Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Mengaku-ngaku


__ADS_3

"Kita harus segera mendapatkan pembagian keuntungan saham dai perusahaan itu," ucap seorang pria berperawakan tambun kepada orang di sampingnya.


"Yakin kita akan bertindak secepat ini bos?" tanya orang di sampingnya. Yang tampaknya adalah anak buah dari orang tersebut.


"Secepatnya kita harus segera mendapatkan saham itu," lanjut orang itu.


Disebuah rumah mereka sedang menyusun rencana untuk menjalankan aksi mereka. Setelah beberapa hari terakhir menyelidiki mengenai segala hal orang yang menjadi sasaran mereka.


"Aku harap semua rencana kita berjalan dengan lancar tanpa hambatan," harap pria tersebut.


"Semoga seperti apa yang diharapkan bos. Tetapi yang perlu Anda ketahui, istrinya adalah perempuan yang sangat cerdas," sahut bawahannya.


Pria itu menyunggingkan senyuman sinis, "Halah secerdas apa dia? Kau tahu kan aku bisa menaklukkan perempuan manapun?"


"Setahu saya, istrinya sudah berhasil menggagalkan beragam kejahatan yang ingin menjatuhkan perusahaan mereka. Dulunya Tuan Thomas juga sangat menyukainya," jelas bawahan itu.


"Kau tenang saja. Kita sudah mengetahui kelemahan mereka semua," sahut atasannya.


"Semua mudah saja dan kita tinggal beraksi."


Bawahan itu hanya bisa menganggukkan kepalanya menerima perintah atasannya. Dan minggu depan mereka siap mendatangi perusahaan yang dimaksud untuk meminta pembagian keuntungan saham.


***

__ADS_1


"Bagaimana Rob. Sudah kau selesaikan tugasmu?" tanya Mahesa yang mendatangi meja kerja Robby.


"Hmmm ... sudah ada sedikit titik terang Tuan. Tetapi saya belum yakin sepenuhnya," jawab Robby sembari menatap atasannya.


"Beri saya waktu untuk memastikannya, Tuan. Secepatnya saya akan memberikan kabar baik kepada Anda," lanjut Robby.


Tidak lama dari percakapan itu. Terdengar dering telepon dari meja kerja Robby. Segera pria itu mengangkat panggilan telepon. Yang ternyata terhubung dengan bagian resepsionis.


"Tuan Mahesa ada rapat tiga puluh menit lagi. Suruh tamu itu menunggu selama kurang lenih satu setengah jam. Atau adakan janji pertemuan dilain waktu," ucap Robby.


"Tamu memaksa bertemu Tuan Mahesa sekarang juga. Mereka akan menyampaikan sesuatu yang penting katanya. Dan tidak akan lama bertemu dengan Tuan Mahesa," balas resepsionis.


Robby pun mengiyakan pertemuan tersebut, setelah mendapatkan persetujuan dari Mahesa dengan syarat pertemuan mereka tidak lebih dari tiga puluh menit. Akhirnya mereka menunggu di ruang kerja milik Mahesa dan bertanya-tanya mengenai siapakah tamu yang datang secara mendadak ini.


"Kenapa mereka memaksa sekali?" ucap Mahesa.


"Entahlah Tuan. Mungkin mereka mengira semudah itu kerjasama dengan perusahaan ini," ucap Robby meremehkan.


"Palingan mereka akan menyerah dan tidak sanggup memenuhi persyaratan kerjasama kita," lanjut Robby.


Tidak lama berselang pintu ruangan itu diketuk. Robby membukakan pintu, disana sudah ada salah satu perempuan yang bertugas sebagai resepsionis. Dan dua pria asing yang sama sekali tidak dikenal baik oleh Robby ataupun Mahesa.


"Perkenalkan saya Michel," ucapnya menjulurkan tangan ke hadapan Mahesa.

__ADS_1


"Saya adalah adik dari Thomas," lanjutnya memperkenalkan diri.


"Saya dengar kakak saya memiliki setengah saham di perusahaan ini. Dulu sempat terjadi marger perusahaan Anda dengan perusahaan kakak saya kan?" tutur Michel.


"Kedatangan saya kemari ingin mengambil hak saya sebagai ahli waris satu-satunya dari Thomas."


Mahesa dan Robby terperanjat kaget dengan penuturuan pria yang sudah duduk pada sofa dihadapan mereka. Sontak Mahesa dan Robby saling melempar tatapan yang sulit untuk diartikan. Jelas saja mereka tidak percaya dengan omongan Micle tersebut.


"Maaf. Siapa nama Anda? Michel?" sahut Robby.


"Saya rasa saya tidak pernah mengenal nama Anda dalam jajaran keluarga dan ahli waris Pak Thomas," sambungnya.


Bahkan Robby baru mendengar nama itu saat ini. Dia tidak mungkin lupa dengan apa yang sedang dia selidiki. Makanya dia berani membantah langsung dihadapan orang yang bersangkutan.


"Jadi kau tidak percaya aku adik Thomas?" ucapnya tersenyum sinis.


"Iya. Kau harus bisa membuktikannya jika kau benar-benar adik dari Pak Thomas," sahut Mahesa angkat bicara.


###


Apakah mereka benar adik dari Thomas dan bisa membuktikannya? Yuk terus baca yaaa.


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2