
Mahesa mencoba menahan emosinya agar tidak meluap begitu saja. Dia mencoba tenang dan terus memantau Delina dari penginapannya. Sudah genap dua hari Mahesa menginap di penginapan tersebut. Setiap harinya dia gunakan untuk memata-matai Delina. Dari sanalah Mahesa mulai mendapatkan klue menengani pekerjaan Delina. yang sebenarnya.
"Mau kemana lagi dia?" gumam Mahesa mengikuti Delina.
Rupanya Delina bekerja disebuah agen travel ternama di Bali. Pekerjaannya memang mengkoordinasi turis baik lokal atau mancanegara yang menggunakan jasa travelnya. Menjemput kliennya di bandara, lalu mengantarkan ke penginapan. Begitulah pekerjaan Delina setiap harinya.
"Capek juga mengikuti Delina kesana-kemari," gumam Mahesa merasa lelah.
Jelas saja jika dia lelah. Delina masih sama seperti Delina yang dulu. Selalu totalitas dalam mengerjakan pekerjaan apa pun. Meskipun pekerjaannya di agen travel dia tetap gesit dan cekatan melayani klien di lapangan. Dalam sehari dia bisa bolak-balik bandara sebanyak lima kali.
"Orang itu enggak ada capek-capeknya apa ya?" keluh Mahesa.
Bos tempat Delina bekerja tentu saja sangat suka dengan pekerjaannya. Selain sering memberikan bonus untuk Delina, Bram juga tidak sungkan membantu Delina saat membutuhkan bantuan. Seperti saat mendadak pindah rumah, Bram langsung turun tangan membantunya.
"Ah! Sudahlah mendingan aku menjenguk anaknya Delina saja. Aku ingin melihat wajahnya," ucap Mahesa yang akhirnya menyerah dan berbalik arah.
"Toh aku sudah tahu apa pekerjaan Delina," lanjut Mahesa.
"Ternyata enggak jual diri. hehe."
"Maafkan aku Delina. Sudah berprsangka buruk kepadamu."
__ADS_1
Mahesa mengendarai motor yang dia sewa entah sudah berapa lama itu. Dia meninggalkan Mobil Rubicon-nya di tempat penyewaan motor dekat bandara. Dan belum ada niatan untuk mengembalikan motor yang dia bawa, selama urusannya dengan Delina selesai.
"Permisi. Saya ingin melihat wajah anaknya Delina Rizky," ucap Mahesa sesampainya di tempat penitipan anak.
Setiap pagi Mahesa melihat Delina mampir ke tempat penitipan anak yang tidak jauh drai rumah barunya. Makanya sore menjelang malam itu, Mahesa berniat untuk menjenguk bayinya Delina. Untung saja ide cemerlang itu muncul dipikirannya.
"Maaf ini dengan siapa ya?" tanya petugas disana.
"Saya suaminya Delina. Dan saya ingin melihat wajah anak yang dititipkan seorang ibu atas nama Delina Rizky," jawab Mahesa.
Petugas disana saling bisik dan sesekali tersenyum. Mereka tersenyum karena melihat ketampanan papa muda dihadapan mereka. Sebenarnya aturan disana tidak boleh memperlihatkan anak yang dititipkan kepada orang lain selain orang yang menitipkannya.
"Saya hanya ingin melihat wajahnya saja kok," lanjut Mahesa.
Dari hasil pembicaraan antara petugas disana, akhirnya anak yang dititipkan Delina digendong keluar. Para petugas yakin bahwa pria itu adalah ayah dari anak Delina. Karena wajah mereka sangatlah mirip.
"Ini, Tuan," ucap petugas pentipan anak memperlihatkan wajah bayi yang ada digendongannya.
"Bayinya tampan sekali sangat mirip dengan Anda," lanjut petugas.
Baru beberapa detik Mahesa melihat wajah bayi itu. Dan segera dia merogoh celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian memotret wajah bayi yang memang banyak kemiripan dengannya. Mulai dari mata. hidung, mulut, dan dagunya sama persis dengan Mahesa.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh Anda memotret anak saya?" suara tegas itu membuat Mahesa terdiam sejenak.
"Berikan kepada saya," pinta Delina yang sudah tiba di tempat itu dan langsung menggendong bayinya.
Segera Delina menutupi wajah bayinya agar tidak dilihat oleh Mahesa. Matanya langsung melotot kearah Mahesa, "Saya minta hapus foto itu!"
Mahesa menggelangkan kepalanya seraya menyembunyikan ponselnya menjauh dari Delina. Karena jengkel Delina segera beranjak keluar dari tempat penitipan anak. Mahesa mengejarnya dan sempat menahan lengan Delina.
"Delina anak siapa ini?" tanya Mahesa.
Tidak mendapat jawaban dari Delina membuat Mahesa semakin mencegahnya pergi. Pria itu kekeh menahan agar Delina tidak beranjak darinya.
"Aku mohon katakan kepadaku. Anak siapa ini?" mohon Mahesa pelan, namun penuh penekanan.
Delina menyunggingkan senyuman sinis, "Anak siapa kalau bukan anakmu?!"
Seteleh mengatakan itu Delina berlari meninggalkan Mahesa yang termenung. Entahlah Mahesa bingung antara senang atau sedih. Antara percaya atau tidak percaya. Antara harus mengejar Delina atau tetap diam?
###
Wah ... wah ... wah ... meskipun itu anaknya Mahesa. Tetapi tampaknya Delina tidak mau anaknya disentuh oleh ayah kandungnya ya. Bagaimana ceritanya Delina tiba-tiba melahirkan seorang anak? Sajak kapan dia tahu kalau sedang mengandung. Banyak pertanyaan nih.
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.