
Satu setengah tahun yang lalu, tepatnya di hari kenaikan kelas. Delina berencana pergi merayakan kenaikan kelas bersama teman-temannya. Baru saja keluar dari gerbang sekolah, hendak menunggu bus datang di sebuah halte. Mata Delina menangkap sebuah mobil yang berhenti secara tiba-tiba dan hampir saja menabrak pohon di depannya.
"Sepertinya ada yang tidak beres pada mobil itu," gumam Delina kepada teman-temannya.
"Aku kesana dulu ya."
Posisi mobil itu berhenti tidak jauh dari keberadaannya dan Delina memutuskan untuk mendekati mobil itu. Namun, tiba-tiba lengannya ditahan oleh temannya, Vita. Gadis itu melarang Delina pergi, "Enggak usah kesana. Sebentar lagi bus datang."
"Ya sudah kalian duluan, aku akan nyusul nanti," balas Delina yang nekad mendekati mobil itu. Delina segera berlari kearah mobil itu. Sementara teman-temannya sudah mulai masuk ke dalam bus yang berhenti di depan mereka.
Pertama-tama Delina mengintip kondisi di dalam mobil dari jendela samping kemudi mobil yang mesinnya masih menyala. Gadis itu terkejut saat mendapati seseorang yang tidak sadarkan diri di kursi kemudi. Beberapa kali Delina mengetuk jendela mobil itu, namun tidak ada respon dari orang yang berada di dalam.
"Tolong!!!" Delina berteriak hingga beberapa orang mendekatinya.
"Tolong orang yang berada di dalam mobil ini."
Orang-orang yang berada disekitar tempat kejadian langsung menolong seseorang yang berada di dalam mobil. Segera ambulans datang dan membawa orang tersebut ke rumah sakit terdekat. Delina sebagai orang pertama yang berinisiatif menolongnya ikut ke rumah sakit.
"Nona ... terima kasih telah menolong Tuan Atmajaya," ucap seorang pria.
"Iya sama-sama. Apakah saya sudah boleh pulang?" tanya Delina dengan polosnya.
"Tuan ingin bertemu dengan Anda terlebih dahulu, Nona," ucapnya dengan tangan mempersilahkan.
"Mari ikut saya."
Tadi siang saat Atmajaya mengemudikan mobil sendirian, tiba-tiba sakit jantungnya kumat. Pria itu sudah sejak lama mengidap penyakit jantung dan sedang menjalani pengobatan di Singapura. Saat kembali ke Indonesia, ingin rasanya berkeliling Kota Jakarta dengen mengendarai mobil sendiri. Tetapi itu merupakan keputusan salah yang membuatnya berakhir di rumah sakit.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Anda, Tuan?" tanya Delina kepada pria tua yang kepalanya bengkak akibat terbentur stir kemudi. Sesaat sebelum pingsan Atmajaya sempet membanting stir kearah trotoar dan berhenti sebelum menabrak pohon.
"Terima kasih telah menolongku." Pria tua itu berkata dengan napas ngos-ngosan.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Atmajaya.
Setelah mengetahui siapa nama gadis yang menolongnya dengan sukarela, serta bertanya-tanya tentang alamat rumah dan latar belakangnya. Atmajaya memberikan sejumlah imbalan yang dimasukkan ke dalam amplop yang tampak tebal.
Sontak saja Delina menolak pemberian Atmajaya, kerena niatnya membantu ikhlas tanpa mengharapkan apa pun. "Ayolah Nak. Terimalah ini sebagi wujud terima kasih," paksa Atmajaya.
Terjadi perdebatan kecil antara mereka yang berakhir dengan Delina mengambil uang selembar uang seratus ribuan. Padahal di dalam amplop itu ada segepok uang yang kalau dijumlah bisa mencapain puluhan juta. Bagi Delina seratus ribu saja sudah sangat cukup untuk anak sekolah sepertinya.
"Saya pulang dulu ya, Tuan. Semoga Anda lekas sembuh," ucap gadis itu dengan senyuman tulus yang membuatnya semakin cantik.
Atmajaya menganggukan kepalanya dan membalas senyuman Delina dengan senyuman bangga. Delina tidak tahu bahwa pria tua yang dia tolong merupakan seorang yang sangat kaya di negaranya. Tetapi Delina tidak peduli dengan hal itu, niatnya hanya menolong tanpa memandang siapa orang tersebut.
"Dia gadis yang polos dan tulus," lanjutnya dengan senyuman.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Delina, Atmajaya langsung menyukai gadis itu. Selama setahun Atmajaya didampingi asisten pribadinya selalu memata-matai Delina. Memastikan apakah gadis itu benar-benar baik atau tidak. Atmajaya memantau Delina secara diam-diam dan gadis itu pun tidak sadar kalau selama ini selalu dipantau baik ketika sekolah, di rumah, bersama keluarga atau teman-temannya.
"Dia benar-benar gadis yang menakjubkan," bangga Atmajaya kepada Delina.
"Aku mau dia menikah dengan Mahesa."
Tepat satu tahun sejak Delina menolong Atmajaya. Pria itu yakin kalau Delina akan menjadi menantu yang baik untuknya. Dan istri terbaik untuk putranya, Mahesa. Saat Delina lulus dari sekolah menengah atas, Atmajaya langsung menyuruh Mahesa melamarnya.
"Mahesa ... menikahlah lagi dengan seorang gadis yang papa pilihkan untukmu," pinta Atmajaya masuk ke dalam ruang kerja Mahesa di rumah utama.
__ADS_1
Saat itu posisinya Mahesa sudah menikah dengan Maharani. Namun mau tidak mau Mahesa harus menikah dengan Delina untuk menjadikannya istri kedua. Jika Mahesa tidak mau maka Atmajaya tidak akan memberikan semua warisannya kepada Mahesa.
"Pa, apa papa tidak kasian sama Maharani? Bagaimana persaan dia nanti, Pa?" protes Mahesa ketika Atmajaya menyampaikan keinginannya.
"Apakah kamu juga tidak pernah merasakan perasaan papa dulu saat kamu menikah dengan perempuan yang baru saja kamu kenal?" balas Atmajaya mengungkit masa lalu. Saat dirinya menentang pernikahan putranya dengan Maharani.
"Ingatlah ... papa semakin tua. Dan menginginkan kamu segera memberikan papa cucu sebelum papa tiada," ucap Atmajaya.
"Te-tapi Pa." Mahesa hendak menolak tetapi tidak bisa.
"Tidak ada tapi-tapian!" sembur Atmajaya.
"Menikahlah dengan gadis pilihan papa atau kau angkat kaki dari rumah ini," pungkas Atmajaya yang langsung berlalu meninggalkan Mahesa.
Dengan seksama Delina, Ferdi, dan Lily mendengarkan cerita dari Hendra. Sebagai kuasa hukum Hendra tahu segalanya tentang warisan yang semuanya diberikan atas nama Delina.
"Beberapa bulan setelah Anda menikah dengan Tuan Mahesa. Tuan Atmajaya menganti kepemilikan semua hartanya termasuk rumah ini, beberapa perusahaan, dan saham menjadi milik Anda, Nona," jelas Hendra mengeluarkan berkas-berkas.
Delina mengambil beberapa berkas-berkas itu dan membacanya. Memang benar semua harta beratasnamakan dirinya. Dilain sisi Delina bingung kenapa harus Delina dan kenapa tidak Maharani yang menjadi istri pertama Mahesa.
"Sejak awal pernikahan Tuan Mahesa dan Nyonya Mharani, Tuan Atmajaya tidak setuju dan bahkan menentang," ungkap Hendra seolah tahu apa isi pikiran Delina.
"Sebenarnya Tuan Atmajaya tahu banyak tentang Nyonya Maharani. Dan beliau juga tahu kalau Nyonya Maharani ..."
###
Wah ternyata diam-diam Atmajaya tahu ya. Pantesan tidak suka dengan Maharani? Lalu apa saja yang sebenarnya diketahui oleh Atmajaya?
__ADS_1
🌱Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu.