
Setibanya di Pulau Bali, orang yang pertama kali dikenal Delina adalah Bram. Saat itu Bram mendapati Delina sedang kelelahan dengan wajah pucat. Akhirnya pria itu mengajak Delina untuk istirahat di sebuah kedai dan disanalah Bram menggali informasi mengenai Delina.
"Aku memiliki sebuah rumah kosong ditepi kota, apakah kau mau tinggal disana?" tanya Bram memberi penawaran.
"Jika kau merasa sungkan. Kau boleh membayar kontrakannya setelah kau memiliki uang nantinya," lanjutnya.
Selain menawarkan tempat tinggal untuk Delina. Bram juga memberikan pekerjaan untuk perempuan cantik yang baru saja dikenalnya. Kebetulan Bram adalah pemilik agen travel yang terkenal di Bali. Sudah memiliki banyak klien dari berbagai kota maupun negara.
"Te-terima kasih banyak, Tuan," ucap Delina gugup dengan kebaikan Bram.
"Jangan memanggilku Tuan. Panggil saja Bram." Pria itu menyodorkan tangannya ke hadapan Delina.
Kehidupan baru Delina pun dimulai. Dengan giat Delina bekerja di agen travel milik Bram. Sampai-sampai membuat Bram takjub dengan cara kerja Delina.
"Delina kamu hebat sekali bisa mencari klien sebanyak ini," puji Bram sembari tepuk tangan.
"Jika kau konsisten seperti ini terus, aku akan memberikan banyak bonus untukmu," lanjutnya.
Delina menyambut baik tawaran dari bosnya itu. Hubungan Delina dan Bram pun semakin dekat karena pekerjaan mereka. Lama kelamaan yang nama pria lajang dekat dengan seorang perempuan, pastilah timbul sedikit perasaan. Awalnya cuma sedikit saja, namun lama kelamaan perasaan itu tumbuh besar.
"Delina kenapa kau terlihat pucat? Apakah kau sedang sakit?" tanya Bram perhatian.
"Kalau sakit pulanglah ke rumah. Jangan dipaksakan," pesannya.
__ADS_1
"Emh .., e-enggak a-apa-apa kok," kilah Delina lanjut bekerja di depan laptop untuk menyusun laporan perjalanan klien.
Diam-diam Bram terus memperhatikan Delina. Terkadang curi-curi pandang kepada perempuan itu. Tidak jarang juga Bram membelikan Delina makanan kesukaannya atau mengajaknya makan diluar kantor. Seperti siang itu, Bram membelikan makanan untuk Delina melalui delivery.
"Ini makanlah," ucap Bram menaruh sebuah kotak makanan di atas meja Delina.
Baru saja hendak berbalik dan meninggalkan Delina. Tiba-tiba perempuan itu lemas dan jatuh menyandarkan tubuhnya ke atas meja dihadapannya.
"Delina!" teriak Bram panik.
Delina yang pingsan segera dibawa ke klinik terdekat dari kantor. Setelah menunggu pemeriksaan beberapa saat kemudian Bram menemui dokter. Kata dokter Delina mengalami anemia, padahal dia sedang hamil. Oleh karena itu, Delina menjadi pucat dan pingsan.
"Baiklah dokter. Saya akan menyuruhnya banyak makan makanan bergizi," pungkas Bram sebelum keluar dari ruang dokter.
Sebenarnya Bram sangatlah terkejut mengetahui Delina sedang hamil. Selama ini Delina tidak pernah menceritakan latar belakang dan statusnya. Bram yang mengira Delina masih gadis, ternyata sudah pernah menikah pun menjadi sedikit kecewa.
**
"Tidak Bram," tolak Delina dengan tegas.
"Kenapa?"
"Pokoknya aku tidak ingin menikah lagi!"
__ADS_1
Delina langsung beranjak pergi dari hadapan Bram. Perempuan dengan perut yang sudah membuncit itu sedikit kesal dengan Bram. Karena sudah berani menanyakan hal yang seharusnya tidak dia tanyakan kepada Delina.
"Siapakah ayah dari anak dalam kandungamu?" tanya Bram penasaran.
"Kau tidak perlu tahu," teriak Delina menjawab karena posisi mereka berjauhan.
Bagi Bram tidak apa-apa ditolak Delina untuk pertama kalinya. Manurutnya masih ada banyak kesempatan untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Delina. Salah satunya dengan lebih perhatian baik kepada Delina atau pun kepada anaknya nanti.
***
Tiba saatnya Delina harus melahirkan dan tetap Bram yang berada didekatnya. Dengan setia dan telaten Bram mengantarkan Delina ke rumah sakit untuk proses persalinan. Jika orang lain melihatnya mungkin akan mengira Bram adalah suami siaga bagi Delina. Nyatanya pria itu hanya dianggap bos sekaligus sahabat bagi Delina.
"Terima kasih banyak, Bram sudah banyak membantuku disegala kondisi," ucap Delina.
"Sama-sama Delina," balasanya.
Target selanjutnya adalah merebut hati anaknya Delina agar dekat dengannya. Jika sudah dekat dengan anaknya, maka akan mudah mendekati ibunya. Begitulah yang ada dipikiran Bram.
"Anakmu tampan sekali," puji Bram menatap wajah anak Delina. Perempuan yang masih lemas diatas tempat tidur itu pun hanya tersenyum menanggapi.
###
Apakah Bram berhasil menaklukkan anaknya Delina sebelum menaklukkan hati ibunya? Kira-kira kalau Mahesa tau niat Bram apa yang akan dilakukan ya? Dan Mahesa sendiri apa bisa dekat lagi dengan Delina? Apa langkah yang akan diambil Mahesa?
__ADS_1
Eh kan aku sudah bilang. Kita buat Mahesa gantian berjuang untuk Delina. Dan kita lihat seberapa besar perjuangannya. Bisa enggak kira-kira?
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.