
Michel merasa senang karena dengan mudahnya meminta bantuan kepada Delina. Tidak perlu mengeluarkan tenang lebih untuk membujuknya. Dan juga tidak perlu berbuat jahat dulu agar Delina mau membantunya.
"Tahu begini kenapa kita tidak bertemu dengan istrinya Mahesa sejak dulu saja," ucap Mahesa.
"Dia terlalu baik atau b0doh sih," lanjutnya menyunggingkan senyuman.
"Apakah dia tulus membantu Anda?" sahut asistennya.
"Atau jangan-jangan dia memiliki rencana lain untuk Anda?" lanjutnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Menurut Michel tidak mungkin Delina memiliki rencana buruk. Kalau pun iya perempuan itu ada rencana lain untuknya. Besok pagi dia akan mendesak Delina untuk segera menagih janjinya.
"Dia tidak mungkin bisa berkutik dan meminta bantuan siapapun," ucap Michel tersenyum sinis. Pasalnya ponsel yang dibawa Delina dan Lily sudah dia sita.
"Ngomong-ngomong cantik juga istrinya Mahesa," ucap Michel.
"Bagaimana kalau kita merampas istrinya sekaligus?" imbuhnya.
Reflek asistennya itu tertawa keras mendengar penuturan Michel. Tatapan tajam dari Michel langsung membuatnya terbungkam dan tidak berkutik lagi. Asistennya itu langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Kau menertawakan aku?" kesal Michel.
"Ti-tidak. Tetapi saya memikirkan secara logis," kilah asistennya.
"Apa dia mau dengan Anda. Suaminya lebih sempurna," sambungnya.
__ADS_1
"Kau meremehkan aku?" sahut Michel dengan nada kesal.
"Ah. Tidak," ucap asistennya mengalah.
Padahal di dalam hati asistennya itu terus menertawakan tuannya. Yang benar saja Delina yang memiliki suami sesempurna Mahesa. Mana mau dengan lelaki tua seperti tuannya. Yang benar saja.
**
Di dalam kamar Delina tidak segera istirahat. Dia sedang memikirkan sesuatu untuk rencananya besok.
"Nona, apakah Anda tidak lapar?" tanya Lily mengkhawatirkan nona mudanya.
"Anda belum makan sejak tadi siang," lanjutnya.
"Sudah cukup dengan beberapa snack yang kita beli di supermarket tadi," balas Delina.
"Selanjutnya apa rencana kita, Nona?" tanya Lily.
Delina memaparkan apa yang akan dilakukan besok. Karena besok adalah hari terakhir mereka di rumah itu. Delina sudah mempersiapkan semuanya dan mengirimkan sinyal kepada seseorang tentang keberadaannya.
"Apakah Anda yakin dengan rencana kita, Nona?" tanya Lily setelah mendengarkan rencana yang disusun oleh Delina.
"Kalau mereka melakukan tindakan nekat bagaimana, Nona?" lanjut Lily.
"Tenang saja Lily. Lebih baik sekarang kita istirahat," pesan Selina.
__ADS_1
**
Benar saja keesokan harinya Michel segera menemui Delima untuk menagih janji untuk membantunya. Sebelumnya Michel menyediakan sarapan untuk dua tamu perempuannya itu. Tetapi Delina dan Lily menolak dan berkata sudah kenyang.
"Bagaimana, Nona. Kapan Anda akan membujuk suami Anda?" tanya Michel membuka obrolan pagi.
"Aku akan membicarakan dengan suamiku nanti saat di rumah. Antarkan aku pulang sekarang," pinta Delina.
Sontak Michel menggelengkan kepalanya. Kemudian berkata, "Saya minta Anda membujuk suami Anda melalui telepon. Saya tidak bisa mengantarkan Anda pulang."
"Bagaimana kalau meminta suamiku datang kemari? Biar semuanya lebih jelas kalau kita semua berbicara secara langsung?" usul Delina.
"Tenang saja aku akan membujuk suamiku," lanjutnya.
Tidak mungkin bisa Michel berbicara langsung dengan Mahesa. Pasti pria itu menolak mentah-mentah keinginannya.
"Tidak, Nona. Suami Anda pasti tidak mau menuruti keinginan saya," ucap Michel.
"Aku akan membujuknya," kekeh Delina.
Michel tetap menggelengkan kepala. Kemudian berkata, "Kalau Anda tidak segera menuruti permintaan saya. Terpaksa saya harus bertindak, Nona."
"Ya kalau kamu tidak mau mendatangkan suamiku. Aku akan mendatangkan mereka kesini tanpa persetujuan kamu," ucap Delina santai.
"Tidak akan ada orang yang mengetahui keberadaan Anda, Nona," ucap Michel.
__ADS_1
"Dengan ini Anda resmi menjadi tahanan saya," lanjutnya disertai tawa nyaring.
Selang beberapa menit dari itu apa yang dikatakan Delima benar. Seseorang datang ke rumah tersebut dan langsung masuk begitu saja. Tetapi bukan Mahesa yang datang. Melainkan orang lain yang akan ...