Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Pamitan


__ADS_3

Seperti biasa kebiasaan pagi Delina adalah menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Ketika sibuk dengan kegiatannya di dapur. Dia dikejutkan dengan kedatangan kakak iparnya sudah menghampirinya.


"Eh ... em ... Kak Venya mau kemana? Kok pagi-pagi sudah rapih banget?" tanya Delina melihat penampilan Venya yang sudah rapih.


"Kita mau pamitan kembali ke Jepang, Gin masih banyak pekerjaan disana," balas Venya.


Perempuan yang duduk di kursi roda itu pun tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali Delina lihat selama kenal dengan Venya.


"Lho bukannya Kakak masih dalam masa pemulihan? Memang bagaimana kata dokter?" tanya Delina khawatir.


"Aku sudah dapat izin dari dokter kok," balasanya.


"Ta-tapi Kak, bukankah sebaiknya Kakak tetap disini biar aku tetap bisa memantau kesehatan Kakak?"


Ya, akhir-akhir ini hubungan mereka mulai membaik. Hal itu ditunjukkan dengan Venya yang sudah mau dibantu Delina menyiapkan segala kebutuhannya. Mulai drai menyiapkan makan, obat-obatan, dan mengantar ke dokter. Meskipun ada pelayan, Delina tetap ingin berbakti kepada kakak iparnya.


"Kakak ada masalah sama Mahesa?" Delina mulai curiga dengan suaminya sendiri. Pasalnya beberapa waktu yang lalu suaminya mengingatkan untuk menjauh dari Venya. Dia pun berprasangka bahwa suaminya yang mendasari Venya ingin kembali ke Jepang.


Venya hanya tersenyum menanggapi. Memang tidak terjadi perdebatan antara dia dengan adik kandungnya. Tetapi Venya merasakan perubahan pada diri Mahesa. Bahkan beberapa kali Venya mencoba menyapa Mahesa, tetapi tetap saja diacuhkan.


"Kalau ada masalah, nanti coba aku bicarakan sama Mahesa, Kak," lanjut Delina saat tidak mendapat tanggapan dari Venya.


"Kakak tetap disini ya." Delina berjalan mendekati kursi roda Venya.


"Gin sudah mengajakku bersama anak-anak untuk pulang," jawab Venya dengan senyuman.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu juga terdengar keributan dari arah kamar anak-anak. Delina yang bingung langsung mendorong kursi roda Venya menuju ke sumber keributan. Tampaknya kedua anak Venya, Keina dan Daiki menolak untuk diajak kembali ke Jepang.


"Kami tidak mau pulang, Daddy!" tegas Daiki seraya berkacak pinggang kepada papanya.


"Benar, kami mau tetap tinggal disini!" sambung Keina menarik kembali koper berwarna pink masuk ke kamarnya.


"Kalau Daddy mau pulang sendiri saja. Kami masih tetap mau disini!" tambah Daik yang diangguki kepala oleh saudarinya.


Kedua anak itu langsung masuk ke dalam kamarnya dan menggunci kamar itu dari dalam. Tidak memedulikan siapapun yang mengetuk pintu kamar itu dan menyuruh mereka keluar. Dua anak itu benar-benar tidak mau meninggalkan Indonesia.


"Sayang ayolah keluar. Nanti kalau liburan lagi, kita kesini lagi," teriak Venya membujuk anak-anaknya.


"Ayo Sayang," tambahnya terus membujuk.


"Sudahlah, Kak. Sebaiknya kalian tetap tinggal disini saja. Aku senang rumahnya ramai," sela Delina.


"Ya sudah biarkan saja mereka kembali kesana. Toh, rumahnya disana dan harus mengurus perusahaan," jawab Mahesa santai.


"Lho kok dibiarkan sih!" kesal Delina saat jawaban suaminya tidak sesuai dengan harapannya.


"Ayo cepat cegah mereka agar tidak kembali ke Jepang!" lanjut Delina menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih rebahan di atas tempat tidur.


Bukannya cepat bangun, Mahesa tetap rebahan dan menghiraukan Delina. Hingga membuat Delina kesal dan mecubit pinggang suaminya.


"Sebenarnya ada masalah apa kamu sama kakak kamu?" tanya Delina.

__ADS_1


"Ayolah cerita!" paksanya.


Tetap tak menghiraukan membuat Delina mengeluarkan jurus menggomelnya.


"Ih dasar enggak punya perasaan!" omelnya.


"Tega sekali kamu dengan saudara kandung kamu sendiri?"


"Kak Venya itu butuh dukungan dari keluarganya bukan malah dicuekin seperti ini Sayang!"


"Dia mau minta tolong sama siapa coba?"


"Sama papa? Mama?"


Sontak Delina terdiam dan menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya sendiri. Barusan dia teringat mengenai mama dari suaminya. Selama ini Mahesa tidak pernah menceritakan mamanya kepada Delina dan Delina baru menyadari saat ini.


"Oh iya mama kamu---" ucapannya langsung terjeda karena Mahesa.


"Aku mau mandi dulu. Sudah siang," ucapnya beranjak dari tempat tidur.


###


Heheh btw iya juga ya. Kemana mama dari Mahesa dan Venya.


Oh iya maaf hari ini up satu bab dulu ya. Besok lanjut dua bab.πŸ™ŒπŸ™

__ADS_1


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.


__ADS_2