
"Iya ... tetapi kenapa, Kak?" protes Delina.
"Kakak jelasin dulu deh daripada buat aku bertanya-tanya," lanjutnya kesal.
Setelah sekian lama tidak saling bicara. Akhirnya Delina bisa berbicara dengan kakaknya, Ferdi. Melalui sambungan telepon. Itu pun dilakukan karena yang menelepon pertama kali adalah Mahesa yang mengabarkan mengenai resepsi pernikahan mereka yang akan digelar.
"Aku juga ingin diakui publik, Kak," kesal Delina.
"Sudah terlalu lama aku disembunyiin kaya gini. Capek tahu, emangnya aku selingkuhan dia apa?" protesanya.
"Sebaiknya kamu memperpanjang sabarmu dulu, Delina. Masih ada orang-orang baru yang mengintai Keluarga Mahesa," jelas Ferdi yang membuat sepasang suami istri itu semakin bertanya-tanya.
Yang ditakutkan Ferdi ketika identitas istri resmi Mahesa diketahui publik. Orang-orang jahat itu tidak segan-segan mencelakai Delina. Dan itu sangat berbahaya bagi adik kandungnya, Ferdi tidak mau terjadi sesuatu pada Keluarga Mahesa. Sehingga menyarankan lebih baik tetap seperti ini untuk beberapa saat kedepan.
"Dan mereka memiliki niat jahat kepada anggota Keluarga Mahesa," imbuhnya setelah terdiam sejenak.
Saat itu juga Mahesa yang mendengar penuturan Ferdi, langsung menarik ponselnya dari tangan Delina. Dia berkata, "Hah? Maksud kamu apa Ferdi? Siapa orang yang ingin mencelakai anggota keluargaku, Fer?"
"Cepat katakan siapa orangnya. Ini tidak dapat dibiarkan, aku harus menuntaskannya terlebih dahulu," lanjut Mahesa dengan geram.
"Tidak. Orang yang aku maksud masih dalam tahap penyelidikan yang aku lakukan bersama timku. Untuk sementara lebih baik kalian pura-pura tidak tahu dan diam saja. Jika sekiranya orang tersebut memulai aksi jahatnya, aku akan katakan kepada para pengawal untuk lebih ketat menjaga kalian," papar Ferdi.
Jarak yang jauh tidak membuat Ferdi cuek dan acuh dengan keluarganya di ibukota. Pria itu tetap memantau perkembangan perusahaan pusat dan memantau musuhndari dalam tanah. Alias musuh yang diam-diam mencoba untuk menjatuhkan perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Ferdi cepat katakan siapa orang itu. Biar aku habisi orang itu sekarang juga!" tegas Mahesa.
"Kurang ajar sudah berani-beraninya ingin mencelakai keluargaku," gumamnya.
Terdengar gelak tawa dari sambungan telepon tersbut. Jelas saja tawa dari Ferdi membuat Mahesa kesal. Bukannya memberikan jawaban justru ditertawakan dalam keadaan yang tegang seperti saat ini.
"Hey! Apakah kau sudah gila?" sentak Mahesa kesal kepada kakak iparnya itu.
"Kau menertawakan aku disaat keadaan seperi ini?' lanjutnya.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan keluargaku, Ferdi!"
Sejenak Ferdi langsung menghentikan tawanya, "Kau tidak usah banyak gaya untuk mencari tahu orang jahat itu. Memangnya kau bisa menghadapinya sendiri?"
"Bukannya aku meremehkan kamu. Tetapi melihat dari jejak mengatasi musuh perusahaan. Kau selalu gagal dan terlena dengan musuh. Dan akulah yang selalu bisa mengatasi semua musuh-musuhmu," sombong Ferdi.
"Ingatlah, musuh kali ini bukanlah musuh yang main-main. Dia sengaja memantau kamu dan keluargamu drai kejauhan. Ketika sudah tahu kelemahan kamu beserta keluargamu, dia akan menyerang secara mendadak," urai Ferdi.
"Oleh karena itu saat ini bukan saatnya untuk bertindak cepat. Tetapi kita harus diam, pura-pura tidak tahu, namun tetap waspada."
Terdengar hembusan napas kasar dari kakak iparnya di seberang sana. Kembali pria itu mengingatkan, "Percayakan semuanya kepadaku, aku telah berkoordinasi dengan Robby, Lily, dan beberapa pengawal untuk menjaga kalian lebih ketat lagi."
"Disamping itu aku juga terus memantau pergerakan orang itu bersama timku. Tenang saja selama semuanya ada ditanganku. Dan yang paling penting jangan dulu adakan acara resepsi yang sudah kalian rencanakan. Aku tidak merestuinya."
__ADS_1
Memang terbesit sedikit kekecewaan di hati sepasang suami istri itu. Karena rencana mereka sudah matang dan sedang tahap diskusi dengan wedding organizer. Tetapi semua harus sirna karena perintah dari Ferdi yang memang ada baiknya untuk tunda dulu acara itu.
"Nyawa dan keselamatan kalian lebih penting dari acara resepsi itu," lanjut Ferdi.
"Apa kau pikir acara ini tidak penting?" sahut Mahesa tidak terima.
"Tidak. Sebelum aku yang menikah dan diketahui publik lebih dulu. Barulah kalian yang mengumumkan pernikahan," canda Ferdi.
"Apa? Kakak ingin mengadakan acara pernikahan lebih dulu dari kita?" sela Delina dengan cepat merebut ponsel dari tangan suaminya.
"Boleh kok Kak, sangatlah boleh. Aku sangat merestuinya. Memang siapa calon istri Kakak? Kok aku belum dikenalin sama calon kakak iparku?" sambungnya nyerocos.
"Ah senangnya mendengar kabar bahagia ini. Memangnya kapan kakak akan menggelar acara pernikahan Kakak? Aku sudah tidak sabar menerima undangannya."
Delina langsung memberondong Ferdi dengan berbagai pertanyaan. Membuat pria itu langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Setelah berjalan cukup lama, rupanya adiknya itu masih tetap berharap Ferdi segera menikah.
"Tuh kan kembali ngeselin," kesal Delina saat panggilan dimatikan.
"Haha ... kau terlalu mencampuri urusannya," sahut Mahesa.
###
Ada musuh baru nih. Siapa ya kira-kira dia? Orang lama atau orang baru? Dan apakah perkataan Ferdi yang ingin menikah adalah benar atau hanya candaan saja?
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.