Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Tantangan Untuk Mahesa (1)


__ADS_3

Ketika malam Delina menatap lekat-lekat wajah sang anak. Bayi imut nan tampan yang lahir tanpa didampingi seorang ayah. Sungguh itu merupakan pengalaman buruk bagi Delina. Disaat kesakitan dan butuh dukungan untuk melahirkan, namun dia hanya sendiri. Tidak ada rambut atau tangan suami yang bisa dia cakar-cakar.


"Ya ampun, Nak. Ganteng banget sih kamu," puji Delina sembari mengusap dahi bayinya yang sudah terlelap.


"Semoga tidak hanya ganteng saja, tetapi kau harus jadi orang yang berguna kelak sudah dewasa," doa Delina.


"Tentunya juga menjadi seorang laki-laki yang tanggungjawab baik kepada diri sendiri dan keluarganmu."


Memandang wajah sang anak jika sedang tidur, rasanya meluruhkan pegal-pegal dan rasa capek akibat kerja seharian. Pokoknya kalau pulang kerja wajib memandangi wajah anaknya, biar kembali segar. Entahlah sejak memiliki anak Delina selalu mengutamakan anaknya diatas segalanya. Dia bahkan betah kalau seharian disuruh memandang wajah anaknya itu.


Sejenak ditariknya napas dalam, lalu dihembuskannya. Perempuan itu tersenyum sembari mencubit hidung anaknya dengan pelan. Lalu dia pun bergumam, "Hmm ... kamu mirip sekali dengan papa kamu."


Delina selalu kepikiran tentang wajah anaknya. Dialah yang sudah mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan. Dia pula yang susah payah dan bertarung nyawa untuk melahirkan. Juga dia yang telah menyusui dan mengurusnya setiap hari. Tetapi wajah suaminya yang menurun ke bayi laki-lakinya itu.


"Kalau begini caranya aku tidak bisa membenci papa kamu, Sayang," gumam Delina lagi.

__ADS_1


"Kamu terlalu mirip dengannya. Bagaimana bisa aku benar-benar membenci orang yang wajahnya sangat mirip dengan anakku sendiri," akunya.


Jujur saja Delina tetap dongkol kepada Mahesa dengan segala kelakuannya terdahulu. Sampai sekarang belum bisa memaafkan suaminya. Memang rasanya ingin sekali memukul, menampar, dan menginjak-injak suaminya. Tetapi apa daya, jika itu dia lakukan sama dengan menganiaya anaknya sendiri. Karena wajah mereka sangatlah mirip, bak pinang dibelah dua.


"Maafkan mama ya, Nak. Belum bisa mendekatkan kamu dengan papa kamu," ucap Delina.


Ingin rasanya seperti keluarga normal lainnya yang bisa kumpul dengan suami, istri, dan anak. Namun, untuk saat ini Delina belum bisa legowo. Harusnya dia sedang menenangkan diri, tetapi malah bertemu dengan Mahesa disini. Padahal sudah jauh-jauh Delina pergi, namun tetap bisa ketemu dengannya. Memang benar istilah, kalau jodoh pasti bertemu dan bertemu belum pasti jodoh.


"Semoga hati mama segera terbuka dan bisa mempertemukan kalian diwaktu yang tepat," harap Delina.


"Sepertinya aku harus memberikan tantangan untuknya," ucap Delina seraya menerbitkan senyuman.


Delina tidak suka dengan sikap Mahesa yang memberikannya barang-barang mewah. Dia pikir mendingan barang yang biasa saja, namun digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Seperti kehidupan ini yang tidak perlu bermewah-mewah, tetapi tanggungjawab dengan semua yang dimilikinya.


"Mentang-mentang kaya, lalu seenaknya sendiri merayuku dengan mobil, rumah, dan barang-barang mahal," urai Delina.

__ADS_1


"Rayuanmu enggak mempan bagiku."


Terbukti semua barang-barang mewah yang diberikan Mahesa kepadanya belum dia gunakan sama sekali. Dan dia pun masih tetap tinggal di rumah kontrakan barunya. Padahal rumah mewah sudah diberikan kepadanya.


"Baiklah. Aku akan menyiapkan suatu tantangan untukmu," gumam Delina.


"Kalau kau bisa menerima tantanganku untuk hidup sederhana, namun bermakna dan bertanggung jawab. Aku akan memaafkan kamu."


###


Pertanyaannya apakah bisa Mahesa mengikuti kemauan Delina untuk hidup sederhana saja? Coba ya kita lihat apa saja nanti yang akan dilakukan Mahesa.


Dan apakah benar jika Mahesa berhasil melewati rintangan itu. Delina akan memaafkannya? Wah, tidak sabar.


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2