
Di ibukota Delina sedang merengek untuk dipertemukan dengan kakaknya. Dia terus meminta Mahesa memberikan alamat dimana lokasi perusahaan cabang di Kota Surabaya. Jika Mahesa tidak mau mengantarkannya, maka dia sendiri yang akan berangkat ke Surabaya.
"Ayolah, Sayang. Kita bisa honeymoon sebentar disana," ucap Delina.
"Apakah kau tidak kasian dengan aku yang sudah merindukan kakak aku sendiri?" lanjt Delina.
"Aku ingin mengabarkan kepada Kak Ferdi kalau nenek kita masih ada dan sedang dalam pencarian," imbuhnya.
"Kau bisa menyampaikannya lewat telepon, Sayang. Kau tidak perlu datang langsung kesana," balas Mahesa yang pura-pura sibuk dengen pekerjaannya.
"Sayang! Apakah kau lupa?" sentak Delina.
"Kak Ferdi tidak pernah mengangkat teleponku lagi sejak kejadian itu."
Mungkin hampir setiap hari Delina berusaha menelepon Ferdi. Namun, sepertinya pria itu sengaja tidak pernah mengangkat teleponnya. Karena memang sebenarnya Ferdi telah mengganti nomer telepon untuk kesehariannya di Surabaya. Sedangkan nomernya yang terdahulu dia biarkan dan tinggalkan di apatermen setiap hari.
"Ya, mungkin Ferdi masih butuh ketenangan diri. Jadinya enggak mau angkat telepon kamu," cicit Mahesa.
"Maka dari itulah aku harus menemuinya dan meminta maaf kepadanya, Sayang," ucap Delina.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau memberikan alamatnya dan tidak mau mengantarkan aku kesana. Aku akan berangkat sendiri," ancamnya.
"Iya ... iya ... Sayang, nanti ya kalau pekerjaan sudah longgar kita ke Surabaya."
Yang terjadi sebenarnya adalah Ferdi dan Mahesa sekongkol untuk tidak membawa Delina ke Surabaya dulu. Pesan dari Ferdi untuk tidak mempertemukan Delina dengannya sampai waktu yang ditentukan. Takutnya adik kandungnya itu menuntut tentang pasangan dan mengatur kehidupannya lagi.
***
Usai dengan semua pekerjaan yag cukup melelahkan hari itu. Ferdi ikut dengan Vitta untuk makan malam. Namun, kali ini makan malamnya sedikit berbeda. Tidak di restoran mewah atau di restoran cepat saji yang biasa Ferdi kunjungi. Melainkan di warung pedagang kaki lima yang mangkal di pinggir jalan.
"Anda tidak apa-apa makan di tempat seperti ini?" tanya Vitta disela-sela makannya.
"Tidak masalah. Dulunya aku juga orang susah kali," balas Ferdi tersenyum menanggapi.
"Kau masih ingatkan saat itu aku menjadi asisten dari suaminya Delina?" lanjut Ferdi bertanya.
Vitta menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ferdi. Memang seingat dia, Ferdi hanyalah seorang asisten. Tetapi kenapa sekarang dia bisa menjadi petinggi perusahaan ternama di kotanya.
"Kau tidak penasaran kenapa aku bisa menjadi seperti ini?" tanya Ferdi.
__ADS_1
"Tentu saja saya penasaran bagaimana ceritanya," balas Vitta.
Diceritakannya sedikit latar belakang dia bisa mendapatkan posisi seperti saat ini. Mereka bercerita sembari menikmati ayam bakar yang mereka pesan. Duduk di trotoar jalan dengan suasana malam Kota Surabaya.
"Pantas saja Anda miri sekali dengan Delina," ucap Vitta mengingat-ingat wajah sahabatanya.
"Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan Delina. Terakhir kali saat dia menginap di rumah saya dan saya membocorkan keberadaannya kepada Anda," ceritanya.
"Pasti dia sangat marah dan kecewa kepada saya saat itu."
Ferdi hanya tersenyum menanggapi. Tampaknya pria itu sangat menikmati hidangan sederhana yang menjadi menu makan malam mereka.
"Oh iya, ngomong-ngomong kenapa beberapa hari yang lalu. Anda tidak mengangkat telepon dari adik Anda?" tanya Vitta penasaran.
"Bahkan sering sekali telepon darinya Anda abaikan."
Satu hal yang membuat Vitta bertanya-tanya. Setiap kali dia sedang membersihkan apatermen milik Ferdi. Sering sekali melihat ponsel yang selalu ada di atas meja kerjanya berdering. Vitta sempat melihat siapa pemanggil telepon itu. Dan rupanya Delina, yang ternyata adik kandung Ferdi. Namun, pria itu tidak pernah terlihat mengangkat telepon itu.
###
__ADS_1
Bagi Vitta masih teka-teki Ferdi jarang mengangkat telepon dari Delina. Padahal dia sendiri sangat merindukan sahabatnya itu.
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.