
Keesokan harinya Mahesa menyambut harinya dengan gembira. Pria itu sedang bercermin memastikan penampilannya sudah keren. Hari ini kembali dia akan mengunjungi rumah Delina. Tidak ada lagi orang yang akan menganggu jalannya untuk mendapatkan Delina kembali.
"Selamat pagi istri dan anakku," sapa Mahesa yang sudah melihat Delina beserta anaknya di depan pintu.
"Mau kemana nih? Pagi-pagi sudah rapi seperti ini," lanjutnya.
Dia kira sikap Delina akan mencair setelah mengetahui kebusukan Bram. Ternyata istrinya itu tetap dingin saat berhadapan dengannya. Dengan menggendong Baby El , Delina melangkahkan kakinya menyusuri trotoar pinggir jalan.
"Sayang kamu mau kemana? Kenapa jalan kaki?" tanya Mahesa berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Delina.
Mahesa merasa iba dengan Delina yang terus berjalan kaki dengan menggendong Baby El. Dia mengira Delina tidak memiliki uang sehingga membuatnya harus jalan kaki. Akhirnya Mahesa memiliki ide untuk memesan taksi secara online.
"Naik saja sendiri," tolak Delina saat taksi itu berjalan pelan mengiringi langkah kakinya.
"Ayolah Sayang. Aku kasian kalau kamu capek," teriak Mahesa yang duduk dikursi belakang taksi tersebut.
Karena tidak digubris oleh Delina dan perempuan itu terus berjalan. Terpaksa Mahesa harus turun dari taksi setelah membayarnya. Dia ikutan berjalan di belakang Delina, mengikuti kemana perginya istri dan anaknya itu.
"Aku sudah memesan hotel di daerah sini. Kita bisa istrirahat disana," ucap Mahesa memberitahu.
"Istirahat saja sendiri," tolak Delina.
"Aku tidak bisa ke hotel itu kalau kau masih kepanasan disini," balas Mahesa.
Ternyata perempuan itu pergi ke pantai untuk menghabiskan waktunya dengan sang anak. Pasalnya Delina sudah tidak mau bekerja lagi di agen travel milik Bram. Dikarenakan masalah yang kemarin, dia merasa bersalah karena memanfaatkan Bram demi kepentingan memanas-manasi suaminya.
__ADS_1
"Jadi kamu beneran enggak mau menempati hotel yang sudah aku sewa khusus untukmu?" tanya Mahesa sekali lagi.
"Enggak!" tegas Delina.
Padahal Mahesa berniat baik agar istri dan anaknya tetap bisa berlibur di pantai dengan fasilitas mewah. Karena hotel itu berada tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Bahkan hotel itu menyediakan private beach untuk para pengunjungnya.
"Ya sudah kalau begitu," ucapnya pasrah lalu ikutan duduk dipinggiran pantai.
"Apakah kau ingin minum? Mau aku belikan minuman apa?" tanya Mahesa menawarkan.
"Aku sudah membawanya," jawab Delina mengeluarkan botol air minum. Lalu meneguknya.
Belajar dari pengalaman taksi dan hotel, kini kalau ingin membelikan sesuatu untuk istrinya itu. Mahesa wajib bertanya terlebih dahulu. Daripada terbuang sia-sia karena Delina tidak menginginkannya.
"Jadi begini kehidupanmu selama di Bali ya?" tanya Mahesa basa-basi membuka obrolan.
"Terlalu berhemat, padahal kau istri orang kaya," ucap Mahesa.
"Bukan hanya saat di Bali saja. Kehidupanku sejak dulu juga seperti ini," ungkap Delina.
"Kau saja yang jarang memperhatikanku. Karena kau terlalu sibuk mengurs dirimu sendiri dan istri pertamamu dulu," sindir Delina.
Memang benar apa yang dikatakan Delina. Mahesa tidak tahu banyak mengenai Delina, bahkan dia tahu kebiasaan Delina akhir-akhir ini. Itu pun karena memata-matai Delina. Dulu mana peduli dia dengan Delina. Yang ada hanya membencinya karena fitnah dari orang-orang disekitarnya yang mengatakan tentang Delina yang jahat.
"Maafkan aku Sayang. Jangan kau ungkit-ungkit lagi permasalahan itu. Aku ingin melupakannya," pinta Mahesa.
__ADS_1
Delina berdecih mendengar permintaan Mahesa itu. Seenaknya saja dia mengatakan untuk melupakan itu semua. Padahal rasa sakit yang dirasakan Delina masih terasa sampai saat ini.
"Sayang ... aku ingin mengatakan sesuatu," lanjut Mahesa.
Sebenarnya pria itu ingin mendengarkan keputusan Delina tentang ajakan untuk kembali berumah tangga dengannya.
"Halo. Iya? Ada apa?" ucap Delina menerima panggilan telepon.
Dia melangkah menjauh dari tempat duduknya tadi. Sepertinya menjauh juga dari Mahesa agar obrolannya tidak didengar.
"Baiklah. Aku akan segera menyelesaikannya," ucapnya lagi.
Ketika Mahesa mencoba mengikuti Delina, perempuan itu semakin me jauh. Seperti ada yang sedang ditutup-tutupi oleh Delina.
"Siapa pria yang menelepon kamu?" tanya Mahesa setelah Delina menutup sambungan teleponnya.
"Bukan urusanmu," jawabnya ketus.
###
Siapa ya kira-kira yang ditelepon Delina? Sepertinya Mahesa mulai cemburu lagi nih.
Ohiya kira-kira apa keputusan Delina tentang rumah tangga mereka?
Jawabannya ada di bab berikutnya.
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.