
"Hei ... ternyata kamu disini," suara Clarissa menghentikan akasi Mahesa.
"Dari tadi aku mencarimu," lanjutnya seraya mengatur napas yang tersengal-sengal.
Perlahan kekuatan tangan yang menahan Delina melonggar. Kesempatan itu dimanfaatkan orang itu untuk segera menjauh pergi dari tempat itu.
"Eh! Tunggu jangan pergi dulu," teriak Mahesa sembari melambaikan tangan.
"Siapa dia?" tanya Clarissa penasaran.
"Sudahlah ayo kita ke villa. Aku sudah capek dan ingin istirahat," ajak Clarissa.
"Tidak. Aku ingin berbicara dengannya dulu. Tolong lepaskan tanganku!" tegas Mahesa.
"Ayolah jangan sembarangan berinteraksi dengan orang asing. Siapa tahu dia akan berbuat jahat kepadamu," sahut Clarissa.
Sementara orang yang membuat Mahesa penasaran adalah benar dia Delina. Istri yang selama ini dicari-carinya dengan beragam cara. Mulai dari melacak GPS yang ternyata Delina sengaja meninggalkan ponselnya di rumah, menyuruh para pengawal untuk mencari Delina, dan melaporkan hilangnya Delina ke polisi.
"Untung enggak ketahuan," gumamnya seraya menempelkan punggung dibalik dinding. Lalu mengelus-elus dadanya seraya mengatur napasnya yang tersengal seperti maling yang dikejar petugas keamanan.
Pantas saja meskipun fotonya tersebar dimana-mana dalam rangka mencari orang hilang baik di media sosial, koran, mading, kantor polisi, dan lain-lain. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya, karena perubahan penampilan yang dilakukan Delina.
__ADS_1
"Kenapa harus ketemu disini sih? Hampir saja dia tahu siapa aku," gerutu Delina.
"Apa tandanya penyamaran yang aku lakukan kurang maksimal ya?" Delina mengambil ponsel yang baru saja dia beli lalu melihat penampilannya dari pantulan layar ponsel itu.
Jika memang penampilannya masih kurang maksimal, dia harus membuat dirinya semakin tidak bisa dikenali.
***
Sampailah mereka disebuah villa mewah milik Keluarga Mahesa. Villa super besar dengan beragam fasilitas mewah yang langsung menghadap ke lautan bebas. Mereka disambut oleh para pelayan villa dengan sangat ramah.
"Istirahatlah dulu, aku akan menyiapkan kejutan untukmu. Dan esok pagi kamu harus bangun lebih pagi," pesan Clarissa meninggalkan Mahesa di kamar utama villa itu.
Tidak peduli dengan kejutan apa yang dimaksud Clarissa. Pikirannya saat ini dipenuhi dengan rasa pensaran dengan orang yang bertabrakan dengannya di bandara tadi.
"Dan kenapa dia menghindariku?" Mahesa semakin curiga dengan tingkahnya.
"Apa aku harus nyamperin dia lagi ke bandara?"
"Tetapi apa iya dia selalu di bandara setiap hari?"
Mahesa yang sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur, tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya. Bayangan orag itu wira-wiri di dalam pikirannya. Semalaman penuh dia terjaga, hanya menatap langit-langit kamar. Sesekali membuka jendela kamar yang langsung menghadapan lautan.
__ADS_1
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Semburat warna orange menghiasi langit pagi itu. Hamparan laut biru menyambut paginya dengan angin yang menerbangkan korden kamar. Dilihatnya jam digital yang berada disampingnya. Tidak lama suara pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Selamat pagi, Tuan," sapa seorang pelayan setelah Mahesa membuka pintu.
"Ini tuksedo (tuxedo) Anda, Tuan," lanjutnya.
Mata Mahesa langsung mengarah pada setelan tuxedo beserta celana dan sepatu yang dibawa oleh pelayan itu. Dahinya bertautan melihat apa yang dibawa pelayan tersebut.
"Untuk apa?" tanya Mahesa dengan nada datar.
"Untuk Anda gunakan diacara pernikahan Anda, Tuan," jawab pelayan itu.
"Pernikahan?" ulang Mahesa dengan penuh tekanan dan mata yang sudah membulat sempurna.
"Iya. Pernikahan Anda dengan Nona Clarissa yang akan dilaksanakan di halaman villa sebelah sana," terang pelayan sembari menunjukkan arah halaman villa.
"APA?!"
###
Eh apaan nih? Kok tiba-tiba ada acara pernikahan saja. Apa kejutan yang dimaksud Clarissa itu adalah pernikahan yang akan digelar hari ini? Bagaimana ya reaksi Mahesa dengan ulah Clarissa itu? Akankah mau menuruti rencana Clarissa, kan kita tahu selama ini Mahesa nurut-nurut saja. Atau memberontak?
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.