
Mahesa dibawa ke kantor Komisi Penanggulangan Korupsi (KPK) oleh beberapa petugas dikawal pihak kepolisian. Guna pemeriksaan lebih lanjut atas dugaan kasus korupsi. Pihak KPK mengatakan bahwa Mahesa telah bekerjasama dengan salah satu menteri. Dan menteri tersebut tersangkut kasus korupsi bantuan sosial.
"Ini enggak mungkin Fer," teriak Delina frustasi.
"Gak mungkin Tuan Mahesa terlibat kasus korupsi," protesnya tidak terima.
"Semua kerjasama dengan pihak luar, aku yang menangani."
Delina memastikan suaminya itu tidak melakukan korupsi. Sebagai sekertaris Delina paham betul pihak mana saja yang berkerjasama dengan Mahesa Grup. Dan dia merasa tidak ikut campur dalam proyek bantuan sosial dengan salah satu menteri.
"Saya juga yakin Tuan Mahesa tidak melakukan tindakan keji tersebut, Nona," ucap Ferdi.
"Tetapi Pak Hendra mengatakan bahwa polisi mendapatkan bukti pertemuan antara Tuan Mahesa dengan Menteri XY," imbuh Ferdi.
"Dari bukti itu pula terlihat Tuan Mahesa menandatangani berkas kerjasama proyek bantuan sosial."
"Astaga!" Delina memijit pelipisnya.
"Proyek bantuan sosial?" ulang Delina bertanya.
Ferdi menganggukkan kepalanya, "Iya, Nona. Kata Pak Handra kasusnya proyek bantuan sosial."
__ADS_1
Hendra Pranoto adalah kuasa hukum Keluarga Mahesa yang saat ini memantau kasus hukum Mahesa. Karena hanya kuasa hukum yang diperbolehkan menemani Mahesa. Sementara yang lainnya di rumah mengikuti perkembangan kasus yang disampaikan secara langsung oleh Hendra.
"Kapan pertemuan itu berlangsung? Apakah pertemuan itu hanya ada Tuan Mahesa dan Menteri XY saja?" tanya Delina menautkan alisnya.
"Saya belum mengetahui informasi secara keseluruhannya, Nona," jawab Ferdi.
Asisten tuan muda itu juga sangat kaget mengetahui kasus ini. Selama ini tidak pernah Ferdi membiarkan tuan mudanya berpergian sendiri. Pasti ada dia dibelakang Mahesa kemana pun dan dimana pun dia berada.
"Aku yakin Tuan Mahesa kena fitnah," ucap Delina dengan percaya diri.
"Sudah pasti ini fitnah dari orang-orang yang ingin menjatuhkan Tuan Mahesa."
Keduanya sama-sama menduga ini ulah Maharani. Namun, mereka belum berani menuduh kalau belum ada buktinya. Maka mereka akan mencari bukti terlebih dahulu sebelum memberikan statement.
"Kita harus segera mencari bukti untuk membebaskan Tuan Mahesa, Fer," ucap Delina.
"Tentu saja, Nona. Saya akan ke perusahaan untuk meminta bantuan Tim IT. Mencari rekaman CCTV dimana dan kapan Tuan Mahesa bertemu dengan Menteri XY," ucap Ferdi.
"Aku juga akan memeriksa berkas-berkas yang telah ditandatangani Tuan Mahesa untuk proyek itu," sahut Delina.
Sesaat Ferdi menerima panggilan telepon dari Hendra. Ferdi kembali menghampiri Delina, "Nona Anda juga akan dimintai keterangan. Pak Hendra menyuruh Anda menemui beliau sekarang."
__ADS_1
Delina menautkan alisnya bingung. Tetapi perempuan itu segera berdiri dan meraih tasnya. Dia akan segera berangkat ke kantor KPK.
"Nona ..." panggil salah satu pelayan perempuan yang baru saja tiba di ruang tamu saat Delina akan beranjak.
"Apa apa?" tanya Delina melihat kepanikan dari wajah pelayannya itu.
"Tu-tuan Atmajaya ..." ucapnya terjeda.
"Kenapa papa?" sahut Delina dengan cepat.
Tanpa basa-basi lagi Delina segera berlari menuju ke kamar Atmajaya. Disana sudah ada beberapa pelayan yang berkumpul membantu Atmajaya. Ternyata sudah ada dokter keluarga di sana. Lalu kenapa pelayan itu panik memanggil Delina?
"Bagaimana kondisi Papa, Dok?" teriak Delina menghampiri Atmajaya yang terbaring di atas ranjang.
"Maaf, Nona ..." ucap dokter itu.
###
Kenapa si dokter minta maaf? Duh jadi parno sendiri ini. Kenapa dengan Atmajaya? Berdoa yuk.
🌱Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu.
__ADS_1