
Mahesa duduk termenung di kursi kayu yang ada di teras rumah Delina. Pria itu masih meresapi setiap syarat yang diajukan Delina kepadanya. Dia belum paham saja, kenapa istrinya memberikan syarat yang menurutnya sangat aneh.
"Sayang ... bukankah ini tidak masuk akal?" protes Mahesa.
"Kenapa kita harus berpura-pura tidak kenal satu sama lain?" sambungnya seraya memijit pangkal hidungnya.
Delina meminta dia dan Mahesa untuk pura-pura tidak saling kenal terlebih dahulu. Jadi ketika sampai di Jakarta nanti, mereka bekerja di Mahesa Grup tetapi tidak saling tegur sapa. Intinya mereka harus jaga jarak sejauh mungkin.
"Janganlah Sayang. Tujuanku mengajak baikan kamu kan aku ingin hidup bersama kamu," protesnya lagi.
"Lah kenapa malah pura-pura tidak kenal? Kau mau menyiksaku?"
"Ini hanya sementara, beri waktu aku untuk sendiri terlebih dahulu," balas Delina.
Sebenarnya itu tidak akan membawa dampak apa pun bagi para karyawannya. Toh mereka juga belum membeberkan kepada publik kalau ternyata mereka suami istri. Selama ini mereka tahunya hubungan mereka sebatas CEO dan sekretaris pribadi saja. Yang tahu mereka telah menikah hanya keluarga, kerabat dekat, pelayan di rumah, dan beberapa rekan kerja yang dekat.
"Apa jangan-jangan kau memiliki pria idaman lain. Makanya mau berpura-pura kita tidak saling kenal," tuduh Mahesa.
"Enak saja! Jangan samakan aku denganmu dong," protes Delina tidak terima.
"Baiklah. Kita pura-pura tidak saling kenal hanya di lingkungan perusahaan saja. Tetapi kita tetap satu rumah," bujuk Mahesa.
Delinga menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Syarat lainnya adalah untuk sementara waktu Delina tidak akan tinggal di rumah mewah Keluarga Mahesa. Dia memilih untuk tinggal di rumah lain yang terpisah dari Mahesa.
"Astaga! Aku tidak bisa jauh dari kamu dan Baby El, Sayang," sambung Mahesa tetap tidak terima.
"Apakah kamu marah karena perempuan asing yang masuk ke rumahku itu?" tebak Mahesa yang tiba-tiba ingat Clarissa.
__ADS_1
"Aku akan membuatnya pergi dari rumah kita, sekarang juga."
Mahesa langsung mengambil ponselnya dan hendak menelepon seseorang. Dia akan menyuruh orang rumah untuk segera mengusir Clarissa.
"Jangan!" cegah Delina.
"Biarkan saja perempuan itu tetap tinggal bersamamu. Untuk teman kamu di rumah, biar tidak kesepian," ungkapnya.
"Kamu pasti senangkan?" godanya.
"Enggak Sayang! Enggak! Aku tetap akan mengusirnya," sahut Mahesa.
"Aku bilang biarkaan dia tetap di rumahmu. Lain waktu aku sendiri yang akan mengusirnya," jelas Delina.
"Pokonya biarkan dia tetap di rumah kamu dan dekat denganmu," lanjutnya.
"Kamu yang akan mengusirnya? Bagaimana caranya?" tanya Mahesa.
Delina hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Delina. Sepertinya dia memiliki cara yang lebih halus untuk mengusir Clarissa. Tetapi untuk sementara waktu hanya dia yang tahu rencana itu.
"Bagaimana? Deal?" Delina menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Kalau tidak mau. Aku akan tetap di Bali dan silahkan kamu kembali ke Jakarta sendirian," sambung Delina.
"Aku tidak yakin bisa melalui semua ini," lirih Mahesa.
"Tidak apa-apa. Kita coba saja dulu. Hitung-hitung sebagai pelajaran betapa sakitnya saat kau menyuruh pergi dari hidupmu dulu itu," timpal Delina.
__ADS_1
Raut muka pria itu mendadak tidak bersemangat. Dia sedih meskipun Delina sudah tidak marah kepadanya. Tetapi syarat untuk jaga jarak antara mereka. Sungguh membuat Mahesa merasa tersiksa. Padahal dia ingin segera hidup satu atap dengan Delina dan putranya.
"Oke. Kita harus segera kembali ke Jakarta sekarang juga," ucap Delina setelah mengangkat telepon dari seseorang.
"Ke Jakarta? Sekarang?" ulang Mahesa seperti tidak percaya dengan ajakan Delina barusan.
"Iya. Sekarang!" tegas Delina.
"Aku ingin menetap lebih lama di Bali. Aku belum siap berpisah denganmu," kata Maheda lesu.
"Tidak ada alasan lagi. Tiga jam lagi adalah jadwal keberangkatan pesawat kita," jelas Delina sembari melihat jarum jam di pergelangan tangannya.
"Kan ada jet pribadi. Kita bebas menentukan waktu, Sayang."
Delina tersenyum palsu sembari menggelangkan kepalanya. Kembali Mahesa teringat akan prinsip hidup sederhana yang diterapkan Delina.
"Buruan!" teriak Delina menghampiri Mahesa yang sedang bersiap diri.
Perempuan itu sudah siap dengan barang-barangnya. Sementara Mahesa masih mempersiapkan diri.
"Cepetan. Jangan buang-buang waktu!" teriak Delina lagi.
Yang sebenarnya terjadi Delina mendapat kabar terjadi kekacauan di perusahaan Mahesa Grup. Dia tidak ingin terjadi apa-apa di perusahaan yang dengan sudah payah dia perjuangkan.
###
Eh kenapa jadi mendadak balik ke Jakarta begini ya. Ada apa dengan perusahaan? Dan siapa yang menelepon Delina? Sepertinya ada orang yang kerjasama dengan Delina ya. Selalu mengabarkan berita up-to-date dari Jakarta. Darimana pula Delina tau mengenai Clarissa kalau bukan dari orang yang selalu berhubungan dengannya.
__ADS_1
Kira-kira siapakah orang itu? Kalau tau coba komentar deh.
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.