
Malam sudah tiba, para pekerja proyek sudah meninggalkan tempat itu. Tinggallah Ferdi dan Lily di tempat yang gelap itu. Mereka masih menunggu Mahesa dan Delina kembali untuk menjemput mereka.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini," usul Lily melihat sekitarnya yang semakin malam semakin tampak mencekam.
"Apa mungkin tuan dan nona akan kembali kesini menjemput kita?" tanya Lily.
"Bisa jadi," jawab Ferdi singkat.
"Kita bisa menunggunya di tempat yang agak terang. Disini terlalu gelap, tidak ada penerangan," usul Lily.
Keduanya duduk di trotoar jalanan yang minim akan penerangan. Suasana dingin membuat Lily harus melipat lututnya dan mendekapnya. Itu dia lakukan supaya rasa dinginnya berkurang. Tahu sendirikan di Kota Bandung dan di malam hari seperti ini dinginnya kaya gimana.
"Apa tuan dan nona lupa telah meninggalkan kita ya?" tanya Lily menoleh kaarah Ferdi yang dari tadi diam saja.
"Sepertinya senjaga meninggalkan kita lebih tepatnya," tebak Ferdi.
"Lho memang kenapa meninggalkan kita disini?" tanya Lily bingung yang dijawab Ferdi dengan mengangkat kedua bahunya.
Tidak ada obrolan lain setelah itu. Keduanya hanya diam melihat jalanan di depan sana yang masih sangat ramai dimalam hari. Lily menggaruk-garuk tangan dan kakinya karena banyak nyamuk yang menganggunya.
"Sampai kapan kita terus menunggu disini?" tanya Lily masih berusaha membuka obrolan.
"Apa kamu tidak memiliki teman atau saudara di kota ini?"
"Kalau ada kamu bisa menginap disana."
Harus menunggu lama dulu untuk mendengar jawaban dari Ferdi. Pria itu menjawab singkat, "Tidak ada yang aku kenal di kota ini."
__ADS_1
Entah harus bagaimana lagi usaha Lily mengajak Ferdi untuk mengobrol. Memang dalam pekerjaan mereka selama ini hanya berbicara yang penting-penting saja. Tidak pernah keduanya menggobrol lama untuk membicarakan dan mengetahui karakter masing-masing. Berhubungan seperlunya saja menyangkut masalah pekerjaan.
"Wah kayaknya mau hujan," gumam Lily menengadahkan kepalanya ke atas saat mendengar suara petir.
"Kalau hujan bagaimana ini?" tanya Lily yang sudah menengadahkan tangannya karena gerimis sudah turun.
Beberapa menit kemudian, benar saja hujan deras mulai mengguyur daerah itu. Segera Lily dan Ferdi berlari untuk mencari tempat berteduh. Disanalah mereka mulai mendiskusikan apa yang harus mereka lalukan setelah ini. Kerena yakin Delina dan Mahesa tidak mungkin kembali untuk menjemput mereka. Akhirnya mereka berdua pun berpisah.
***
Delina dan Mahesa masih di perjalanan pulang ke Jakarta. Pikiran Mahesa tidak tenang dengan rencana nekat yang dilakukan istrinya itu. Akhirnya Mahesa mencari ponselnya untuk menelepon salah satu diantara Ferdi atau Lily.
"Kenapa enggak diangkat sama Ferdi ya?" gumam Mahesa dalam hati.
Sudah beberapa panggilan dia tujukan kepada Ferdi, namun tidak ada jawaban. Setelah itu dia beralih menelepon ponsel milik Lily dan berharap perempuan itu akan mengangkat teleponnya.
"Ayolah angkat dong teleponnya," ucap Mahesa lirih sembari terus berusaha.
Delina yang tadi sempat tertidur sebentar akhirnya terbangun. Dilihatnya wajah suaminya yang tampak panik dengan beberapa kali menempelkan ponsel ke telinganya.
"Ada apa Sayang?" tanya Delina.
"Kok aku telepon Ferdi dan Lily sama-sama enggak diangkat ya?" jawab Mahesa.
"Aku takut mereka kenapa-kenapa."
Bukannya ikutan panik dan memikirkan jalan keluar. Delina justru cekikikan menertawakan suaminya itu. Sontak Mahesa bingung dengan istrinya yang tertawa diatas kepanikan yang melandanya.
__ADS_1
"Kenapa justru tertawa? Apa kau senang melihat mereka hilang kabar?" kesal Mahesa terus berusaha menelepon.
"Jelas saja tidak akan diangkat oleh mereka. Orang ponsel mereka berdua ada di dalam mobiil kita," ungkap Delina sembari menyodorkan dua ponsel milik Ferdi dan Lily.
"APA?" pekik Mahesa ingin marah rasanya.
Pria itu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi mobil. Mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu menatap sang istri yang entah kenapa hari ini tampak menyebalkan.
"Sayang bagaimana kalau mereka tersesat?" resah Mahesa.
"Enggak mungkin Sayang. Mereka masih punya dompet dan bawa uang. Zaman sekarang sudah ada ceritanya tersesat di jalanan," elak Delina.
"Yang ada tumbuhlah kekompakan diantara mereka karena ditinggal diluar kota," lanjut Delina tetap optimis dengan rencananya.
"Sudah ya percaya sama aku," sambungnya sambil mengelus lengan sang suami yang duduk disampingnya.
Mahesa hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya memijit pelipisnya yang pegal. Entah permintaan maaf seperti apa yang harus dia sampaikan nanti kepada Ferdi dan Lily.
"Pokoknya aku tidak mau tanggungjawab kalau mereka marah kepadamu," ucap Mahesa.
"Mereka tidak akan marah dan justru berterimakasih kepadaku," bangga Delina.
###
Menurut kalian akankah Ferdi atau Lily akan marah karena ulah Delina? Atau benar yang dikatakan Delina bahwa mereka justru akan berterimakasih? Mana yang benar ini 😂
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.
__ADS_1