
Beberapa hari kemudian.
Robby teringat saat Gritte keceplosan bahwa dia hanya menjadi suruhan untuk mendekati Mahesa. Saat itu Robby sudah memaksa perempuan itu untuk jujur, tetapi dia langsung kabur. Sehingga Robby menyimpulkan memang benar apa yang diucapkan Gritte saat keceplosan itu.
"Kemana dia? Tumben belum datang ke kantor? Apa dia tidak masuk?" gumam Robby memasuki ruang kerja Gritte pada jam istrirahat siang.
"Padahal dia cantik lho," gumam Robby memuji seraya berjalan kearah meja kerja Gritte.
Dilihat-lihatnya sekeliling meja kerja tersebut. Dan matanya menangkap berkas dengan data diri milik seseorang yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya. Langsung saja Robby membuka berkas-berkas tersebut dan membacanya satu persatu.
"Yang benar saja? Ini kan data diri Michel? Kenapa ada di ruangan ini? Sementara hanya aku dan Tuan Mahesa saja yang mengetahui permasalahan dengan Michel," gumam Robby.
"Jangan-jangan memang benar ..."
Selama ini hanya mereka berdua saja yang tahu mengenai Michel yang terus menuntut untuk mendapatkan harta yang ditinggalkan Thomas dari perusahaan itu. Sedangkan Gritte sebagai sekertaris Thomas belum diberitahu mengenai hal ini. Tetapi kenapa bisa ada berkas milik Michel yang ada di mejanya.
"Sudah pasti dugaan Tuan Mahesa benar," ujarnya mengenggam berkas itu dan membawanya keluar dari ruangan itu.
"Aku harus segera menyampaikan ini kepada Tuan Mahesa," imbuhnya.
Dengan langkah kakinya yang tergesa-gesa, Robby mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan setelah diizinkan. Sedikit menganggu atasannya yang memang sedang sibuk. Tetapi hal yang akan dia sampaikan jauh lebih penting.
"Permisi, Tuan. Saya sudah mendapatkan bukti mengenai Gritte yang rupanya seperti apa yang menjadi dugaan Anda," ucap Robby.
__ADS_1
"Silahkan dibaca, Tuan. Berkas ini ada di meja kerjanya," lanjutnya menyerahkan berkas tersebut.
Mahesa yang tadi sibuk dengan laptopnya lalu mengalihkan pandangannya kepada Robby. Tangannya meraih berkas yang diberikan Robby. Lalu matanya membaca dengan teliti isi dari berkas tersebut.
"Jadi begini ceritanya, Tuan." Robby memulai penjelasannya dari semenjak Gritte keceplosan, sampai tingkah yang mencurigakan, dan yang terakhir dari bukti yang ditemukan di meja kerjanya. Memang belum ada bukti nyata pertemuan antara Gritta dan Michel, namun dari hasil tersebut semua sudah bisa disimpulkan.
"Br3ngs3k!" umpat Mahesa marah.
"Jadi perempuan siialan itu benar-benar bekerjasama dengan Michel," marahnya.
"Bawa dia kehadapanku sekarang juga!" perintahnya.
Segera Robby merogoh ponsel dari saku celananya dan berusaha menelepon Gritte. Berulang kali Robby menelepon, namun tetap saja tidak diangkat oleh Gritte. Beberapa pesan singkat pun juga sudah dikirimkan, namun tetap tidak ada balasan.
"Baik Tuan," balas Robby yang langsung melaksanakan tugasnya.
Setiap karyawan di perusahaan tersebut harus menyertakan nomer telepon rumah. Tetapi sama dengan nomer ponselnya, telepon rumah Gritte tidak ada yang mengangkat.
"Cari ke rumahnya! Bawa dia kehadapanku!" perintah Mahesa.
Robby mengernyitkan alisnya saat mendengar perintah tuan mudanya. Agak terlalu berlebihan jika harus mencari ke rumahnya. Dan sebenarnya Robby masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Kenapa tidak menyuruh karyawan lain untuk ke rumah Gritte.
"Te-tapi Tuan," ucap Robby hendak protes.
__ADS_1
"Saya harus---" lanjutnya terpotong.
"Cepat lakukan!" tegas Mahesa.
Tiba-tiba dering ponsel miliki Robby terdengar. Berharap itu adalah telepon dari Gritte agar dia tidak susah-susah menyambangi rumahnya. Dengan cepat Robby mengangkat ponselnya yang berdering.
"Nona Delina belum pulang semenjak pergi ke supermarket. Sudah lebih dari jam sembilan tadi," ucap seseorang diseberang telepon mengabarkan.
"Ponselnya tidak dapat dihubungi, sedangkan Baby El terus merengek mencarinya," lanjut salah satu pelayan yang menelepon Robby.
"Apa dia pergi sendirian? Dimana Lily?" sahut Mahesa yang langsung merebut ponsel dari tangan Robby.
"Tadinya pergi bersama Lily tetapi dia juga tidak bisa dihubungi, Tuan," balas pelayan.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang dan kata pelayan tersebut Delina pergi sejak jam sembilan pagi. Waktu yang sangat lama jika dibandingkan saat-saat biasanya Delina pergi ke supermarket. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah nomer teleponnya tidak bisa dihubungi. Mahesa tampak frustasi mendengarkan kabar tersebut.
"Astaga! Ada apalagi ini Tuhan," ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
###
Kemana perginya Delina ya? Apa dia baik-baik saja atau sebaliknya?
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.
__ADS_1