
Dari kejauhan Robby melihat Gritte yang sedang sibuk dengan laptop dan berkas-berkas yang ada dihadapannya. Kebetulan ruang kerja mereka saling berdekatan dan hanya disekat oleh dinding kaca saja. Jadi dengan mudahnya Robby bisa melihat apa yang sedang dia kerjakan.
"Apa yang harus diwaspadai dari perempuan secantik dia?" gumam Robby menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Palingan Delina hanya cemburu dengannya. Takut suaminya direbut oleh Gritte," gumamnya lagi.
"Tenang saja Delina, sepertinya Gritte tidak akan merebut suami kamu."
Terus saja diam-diam Robby memandang Gritte, namun dia segera mengalihkan pandangannya. Saat Gritte tidak sengaja menatap kearahnya. Begitu saja terus sampai-sampai Gritte curiga dengan apa yang dilakukan asisten dari Mahesa itu.
"Ada apa ya?" tanya Gritte akhirnya. Lama-kelamaan dia merasa terus diperhatikan dan langsung bertanya kepada orang yang sedari tadi memerhatikannya.
"Emm ... e-enggak apa-apa kok," balas Robby terbata.
"Lagi sibuk banget ya?" lanjutnya.
"Kalau sudah agak sengang. Nanti istirahat makan siang bareng bagaimana?"
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Robby langsung sigap mengajak Gritte untuk makan siang bersama. Dan rupanya Gritte menerima tawaran tersebut. Dengan reflek Robby mengepalkan tangan kanannya seraya mengucapkan "Yes!"
__ADS_1
"Oke. Jangan lupa nanti siang ya," pungkas Robby sebelum kembali pada pekerjaannya.
Jujur saja semenjak pertemuan pertama dengan Gritte. Robby sudah ada ketertarikan dengan perempuan itu, bukan karena penampilannya yang terkesan seksi. Melainkan Gritte adalah salah satu perempuan yang menjadi tipenya. Namun, selama itu pula Robby belum sempat dekat dengannya. Karena selama di kantor Gritte selalu sibuk, entah sibuk beneran atau sok pura-pura sibuk.
***
Setelah berjuang melawan sakitnya, kini kondisi Venya sudah membaik dengan sangat pesat. Kakinya sudah bisa digerakkan dan bahkan sudah mulai belajar berjalan. Selain karena tekad dan usahanya untuk sembuh, tentu saja karena dukungan dari sang adik ipar yang tiada henti mendukungnya.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Delina yang mendorong kursi roda Venya.
"Kita ke toko baju terlebih dahulu," jawab Venya.
Mereka sudah sampai disebuah mall ternama di ibukota. Karena alasan terlalu suntuk di rumah terus. Venya mengajak Delina pergi ke mall. Menurut Venya, adik iparnya itu sangat jarang pergi ke mall untuk berbelanja kebutuhan pribadinya.
"Mau beli baju, Kak?" tanya Delina.
"Iyalah," jawab Venya singkat.
Untuk permasalahan yang diceritakan Robby. Delina memilih tidak ambil pusing dan dia bawa santai saja. Mungkin memang saat itu Venya masih sangat kesal terhadapnya. Tetapi Delina sendiri melihat banyak perubahah sikap pada diri Venya setelah perempuan itu mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh sementara.
__ADS_1
"Delina ... ambil baju itu," perintah Venya menunjuk sebuah baju warna merah yang tergantung tidak jauh dari posisinya.
"Ini Kak?" tanya Delina bingung tetapi tetap mengambil baju yang ditunjuk Venya.
Disisi lain ada seorang pria yang terus mengintai mereka. Pria brerpakaian serba hitam itu bersembunyi dibalik jejeran pakaian. Sembari sesekali mengintip aktivitas yang sedang dilakukan Delina dan Venya.
"Masuk bos," ucapnya melalui sebuah alat komunikasi yangh terpasang ditubuhnya.
"Saya sudah memata-matai istri dari Mahesa," lanjutnya melaporkan.
"Saat ini dia sedang berada di sebuah mall."
Rupanya orang tersebut memang sengaja memata-matai Delina. Semenjak Delina berangkat dari rumah sampai saat ini. Ya, pria itu memang ditugaskan untuk mencaritahu siapa istri dari Mahesa. Dan karena informasi yang didapatkan dari seseorang, salah satu kelemahan Mahesa adalah keluarganya. Makanya orang itu fokus mencari salah satu anggota keluarganya yang nantinya akan menjadi sasarannya.
"Terus cari tahu tentang keluarganya," perintah suara dari seberang sana.
###
Eh eh eh ada apalagi ini? Siapa mereka dan apa tujuan mereka memata-matai Delina? Waaaaaaahhhh
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.