Sella, mengapa kau tidak melampiaskannya pada Sella? Dan mengapa Sella harus memberi mu obat seperti itu?" tanya Bu Darmawan yang merasa aneh dengan jawaban Byantara. Walaupun dia ingin membela Byantara karena berharap Anggita dan Byantara bersatu kembali, tapi kali ini Bu Darmawan bertekad akan menyelesaikan semua masalah sampai tuntas, dan berharap Anggita dan Byantara bisa berbicara dengan pikiran jernih, sehingga tidak ada kesalahpahaman lagi seperti dulu.


Bagaimanapun dalam membina suatu Rumah Tangga, setiap pasangan harus saling terbuka dan jujur agar hubungan bisa langgeng.

__ADS_1


"Baiklah Bu, aku akan menceritakan rahasia hubungan pernikahan ku dan Sella Bu!" ujar Byantara, kali ini Byantara juga ingin agar Anggita tahu keadaan rumah tangganya dengan Sella, agar Anggita tidak salah paham lagi.


**********


"Sudah kedua kalinya Sella memberi obat perang*sang kepada ku. Tapi saat pertama kali, Anggita masih berstatus sebagai istri ku. Bahkan saat itu aku menuduh kalau Anggita yang memberikan obat itu pada ku. Beruntung saat itu aku tidak melakukan apapun dengan Sella Bu, aku melampiaskannya pada Anggita, bahkan menuduh Anggita yang memberi obat itu. Ku harap kau mau memaafkan aku yang sudah menuduh mu saat itu Gita, aku juga menyesal mengapa aku bisa dibutakan oleh Sella, sehingga lebih mempercayai dia saat itu!" ujar Byantara sambil menatap ke arah Anggita. Tampak Anggita hanya diam saja, sedangkan Bu Darmawan hanya bisa menghela nafas.


"Setelah menikah dengan Sella, aku baru tahu kalau Sella bukan gadis suci lagi, Bu. Hal itu membuat aku sulit untuk berhubungan dengan Sella, sudah lama perasaan ku tawar pada Sella. Tapi Sella berkata pada ku, kalau dia sudah dijebak. Akhirnya aku meminta orang untuk mengikuti Sella untuk melihat gerak geriknya. Setelah beberapa bulan akhirnya orang ku menemukan kalau Sella berselingkuh kembali dengan laki-laki lain. Karena itu aku tidak bisa memenuhi permintaan ibu untuk memberikan cucu, pernikahan aku dan Sella hanya di atas kertas saja! Sella yang merasa posisinya terancam sejak Gita kembali, akhirnya menggunakan trik itu lagi, Sella berharap akan segera hamil dan punya anak dari ku. Hal itu yang membuat aku malam itu ke kamar Gita," cerita Byantara mengaku.


"Kau sungguh bodoh Byantara! Mengapa kau tidak menceraikan Sella sejak dulu, saat kau tahu akhlak perempuan itu!" sesal Bu Darmawan.


"Aku belum siap menikah lagi Bu. Aku tahu ibu pasti akan memaksa ku menikah lagi kalau aku bercerai lagi dengan Sella, karena itu aku membiarkan Sella di samping ku. Apalagi saat itu aku berpikir aku sudah berhutang budi pada Sella, ku pikir Sella yang menyelamatkan aku saat aku digigit ular. Sella sendiri juga sering mengingatkan jasanya pada ku, sehingga aku tidak bisa terlalu kejam pada Sella, karena aku merasa tanpa Sella mungkin saja sejak dulu aku sudah tidak ada di dunia ini lagi! Aku baru tahu kalau Anggita lah yang sebenarnya sudah menyelamatkan aku dulu," sesal Byantara.


"Tapi kau tetap saja bodoh Byan! Kau bertahun-tahun harus hidup dengan perempuan seperti itu! Harusnya kau berkata jujur pada ibu!" omel Bu Darmawan kesal dan memukul punggung Byantara berkali-kali karena kesal. Byantara hanya membiarkan sang ibu melampiaskan kekecewaan nya.


"Mungkin itu hukuman buat ku karena sudah menyia-nyiakan Anggita, Bu. Aku yang selalu curiga dengan Anggita, padahal Anggita tidak pernah melakukan kesalahan pada ku. Malah orang yang aku percaya, ternyata adalah pembohong besar. Tapi aku tidak menyesali kehidupan ku yang seperti itu, yang penting Anggita sudah kembali pada ku. Empat tahun itu menjadi waktu buat aku instrospeksi diri Bu!" ujar Byantara.


Byantara kemudian beralih ke Anggita yang dari tadi diam saja dan sama sekali tidak berkomentar apa pun. Byantara segera menghampiri Anggita dan menggenggam kedua tangan Anggita.


"Maafkan aku Gita. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku tahu walaupun aku sudah menjalani hidup ku empat tahun seperti itu, masih tidak sebanding dengan apa yang kau jalani Gita. Kau juga berkata pada ku, kalau kau kini sudah mencintai Sam dan melupakan ku, aku tidak perduli akan semua itu Gita. Yang penting kau kembali pada ku dan bersedia menjadi istri ku kembali. Aku yakin aku bisa membuat kau jatuh cinta pada ku lagi! Aku akan sabar menunggu kau mencintai ku kembali," ujar Byantara menatap ke netra Anggita.

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2