
"Pergi kamu dari sini!" berang Mahesa marah. Amarah sudah memenuhi diri suami dari Delina itu. Tatapan matanya tajam seolah ingin menerkam Delina hidup-hidup. Wajahnya sudah berubah kemerahan menahan emosi yang harus dia tahan, karena dia tahu posisinya saat ini berada di dalam lapas.
Meski tahu suaminya sedang marah besar, namun Delina bingung. Kenapa tiba-tiba Mahesa marah seperti itu kepadanya, ada masalah apa sebenarnya. Segera dia bertanya, "Ada apa?"
"Pergilah dari hadapanku, aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi," geram Mahesa sembari menujukkan telunjuknya tepat di wajah Delina.
"Cepat pergi!" ulangnya.
"Pergilah jauh dan jangan pernah kembali lagi!"
Semakin Mahesa marah, semakin membuat Delina merasa penasaran. Untungnya suasana ruang kunjungan lapas hari itu sangatlah ramai. Banyak pengunjung yang datang ingin menjenguk kerabatnya yang menjadi tahanan.
"Kamu kenapa? Ceritakan kepadaku ada masalah apa ini?" tanya Delinga bingung.
"Sudah muak aku melihat mukamu berada dihadapanku!" sentak Mahesa kekeh menyuruh Delina pergi meninggalkannya.
Seolah sebuah pisau tajam menujuk jantungnya sampai-sampai satu-satunya jantung miliknya bocor. Baru saja Delina dibuat terbang tinggi ke angkasa karena kasmaran dengan Mahesa. Dan kini dia dihempaskan begitu saja sampai jatuh ke dalam jurang yang begitu dalam. Sakit sekali apa yang dirasakan Delina saat ini.
"Bisakah kau menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Delina dengan lirih seraya menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipi. Mata perempuan itu sudah mulai berkaca-kaca. Sesekali dia arahkan matanya menatap langit-langit ruangan agar air mata tidak jatuh keluar dari kelopak matanya.
"Enggak usah pura-pura sedih!" Bukannya menjawab pertanyaan Delina, lagi-lagi Mahesa membentak perempuan itu.
"Sudah salah sangka aku kepadamu. Nyesal sudah memujimu karena mampu mengembangkan perusahaan."
Mahesa tersenyum sinis memalinkan pandangannya dari Delina. Masih dengan amarah yang membara Mahesa berkata, "Tetapi ternyata kau hanya perempuan sampah yang tidak ada harga dirinya sama sekali."
"Dasar jaalang!" hardik Mahesa.
"Perempuan murahan!" lanjutnya mencaci maki Delina.
Bertambah sakit hati Delina mendengar hinaan yang keluar dari mulut suaminya itu. Posisinya Delina tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Mahesa, namun pria itu sudah mengatainya dengan kata-kata yang tidak pantas.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Delina lirih dengan terbata-bata. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya takut.
Sejak awal Delina sama sekali tidak berani membantah atau pun melawan Mahesa. Delina adalah tipe perempuan yang sangat tunduk kepada suaminya. Setiap kali terkena omelan Mahesa pada saat Mahesa membencinya dulu, Delina sama sekali tidak pernah melawan kata-kata Mahesa. Begitu pun dengan saat ini dia hanya bisa diam menerima hinaan dari Mahesa.
__ADS_1
"Enggak usah banyak tanya dan pura-pura tidak tahu," lanjut Mahesa meluapkan kemarahannya.
"Jangan sok polos deh," tambahnya dengan tersenyum sinis.
"Sa-saya akan pergi. Setelah Anda mengatakan apa salah saya," ucap Delina dengan suara yang sangat lirih. Bahkan hanya Mahesa saja yang dapat mendengarnya.
Mahesa mendengus kesal, "Selain murahan. Rupanya kau pandai berakting juga. Tak aku sangka, kau sama saja seperti Maharani."
Kali ini bukan hanya hinaan yang dilayangkan Mahesa, suaminya itu juga membandingkan dirinya dengan Maharani. Jelas saja membuat Delina semakin dibuat bingung dengan perkata Mahesa itu, apa hubungannya dengan Maharani.
"To-tolong sampaikan sebenarnya ada apa ini?" ulang Delina bertanya.
"Sa-saya akan pergi setelah mendengar apa kesalahan saya yang membuat Anda marah," imbuhnya tanpa menatap Mahesa.
"Mulai sekarang menjauhlah dari hadapanku dan pergilah bersama kekasih gelapmu, Ferdi!" seru Mahesa.
"Ferdi?" tanya Delina.
"Hubungan gelapmu dengan Ferdi sudah terbongkar, aku sudah tahu semuanya, Pasti kau kaget ya?"
"Hu-hubungan gelap seperti apa maksudnya?" tanya Delina sama sekali belum paham.
"Perselingkuhan kamu dengan Ferdi!" tegas Mahesa.
"Sa-saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Ferdi, kecuali hubungan dalam pekerjaan saja," sanggah Delina.
Mahesa berdecih, "Tidak ada yang namanya maling itu ngaku maling. Aku sudah tahu semuanya. Sekarang pergilah dari hadapanku dan jangan pernah kembali!"
"Te-tapi sa-saya benar-benar tida---" ucapan Delina terpotong.
"Tidak usah mengelak! Semua bukti sudah jelas adanya dan sekarang pergilah!" sambar Mahesa.
"Aku akan segera menyuruh Handra untuk megurus perceraian denganmu," tambahnya.
"To-tolong dengar---" Delina mencoba berucap kembali.
__ADS_1
"Diamlah! Aku sudah tidak ingin mendengar pembelaanmu!" tegas Mahesa tidak ingin dibantah.
"Pergilah dari hadapanku!"
Terpaksa Delina menuruti perintah Mahesa untuk segera meninggalkan tempat itu. Dan kebetulan juga waktu kunjungan Delina sudah habis. Mahesa berbalik badan untuk menuju ke ruang tahanan dengan diantar oleh salah satu petugas.
"$hit!" umpatnya dalam hati. Tidak pernah menyangka dirinya menikahi dua istri dan tidak pernah menyangka pula. Dia akan menceraikan kedua istrinya dalam waktu yang berdekatan. Sungguh malang nasib pria yang menjadi tahanan dan sebentar lagi akan menyandang status sebagai duda.
***
Selang beberapa hari dari kejadian murkanya Mahesa kepada Delina. Kini giliran Ferdi yang datang mengunjunginya. Mahesa menyambut pria itu dengan senyuman sarkas.
"Tuan ... maafkan saya." Ucapan maaf yang pertama kali keluar dari mulut asistennya itu.
Tangan kanan Mahesa langsung terangkat untuk menampar pipi Ferdi. Tak segan-segan tamparan Mahesa menampar Ferdi dengan sengat kerasnya. Kemudian Mahesa mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan oleh Ferdi.
"Kau yang sudah menjadi orang kepercayaanku, ternyata kau berkhianat!" umpat Mahesa marah besar.
"Dasar brengsek!"
Ferdi hanya diam menerima perlakuan tuan mudanya. Pria yang menjabat sebagai asisten Mahesa itu sudah hapal betul dengan tuannya. Jika dilawan maka Mahesa akan bertambah marah kepadanya. Lebih baik dia diam dan menerima pelampiasan amarah dari Mahesa.
"Tuan ... saya bisa menjelaskan semuanya," ucap Ferdi ketika suasana sudah agak mendingan.
Keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan Mahesa yang memberikan tatapan tajam. Napasnya tersengal-sengal karena menahan emosi. Dia tidak bisa sepenuhnya marah dan membuat keributan saat itu. Akhirnya Mahesa sedikit mengontrol dirinya agar tidak kelepasan.
"Tuan ... memang benar dugaan Tuan," kata Ferdi buka suara.
"Saya memang pernah ada perasaan suka kepada Nona Delina, Tuan," lanjutnya dengan kepala yang tertunduk.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri Ferdi. Emosi Mahesa kembali memuncak saat Ferdi berani mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Berbeda dengan Delina yang menyangkal hubungan gelap mereka. Justru Ferdi mengaku memang suka kepada Delina.
###
Bagaimana ceritanya Ferdi bisa memiliki perasaan suka kepada istri tuannya? Apakah memang Delina juga memiliki perasaan yang sama? Atau jangan-jangan memang mereka bersekongkol menutupi hubungan mereka? Simak kisah selanjutnya yaaaa ...
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya.