Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Terlambat Pulang


__ADS_3

Setelah tahu mengenai kelemahan Mahesa yaitu keluarganya. Pria itu memang tidak bisa jauh dari keluarga inti terutama anak dan istrinya. Hal tersebut digunakan Gritte untuk menganggu rumah tangga dari tuan mudanya itu. Beragam cara Gritte lakukan agar Mahesa tidak terlalu mengutamakan keluarganya.


"Tuan jangan pulang dulu. Aku bisa memastikan tamu kita akan datang dalam lima menit kedepan," ucap Gritte sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Dari tadi kamu bilang dia akan datang lima menit lagi. Perasaan ini sudah berjam-jam aku menunggu, namun dia tak datang juga. Mau sampai kapan?" kesal Mahesa.


"Tunggulah sebentar lagi ya Tuan," bujuk Gritte sembari tersenyum.


Rencananya Gritte mengajak Mahesa untuk bertemu salah satu rekan kerjanya yang akan menanamkan modal yang sangat besar di perusahaan mereka. Rekan kerja yang dimaksud adalah orang yang katannya sudah memiliki beberapa perusahaan besar di tanah air. Awalnya Mahesa mengiyakan, namun lama-kelamaan pria itu jengah menunggu tanpa kepastian.


"Ah sudahlah aku harus kembali pulang," gerutu Mahesa yang mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Robby akan menggantikan aku," lanjutnya.


"Te-tapi Tuan, beliau ingin bertemu dengan pemilik perusahaannya langsung," cegah Gritte.


"Aku tidak bisa. Kalau mau silahkan bicarakan semuanya dengan Robby. Dia adalah tangan kananku," balas Mahesa dengan ekspresi datar.


Setelah mengatakan itu Mahesa melenggang pergi dari hadapan Gritte. Ada rasa kesal yang menyelimuti hati Gritte, namun ada rasa puas dan bahagia bisa sedikit mengerjai tuan muda itu. Ya, ternyata pertemuan yang akan diadakan itu hanyalah akal-akalan saja supaya Mahesa bisa menunda kepulangannya ke rumah.


Gritte tersenyum licik sembari menutup mulut dengan telapak tangannya. Kemudian dia bergumam, "Emang enak dikerjain?"


"Hai, Gritte. Apakah tamunya sudah datang?" tanya Robby yang sudah tiba di ruangan itu.


"Apakah kau tidak bisa melihat bahwa aku sendirian di ruangan ini?" jawab Gritte sekenanya.


"Dan sepertinya tamunya tidka jadi datang," pungkasnya seraya membawa beberapa berkas dan bergegas meninggalkan Robby di ruangan itu.


***

__ADS_1


"Sayang maafkan aku," ucap Mahesa dengan napas ngos-ngosan.


"Aku harus bertemu seseorang dulu tadi," imbuhnya yang berusaha mengatur napasnya agar normal.


"Maafkan aku ya Sayang." Mahesa berjalan mendekat kearah istrinya.


Di depan meja rias sudah duduk Delina yang sudah siap dengan dress cantik berwarna merah marun. Wajah dan rambutnya juga sudah rapih dan cantik. Namun wajah cantiknya berubah menjadi wajah yang penuh kekesalan dan mulut yang sudah mengerucut. Tangannya juga sudah terlipat di depan dadanya.


"Hei, Sayangku," goda Mahesa yang sudah berada di dekat Delina.


"Sekarang sudah betah ya di kantor. Sudah ada cewek cantik sih disana," sindir Delina.


"Enggak usah pulang saja sekalian!" ketus Delina.


"Sayang aku beneran deh. Aku harus menunggu tamu dulu tadi. Karena tamu datangnya kelamaan, aku tinggal pulang duluan," ucap Mahesa berusaha menjelaskan.


"Halah alasan!" bantah Delina.


"Maafkan aku ya," lanjutnya meminta maaf.


Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga empat tahun. Keduanya sudah merencanakan makan malam untuk merayakan hari itu. Mahesa juga sudah membelikan hadiah untuk istri tercintanya. Namun, semua gagal karena Mahesa yang terlambat pulang.


"Sayang aku mandi sebentar ya, habis itu kita berangkat," ucap Mahesa hendak beranjak ke kamar mandi.


"Enggak usah! Aku sudah tidak ingin pergi keluar rumah!" ketus Delina.


"Te-tapi Sayang. Kan kita mau merayakan anniversary kita," ucap Mahesa.


"Sudah enggak mood!"

__ADS_1


Tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi. Mahesa melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang masih duduk di depan meja rias. Langsung didekap istrinya itu dari belakang, ditempelkannya kepalanya pada ceruk leher istrinya.


"Sayang maafkan aku," lirihnya perlahan.


Semakin dia tempelkan wajahnya ke wajah istrinya. Menatap mata cantik istrinya yang selalu membuatnya jatuh cinta saat menatap mata itu. Ya, tidak pernah sekali pun Mahesa tidak jatuh cinta saat menatap mata cantik itu.


"Ih apaan sih. Sana jauh-jauh dariku," sentak Delina berusaha melepaskan diri dari suaminya.


Tanpa ampun justru Mahesa mengeratkan pegangannya pada tubuh istrinya. Jelas saja Delina tidak dapat terlepas dari pegangan Mahesa. Karena tubuh suaminya dua kali lipat dari tubuhnya.


"Jangan dekat-dekat denganku!" ulang Delina kesal.


Bukan Mahesa namanya kalau pria itu tidak nekat. Justru dia langsung meraih tubuh istrinya dan membopongnya dan menaruhnya di atas tempat tidur. Sementara satu tangannya mengenggam dua tangan Delina agar tidak bisa kabur darinya.


"Aku sudah meminta maaf kepadamu Sayang. Tetapi tampaknya kau tidak mendengarkan maafku," ucap Mahesa tersenyum menyeringai.


Disingkapnya drees cantik yang membalut tubuh istrinya. Tanpa izin Mahesa langsung menikmati satu persatu tubuh istrinya yang sedang marah itu. Ya, begitulah yang sering dilakukan Mahesa tatkala istrinya sedang marah. Bagi mereka $3ks adalah salah satu kunci memperbaiki hubungan mereka.


"Ah siaal!" gerutu Mahesa saat sedang enak-enaknya dan hampir menuju puncak.


Niatnya menuju puncak gagal sudah ketika ponselnya terus berdering. Dia mencoba mengabaikan ponselnya sampai bisa menuntaskan semuanya. Tetapi belum sampau menuntaskannya Delina meminta suaminya untuk mengangkat telepon terlebih dahulu. Mungkin telepon penting.


"Apa meninggal dunia?" teriak Mahesa dengan sangat terkejut. Matanya membulat sempurna ketika mendengarkan telepon dari orang diseberang sana.


"Baiklah aku akan segera kesana," imbuhnya.


###


Oi siapa yang meninggal dunia? Kok jadi Mahesa langsung meninggalkan istrinya.

__ADS_1


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.


__ADS_2