
Tidak sengaja saat Delina melewati kamar yang biasa ditemapti bayi, anak dari Clarissa. Delina menoleh dan mendapati bayi yang terbaring di atas sofa. Dalam hitungan detik Delina langsung berlari untuk meraih bayi yang hampir saja jatuh ke lantai itu.
"Uh ... hampir saja," gumam Delina lega bisa menyelamatkan bayi tak bersalah itu.
"Kemana ini pengasuhnya?" tanyanya sembari menggendong bayi yang sedang nangis itu.
Delina segera menimang-nimang bayi itu dan membawanya keluar dari kamar. Dilihatnya lekat-lekat wajah sang bayi yang katanya anak kandung dari Mahesa. Wajahnya memang cantik, imut, dan menggemaskan. Tetapi lebih mirip ke Clarissa sebagai ibunya.
"Nak, itu anakmu? Aku ingin menggendong cicitku," ucap Nenek Suti yang kebetulan sedang berjemur.
"Ehm ... bukan, Nek. Anak aku masih di atas," jawab Delina mendekati neneknya.
"Oh pasti ini anak temanmu itu ya?" lanjut Nenek Suti sok tahu.
Delina bingung ingin menjawab apa, dia pun terdiam dan tak ingin mengatakan apa pun kepada sang nenek. Biarkan saja neneknya tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangganya.
"Wah, cantik sekali anak temanmu ini," puji Nenek Suti saat Baby Sahira berada di pangkuannya.
__ADS_1
"Aduh ... namanya siapa ini? Cocok ini kalau dijodohkan dengan anakmu, Nak," celetuk Nenek Suti yang tidak mendapatkan respon dari Delina.
"Pasti ibunya juga sangat cantik. Seperti cucuku yang tampan karena papanya juga sangat tampan."
Senyuman kecil melintas dari bibir Delina. Dia tidak bisa berkata dan menanggapi apa pun atas ucapan sang nenek. Meskipun dalam hatinya selalu sakit ketika tahu latar belakang bayi tersebut. Tetapi dia kembali luluh atas ucapan Lily yang selalu dia ingat-ingat.
"Nona, orang tuanya memang bertindak salah. Tetapi bayi tidak tahu apa-apa dengan semua perbuatan orang tuanya," pesan Lily.
"Kita boleh membenci orang tuanya. Tetapi jangan pernah membenci anaknya. Karena anak juga tidak bisa memilih dari rahim siapa dia akan dilahrikan."
Sejak saat itulah sedikit demi sedikit Delina bisa menerima bayi tersebut dalam kesehariannya. Terutama saat tidak ada suaminya di rumah, Delina bisa melihat bayi kecil itu sekilas lalu meninggalkannya. Atau terkadang mengajak bayi perempuan itu untuk bermain dengan Baby El.
Delina kembali menoleh sekilas kearah neneknya yang bahagia dengan Sahira di pangkuannya. Tampaknya neneknya sangat menyukai bayi kecil itu.
***
Sore hari saat Delina berada di dalam kamarnya. Satu mobil polisi datang lagi ke rumahnya. Segera Delina berlari keluar kamar dan mencari tempat persembunyian untuk mendengarkan apa yang disampaikan polisi tersebut.
__ADS_1
"Selamat sore. Saya hanya ingin menitipkan surat untuk Tuan Mahesa," ucap polisi tersebut menyodorkan sebuah amplop putih.
"Terima kasih, Pak. Akan saya sampaikan kepada Tuan Mahesa," jawab pelayan yang membuka pintu.
Hanya itu saja yang disampaikan pihak kepolisian ke rumah Mahesa. Delina segera kembali ke kamarnya setelah tahu apa yang terjadi. Dia pikir paling surat panggilan untuk sidang perkara atas perbuatan Clarissa.
"Ehm ... tetapi kalau surat panggilan sidang perkara. Bukankah Pak Hendra yang biasanya menyampaikan kepada Mahesa?" gumam Delina bertanya-tanya sendiri.
"Lalu surat apa ya yang tadi siang diberikan untuknya?"
Tiba-tiba saja di malam hari Delina kepikiran dan penasaran dengan surat dari polisi untuk Mahesa. Memang biasanya kalau untuk surat panggilan sidang selalu melalui kuasa hukum keluarga itu, yaitu Hendra.
"Ah ... sudahlah. Itu hanya surat panggilan sidang Delina. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ayo tidur!" ucap Delina menenangkan dirinya sendiri supaya biasa tidur dan tidak terlalu kepikiran.
###
Memang benar gitu itu hanya surat panggilan sidang? Tampaknya bukan hanya surat panggilan saja deh. Coba kita lihat saja apa yang terjadi nantinya.
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.