Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Detik-detik Pernikahan


__ADS_3

"Sayang ... sebentar lagi dunia akan tahu kalau kamu adalah milikku," bisik Mahesa tepat di telinga Delina.


Perempuan cantik dengan handuk kimono itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Mahesa langsung menangkap tubuhnya dan mendekapnya erat.


"Terima kasih telah banyak berjuang untukku," bisiknya lagi.


Di depan cermin rias itu keduanya berdiri. Mahesa masih bergelayut manja sembari memeluk tubuh Delina. Sementara Delina sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Aku enggak tahu lagi kalau bukan kamu yang menjadi pendampingku. Pasti hidupku dan perusahaan sudah berantakan," lanjut pria itu.


Semua perempuan yang mendekatinya dengan alasan harta. Pasti hanya akan mengincar harta kekayaan yang dimiliki Mahesa. Tetapi beruntunglah dia menemukan Delina yang bahkan tidak memikirkan sedikit pun masalah harta.


"Makanya kau harus lebih berhati-hati dengan semua orang yang ada dilingkungan kamu," ucap Delina.


"Semua yang kita lihat baik belum tentu benar-benar baik. Dan begitu pula sebaliknya," lanjutnya.


Bagi Mahesa, Delina lah yang sudah berkorban banyak untuk kepentingannya. Mulai dari menyelamatkan aset perusahaan, sampai melawan musuh licik perusahaan. Meskipun usianya masih muda, namun Delina cukup cerdas menghadapi itu semua.

__ADS_1


"Aku bersyukur memiliki istri yang sangat cerdas seperti kamu Sayang," puji Mahesa.


Pria itu menciumi ceruk leher Delina. Menghirup dalam aroma tubuh Delina yang selalu memikatnya. Dari ciuman yang lembut sampai ke kecupan yang beringas. Delina awalnya menerima itu semua.


"Sayang sudah lepaskan. Aku harus bersiap," ucap Delina saat Mahesa mulai tak terkendali.


"Ayolah Sayang. Sebentar saja," pintanya dengan napas yang sudah menderu.


"Aku harus bersiap. Banyak orang yang sudah menungguku," tolak Delina.


"Biarkan saja. Mereka akan aku bayar lebih untuk ganti menunggu," ujar Mahesa.


"Sayang---" ucapan Delina terhenti tatkala Mahesa langsung membungkam bibir Delina dengan bibirnya.


Pria itu m#elum4t habis bibir istrinya. Mendorong tubuh Delina untuk terlentang di atas tempat tidur. Mahesa segera merangkak naik ke atas tubuh Delina.


"Sayang ada yang mengetuk pintu," ucap Delina disela-sela kegiatan itu.

__ADS_1


Mahesa tidak menghiraukan dia terus memompa tubuh Nayara yang berada di bawahnya. Ketukan pintu dan perkataan Delina tidak dia hiraukan. Justru pria itu semakin membuat Delina mende-$4h.


"Sayang hentikan," pinta Delina berusaha mendudukkan tubuhnya. Namun, kembali didorong oleh Mahesa.


Akhirnya tangan pria itu menutup mulut Delina. Memang suara de-$4han yang bagi Mahesa merdu itu tidak akan terdengar. Mahesa melakukan itu agar Delina tidak dapat protes lagi.


"Ahhhhh ..." sebuah lenguhan panjang terdengar dari mulut Mahesa. Yang menandakan pria itu sudah mencapai puncaknya.


Bersamaan dengan suara itu Mahesa merebahkan tubuhnya di samping Delina. Keringat sudah membanjiri tubuh keduanya. Padahal Delina baru saja menyelesaikan mandinya.


"Sudah?" tanya Delina menoleh ke sampingnya. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam.


Permainan singkat itu berlangsung hanya satu kali puncak. Karena dari luar pintu kamarnya masih saja terdengar ketukan pintu dan suara yang memanggilnya.


"Delina ... MUA sudah datang," teriak Vennya.


"Iya Kak. Tunggu sebentar ya," balas Delina berteriak.

__ADS_1


"Aku baru bangun. Tunggulah dulu. Aku akan mandi dengan cepat."


Vennya menggelengkan kepalanya saat tahu beberapa jam sebelum acara pernikahan. Adik iparnya itu baru saja bangun.


__ADS_2