
Pagi itu Delina dikejutkan dengan kedatangan tamu seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Perempuan dengan pakaian kerja rapih, namun terkesan seksi. Dia sudah duduk di sofa ruang tamu dengan kaki yang menyilang dan tangan memegang berkas.
"Oh baiklah. Tunggulah sebentar," ucap Delina kemudian membalikkan badannya.
Delina hendak menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya yang masih berada di dalam kamar. Sesampainya di kamar Delina langsung melipat tangannya didepan dada. Tentu saja membuat Mahesa yang saat itu sedang merapihkan penampilannya bertanya-tanya.
"Kamu kenapa Sayang?" tanyanya sembari melihat pantulan istrinya dari cermin.
"Pagi-pagi sudah cemberut kaya gitu. Tadi kan sudah aku kasih jatah morning kiss," goda Mahesa.
"Mau lagi?" lanjutnya sembari mengancingkan lengan kemejanya.
Karena istrinya tidak menjawab, segera Mahesa membalikkan badan dan mendekati sang istri. Mencolek dagu istrinya, "Hei, kamu kenapa Sayang?"
"Kau membawa kekasihmu ke rumah?" ucap Delina sinis.
"Dia sudah menunggumu di bawah!" lanjutnya dengan datar.
"Kekasih? Di bawah?" ulang Mahesa mengernyitkan alisnya.
"Iya kekasih kamu yang cantik dan seksi sudah menunggumu di bawah!" tegas Delina.
"Siapa sih Sayang? Jangan membuatku bingung," ucap Mahesa.
__ADS_1
Mahesa menarik lengan istrinya untuk keluar dari kamarnya. Menuruni satu persatu anak tangga untuk menuju ke ruang tamu. Pria itu tampak menghembuskan napas lega saat mendapati perempuan yang dimaksud Delina sebagai kekasihnya.
"Oh alah ... dia itu Gritte. Sekertaris Pak Thomas," jelas Mahesa menatap istrinya.
"Dan Gritte, perkenalkan dia adalah istriku," lanjutnya menatap kearah Gritte.
"Hah? Sekertaris Pak Thomas?" Ulang Delina dengan dahi berkerut.
Perempuan itu sedang mengingat-ingat tentang sekertaris rekan kerjanya itu. Sembari mengingat-ingat, dia menatap kearah perempuan yang tampak gusar.
"Bukankah sekertaris Pak Thomas itu ... ehm ..." Delina terus mengingat-ingat namanya, namun gagal.
"Aku lupa namanya, tetapi bukankah sekertarisnya pria ya?" lanjut Delina.
"Iya kan Grit?" tanyanya pada perempuan itu.
Gritte menganggukkan kepalanya. Kemudian mengutarakan niatnya datang ke rumah itu pagi-pagi sekali. Memang terkesan kurang sopan, tetapi Gritte sedang membutuhkan tanda tangan Mahesa dengan segera. Karena pukul delapan pagi nanti, berkas harus sudah berada di tangan klien.
"Maafkan saya Tuan sudah menganggu waktu Anda," ucapnya sembari memasukkan kembali berkas-berkas itu.
"Oh tidak apa-apa. Selagi itu berkas penting, tidak masalah datang ke rumah sepagi ini," sahut Mahesa.
"Tetapi alangkah lebih baiknya kau hubungi aku terlebih dahulu. Siapa tahu aku bisa berangkat ke kantor lebih pagi," lanjutnya.
__ADS_1
Perempuan itu hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia pun kemudian berpamitan kepada tuan rumah.
"Terima kasih atas waktunya," pungkasnya.
"Mari," ucapnya menundukkan kepalanya kepada Mahesa dan Delina.
Meskipun Delina tetap membalas senyuman yang diberikan oleh Gritte. Tetapi dalam hatinya Delina mencurigai perempuan itu. Pasalnya semenjak kedatangannya Delina merasa perempuan itu terus memerhatikannya. Ya, menatapnya secara diam-diam. Delina sangat merasakan dirinya terus diamati oleh Gritte. Jadilah Delina bertanya-tanya sebenarnya apa maksud dan tujuan perempuan itu.
"Wah, enak ya sekarang di kantor dapat pemandangan segar," sindir Delina yang kembali melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pantes saja akhir-akhir ini betah banget di kantor," lanjutnya.
"Sayang ... bukan karena itu. Aku kan memang menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum akhir tahun," balas Mahesa.
"Halah alasan!" kesal Delina yang langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.
"Sayang percayalah ... aku---"
###
Wah akankah terjadi keributan lagi? Sebenarnya siapa Gritte?
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.
__ADS_1