
Tidak jarang Delina memergoki Clarissa yang suka bertindak semena-mena. Apalagi kepada para staf biasa yang bisa dia maki-maki setiap hari.
"Dasar bod0h! Lelet banget sih kerjanya!" kesal Clarissa memarahi seorang perempuan.
"Lain kali kalau lelet lagi akan aku pecat kamu!" ancamnya.
Padahal Clarissa menyuruh perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Begitulah kerjaan Clarissa di kantor itu. Hanya menyuruh-nyuruh orang lain.
"Maaf, Bu. Ada beberapa bagian yang belum selesai karena menunggu laporan dari bagian pemasaran," lirih perempuan itu.
"Hah? Belum selesai? Yang benar saja! Aku sudah memberikan waktu 24 jam dan kamu bilang belum selesai?" cerocos Clarissa.
"Bisa kerja enggak sih!" geramnya.
"Nanti sore akan turun surat peringatan untukmu!" ancamnya.
"Te-tapi Bu---" ucap perempuan itu.
"Enggak ada tapi-tapian!" potong Clarissa.
Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya sedih. Sementara Clarissa masih berdiri dihadapannya untuk mengecek berkas-berkas tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Delina keluar dari ruangannya.
Kebetulan mereka berdua berada tidak jauh dari ruang kerja Delina. Segera Delina pura-pura bertanya tentang apa yang terjadi. Namun, tidak ada yang berkata dan tetap pada kegiatan mereka sebelumnya.
"Lela, kenapa kamu diam saja? Apa yang terjadi?" tanya Delina kepada karyawan yang bernama Lela itu.
"Ehm ... e-enggak apa-apa, Bu," kilah Lela berbohong.
"Jangan bohong Lela. Tadi saya mendengar keributan. Apa yang terjadi?" tanyanya sekali lagi.
Karena Lela tidak mau menjelaskan apa yang terjadi. Tatapan Delina beralih kearah Clarissa. Kemudian berkata, "Bisakah kau ketika berbicara dengan karyawan dengan kata-kata sopan?"
"Berlatihlah untuk menghormati pekerjaan orang lain. Jika memang kurang puas katakan dengan kata-kata yang baik," sambung Delina.
__ADS_1
"Eh! Enggak usah ikut-ikutan deh!" sentak Clarissa berkacak pinggang.
"Kami itu anak baru dan enggak tahu apa-apa. Makanya jangan ikut campur!" kecamnya.
Delina menyentuh bahu Lela lalu tersenyum. "Lela, pekerjaan kamu sudah beres. Terima kasih sudah mengerjakan sebaik mungkin. Silahkan kembali ke tempatmu bekerja."
"Benarkah, Bu? Tetapi kata Bu Clarissa pekerjaan saya---" balas Lela.
"Semua sudah beres kok," potong Delina mengusap bahu Lela.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Lela senang dan diangguki kepala oleh Delina.
Delina kembali menatap Clarissa yang sudah menunjukkan sikap arogan. Seolah-olah dialah yang paling berkuasa di kantor itu. Dan menganggap siapa pun tidak bisa melawannya.
"Jangan lagi mengeluarkan kata-kata kasar kepada para staf," ucap Delina.
"Boleh memberikan kritik dan saran yang membangun. Tetapi tolong gunakan kata-kata yang baik dan bijak. Jangan bersikap arogan apalagi mengeluarkan ancaman," saran Delina.
"Eh kau menuduh aku arogan?" protes Clarissa.
Clarissa sudah berkacak pinggang dengan mata melotot menatap tajam Delina. Perempuan itu sudah siap mengeluarkan makian untuk Delina.
"Enggak usah marah. Memang kenyataannya seperti itu. Sudah banyak karyawan yang ngeluh," ucap Delina santai tetap dengan senyuman lembutnya.
"Oh iya. Bagaimana kabar tunggakan gaji karyawan yang belum dibayar? Dan kenapa banyak sekali karyawan yang tiba-tiba dipecat tanpa surat peringatan terlebih dahulu?" tanya Delina.
Dengan pertanyaan itu mampu membuat wajah Clarissa berubah bingung. Tampak gugup tetapi tetap berusaha terlihat santai dihadapan Delina.
"Satu lagi pertanyaan dari aku. Kenapa juga banyak karyawan baru yang tiba-tiba masuk tanpa jalur tes administrasi, tes tertulis ataupun tes wawancara ya?" sindir Delina.
"Bagaimana cara mereka masuk ke perusahaan kelas internasional tanpa melewati jalur tes?"
"Katanya mereka masuk melalui salah satu orang dalam di perusahaan ini."
"Apakah kau tahu mengenai kasus ini?"
__ADS_1
"Ehm ..."
"Katanya kau adalah salah satu orang yang terlibat menjadi orang dalam di perekrutan karyawan baru itu ya? Benarkah?"
Delina memberikan banyak sekali pertanyaan untuk Clarissa. Sampai-sampai perempuan itu tampak kelimpungan. Dia mengedarkan pandangannya kesana-kemari guna menghindari tatapan Delina yang semakin mengintiimidasi.
"Ka-kau me-menuduhku?" tanya Clarissa terbata-bata.
"Aku bertanya bukan menuduh. Apakah kau tahu kasus ini?" ulang Delina bertanya.
"E-enggak!" kilahnya.
Keringat dingin mulai membanjir tubuhnya. Dia bingung kenapa rahasia besarnya bisa diketahui Delina. Padahal Mahesa saja tidak tahu akan hal itu.
"Siaal! Kenapa dia bisa tau sih!" batin Clarissa kesal.
"Sebenarnya siapa dia?" Clarissa semakin penasaran.
Rasa penasaran Clarissa semakin besar saat semua rahasianya diketahui Delina. Sekarang dia yakin kau Delina bukanlah karyawan biasa. Buktinya dia tahu semua yang dilakukan di perusahaan itu.
"Ada apa ini?" tanya Mahesa yang baru saja datang ditengah-tengah mereka.
"Kenapa kalian berdua berdiri mematung disini?" tanyanya lagi.
Mahesa melempar tatapannya kearah Delina dan Clarissa secara bergantian. Namun keduanya tetap diam. Dengan Clarissa yang semakin panik dan Delina yang tetap santai dengan tatapan mengintiimidasi.
"Ada yang bisa menjelaskan kepadaku?" ulang Mahesa.
"Ada apa dengan kalian?"
"Dia sudah ---" ucap Delina.
###
Apakah Delina akan membongkar kebusukan Clarissa sekarang juga di depan Mahesa? Dan apakah Clarissa bisa mengungkap siapa sebenarnya Delina?
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.