
Beberapa minggu Ferdi tidak berkunjung ke lapas untuk menemui Mahesa. Tujuannya supaya tuan mudanya bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Meskipun Ferdi juga paham, pasti selama masa-masa itu Mahesa sangatlah frustasi.
"Selamat siang, Tuan," sapa Ferdi. Tak mendapatkan jawaban dari Mahesa, Ferdi pun langsung mendudukkan dirinya di sebuah kursi.
Benar rupanya dugaan Ferdi, akibat frustrasi berat. Penampilan Mahesa terlihat sangat berbeda. Rambut di kepalanya sudah memanjang dan jambang mulai tumbuh menghiasi bagian dagunya.
"Saya mohon dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu, Tuan," ucap Ferdi membuka topik pembicaraan. Mahesa sudah mendaratkan tubuhnya pada kursi yang berhadapan dengan Ferdi. Sebuah meja menjadi pembatas diantara mereka.
"Mengenai dugaan Anda tentang saya yang menyukai Nona Delina."
Jika dulu Ferdi mengatakan itu, Mahesa langsung menamparnya habis-habisnya. Berbeda dengan saat ini, pria itu diam tanpa reaksi. Namun, tetap saja tatapannya menyiratkan kebencian kepada Ferdi.
"Sebelumnya saya meminta izin untuk bercerita tentang kejadian ini agar tidak ada kesalahpahaman, Tuan."
Meskipun tidak ada respon dari Mahesa. Ferdi tetap akan menyampaikan semuanya. Dia juga kepikiran telah membuat tuan mudanya begitu kecewa bahkan membencinya. Makanya Ferdi nekad akan memberikan klarifikasi.
"Sejak pertemuan pertama dengan Nona Delina, saya sudah memiliki ketertarikan terhadap gadis itu, Tuan," ungkap Ferdi jujur.
"Sebagai lelaki normal, perempuan seperti Nona Delina adalah perempuan idaman saya. Penampilannya natural namun terlihat amat cantik. Sikapnya lemah lembut, dan selalu menebarkan senyumannya kepada siapa pun."
"Pada pandangan pertama saat itu saya langsung memiliki ketertarikan kepada Nona Delina. Bukan hanya dari fisik saja, Tuan. Hati saya mengatakan perempuan itu memiliki kharisma yang tinggi. Jiwanya sangat tulus kepada siapa pun yang bertemu dengannya."
Ferdi berusaha menceritakan semuanya secara terbuka kepada Mahesa. Tidak ada yang ingin dia tutup-tutupi lagi.
"Dan lagi saya sangat takjub dengan Nona Delina saat berhasil menghandel perusahaan dengan sangat baik. Mengatasi beragam masalah di perusahaan dan mampu memimpin beberapa proyek besar," lanjut Ferdi panjang lebar.
"Dia perempuan yang sangat luar biasa, Tuan. Apalagi saat dia mendapatkan bertubi-tubi cobaan dari Anda, Nyonya Maharani, Nyonya Venya, dan masih banyak orang yang membencinya. Banyak orang yang berusaha menjatuhkannya, tetapi Nona Delina bisa bangkit dan berdiri tegak."
__ADS_1
Ferdi tidak bisa menutup-nutupi kekagumannya kepada istri tuan mudanya. Baginya Delina adalah wonder woman sesungguhnya di dunia nyata. Makanya Ferdi menyukai Delina dari beragam segi.
"Namun, satu yang membuat saya merasa sakit hati, Tuan," lanjut Ferdi seraya memegangi bagian dadanya.
"Anda sebagai suami dari Nona Delina yang selalu mencampakkan beliau. Anda yang seharusnya melindungi Nona Delina justru membuatnya merasa tidak nyaman dan ketakutan. Dan tahu-kah Anda bahwa selama ini Nyonya Maharani berusaha menjatuhkan Nona Delina dengan berbagai cara?" tanya Ferdi menatap lekat kedua bola mata Mahesa.
"Nyonya Venya menjadi dalang semuanya. Mulai dari manipulasi data dan tanda tangan Anda bersama Nyonya Venya. Menyewa Aldo untuk melakukan peleceehan kepada Nona Delina. Masih banyak lagi rencana yang dilakukan Nyonya Maharani untuk menjatuhkan Nona Delina."
Selama ini Ferdi tahu segalanya yang terjadi. Diam-diam Ferdi melihat gerak-gerik setiap orang yang berada di dalam rumah Keluarga Mahesa. Memang Ferdi tidak mengatakan jika ada yang janggal dari rumah itu. Namun, Ferdi berusaha melindungi Delina dari kejauhan.
"Pernah suatu ketika Nyonya Venya melabrak Nona Delina di kamarnya. Bahkan saya pernah memergoki Nyonya Venya dan Nyonya Maharani memarahi, memukul, dan mengancam Nona Delina," terang Mahesa menceritakan kejadian yang selama ini dia simpan.
Masih banyak kejadian lain yang dilakukan Venya dan Maharani kepada Delina. Seringnya mereka mengancam Delina di dalam kamarnya karena terhindar dari pantauan CCTV. Selepas itu mereka pergi dengan bangganya, menyisakan Delina yang menangis ketakutan.
"Hampir setiap malam Nona Delina menangis di dalam kamarnya, Tuan."
Pikiran Ferdi menerawang jauh ke masa-masa saat Mahesa memperlakukan Delina layaknya memperlakukan pembantu. Dilarang naik lift, harus lembur setiap hari, bertemu klien setiap saat, dan lain sebagainya.
"Makanya sebisa mungkin saya selalu membela Nona Delina. Membantu jika Nona Delina mengalami kesusahan. Apa pun akan saya lakukan untuknya, Tuan," terang Ferdi.
Pria yang sedang asyik dengan ceritanya itu menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya dengan perlahan, "Jujur saya memiliki ketertarikan kepada beliau."
"Tetapi saya juga menyadari posisi saya sebagai asisten Anda. Sebisa mungkin saya menolak rasa ketertarikan saya kepada Nona Delina, Tuan," lanjut Ferdi.
"Pertama, karena sejak awal saya sudah mengidolakan Nona Delina. Kedua, penderitaan dan tekanan kehidupan yang dialaminya. Ketiga, perjuangan beliau untuk melawan semua rasa takut yang menghampirinya. Sungguh beliau perempuan yang hebat."
Tak henti-hentinya Ferdi menyampaikan rasa kagumnya kepada Delina. Secara tidak langsung itu menyindir Mahesa. Sebagai suami dari Delina justru dia tidak tahu apa pun tentang istrinya.
__ADS_1
"Memang sangat susah bagi saya melupakan Nona Delina. Beragam cara saya lalukan untuk melupakannya. Butuh waktu yang lama bagi saya mengalihkan perhatian dari Nona Delina. Apalagi saya yang harus setiap hari bertemu beliau dan setiap hari pula diam-diam saya memergoki dia yang selalu bersedih," ungkap Ferdi.
"Apakah mencintai istri dari atasan adalah benar?" tanya Mahesa penuh penekanan.
"Tidak, Tuan. Itu tidaklah benar. Anda atasan saya yang telah banyak membantu saya," jawab Ferdi menggelengkan kepalanya.
Ferdi adalah anak yatim piatu. Dia dibesarkan di Keluarga Mahesa. Makanya dia ingin membalas kebaikan Keluarga itu dengan menjadi asistennya dan menolak untuk memimpin salah satu perusahaan milik keluarga itu.
"Kalau tahu itu tidak benar kenapa kau melakukannya? Hah?!" geram Mahesa dengan penuh penekanan.
"Dengarkan cerita saya sampai akhir dulu, Tuan. Saya mengaku salah dan saya juga sudah melakukan beberapa usaha melupakan Nona Delina," terang Ferdi.
"Setelah beberapa saat saya mendapatkan peringatan dari Tuan Atmajaya yang mengetahui bahwa saya juga menyukai istri Anda. Dan sejak saat itulah saya perlahan menjauh dari Nona Delina. Sedikit menjaga jarak dari beliau. Tetapi tetap memantaunya dari kejauhan."
Tidak dapat dipungkiri memang Atmajaya lebih sering melihat Delina bersama Ferdi. Dibandingkan Delina bersama putranya. Sehingga Atmajaya menceritakan siapa Delina dan dari cerita Atmajaya itu membuatnya tersentak dan tersadar.
"Sejak saat itulah saya mulai menganggap Nona Delina adik saya. Saya akan menjaganya selayaknya kakak menjaga adiknya," imbuh Ferdi.
Mahesa berdecih mendengar penjelasan Ferdi. Kemudian dia menyahut, "Hah? Adik? Enggak salah dengar?"
Dengan senyuman sarkas Mahesa berkata, "Sejak kapan adik dan kakak berada di kamar berduaan?"
"Untuk apa kau masuk ke kamar Delina? Bahkan aku hitung-hitung tidak hanya sekali saja kau masuk ke kamarnya?" sindir Mahesa dengan tatapan tajam.
###
Bentar-bentar apa yang dikatakan Atmajaya kepada Ferdi ya? Apa yang dia ceritakan? Dan benarkan Ferdi sering masuk ke kamar Delina? Untuk apa?
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu.