
"Sayangku ... Delina ..." panggil Mahesa tidak sabar.
"Sayang kamu dimana?" teriaknya menaiki anak tangga.
"Sayang oh Sayangku ..."
Satu persatu kamar yang ada di lantai dua dia buka. Namun, dia tidak menemukan istrinya disana. Kemudian Mahesa memutuskan untuk kembali turun ke lantai bawah. Barangkali istrinya sedang di taman atau di dapur.
"Astaga Sayang! Aku mencarimu kemana-mana," ucap Mahesa saat mendapati Delina berada di dalam kamar Baby Sahira.
"Aku ada kabar gembira untukmu," ucapnya tidak sabar.
Perempuan itu tampak cuek dan tetap melanjutkan menemani Baby El dan Baby Sahira main. Dia masih saja menyimpan kekesalan untuk suaminya. Hingga akhirnya Mahesa mendekati Delina dan menciumnya dari belakang, Sempat Delina meronta dan menolak perlakuan suaminya itu.
"Dari hasil tes DNA, anak ini bukanlah anak kandungku, Sayang!" serunya dengan bahagia dan menunjukkan hasil tes itu kehadapan Delina.
Pria yang sedang berbahagia itu langsung menarik Delina ke dalam pelukannya. Kali ini Delina tidak menolak, jujur saja dia juga sangat bahagia mendengar kabar itu. Tak terasa air mata bahagia menetes begitu saja di pipinya. Akhirnya dia tidak jadi dimadu oleh suaminya.
"Sayang kenapa kamu menangis? Bukankah harusnya kau harus bahagia?" Mahesa mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Tenang saja Sayang. Kamu satu-satunya untukku saat ini dan selamanya," lanjutnya berjanji.
"Dengan hasil tes DNA ini aku bisa menyangkal tuduhan Clarissa bahwa aku yang telah menghamilinya. Bahkan dia tidak bisa membuktikan kalau aku sudah memp3rkosanya," terang Mahesa.
__ADS_1
"Sekarang kamu jangan bersedih lagi ya."
Mahesa kembali mendekap Delina ke dalam pelukannya. Dia tidak akan membuat istrinya itu menjauh lagi dari dirinya. Dia tidak mau lagi kehilangan Delina, cukup sekali saja Delina pergi dari rumah, Dan cukup sekali saja rumah tangganya sempat renggang akibat anak titipan Clarissa.
"Lalu anak siapa Sahira?" tanya Delina usai menangis.
"Aku tidak tahu, Sayang. Dia kan perempuan malam. Jadi banyak orang yang sudah pernah menidurinya," jawab Mahesa.
"Termasuk kamu!" cibir Delina.
"Lebih baik kamu juga melakukan tes penyakit kelamin," lanjut Delina.
"Lho memang kenapa, Sayang?" Mahesa bingung.
"Te-tapi Sayang aku kan---"
"Enggak boleh ada alasan. Cepat lakukan itu semua demi kebaikan kita."
Mahesa hanya menganggukkan kepalanya menuruti perintah sang istri. Kemudian pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan. Agar tak melulu membicarakan tentang Clarissa saja.
"Soal Sahira aku akan menitipkan dia ke panti asuhan, Sayang. Lebih baik dia tinggal disana agar tidak menimbulkan fitnah," ungkap Mahesa.
"Aku takut orang diluar sana masih memfitnahku karena Sahira tetap berada di rumah ini."
__ADS_1
"Dan kamu juga pastinya akan lebih tenang jika Sahira tidak berada di rumah ini kan?"
Delina berpikir sejenak sembari menatap dua anak yang sedang bermain dihadapannya. Perlahan sebuah senyuman mulai terbit dari bibirnya. Dan kepalanya pun mulai menggelang, menolak usul suaminya barusan.
"Jangan ... biarkan Baby Sahira tetap di rumah ini menemani Baby El," ucapnya terus menatap dua anak itu.
"Mereka sudah mulai dekat bahkan akrab. Sehari saja tidak saling bertemu, mereka akan rewel seharian," lanjut Delina menjelaskan.
"Aku tidak tega memisahkan mereka berdua."
Mahesa tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu pria itu berkata, "Te-tapi Sayang. Nanti kalau orang diluar sana berpikir yang tidak-tidak bagaimana?"
"Ya enggak apa-apa tinggal enggak usah didengarkan saja kan beres," ucap Delina santai.
"Kamu yakin enggak apa-apa dia tinggal bersama kita?" Mahesa meyakinkan.
"Justru itu akan membuat anak kita senang."
###
Yuk simak kehidupan baru mereka dengan satu anak angkat. Apakah Delina bisa membagi cintanya adil pada dua anaknya?
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.
__ADS_1