Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Godaan


__ADS_3

Putusan pengadilan menyatakan Mahesa tidak bersalah. Pria yang menjabat sebagai CEO Mahesa Grup itu dijebak oleh beberapa oknum. Petugas akan segera menangkap oknum-oknum yang sebenarnya terlibat dalam kasus itu.


"Selamat, Tuan. Anda sudah bisa menghirup udara bebas," ucap Hendra menyambut kebebasan Mahesa.


"Terima kasih juga atas bantuannya, Pak," balas Mahesa mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hendra.


Sesampainya di rumah, kaki tuan muda itu melangkah pelan. Melihat sekeliling rumah mewahnya yang masih tetap sama. Tidak ada satu pun yang berubah dari penampilan fisik rumah tersebut. Hanya saja rumah itu rasanya hampa.


"Mari masuk, Tuan." Ferdi mempersilahkan.


Matanya masih terus menyapu rumah mewah peninggalan papanya itu. Jika dulu dia pulang untuk melepaskan rindu dengan sang papa atau istrinya. Kini dia pulang dengan segudang kerinduan entah bagaimana dia akan melepaskan rindunya.


"Pelayan sudah menyiapkan makan siang untuk Anda," ucap Ferdi.


Mahesa hanya menuruti arahan Ferdi yang mengajaknya ke ruang makan. Meskipun banyak makanan enak dihidangkan di atas meja. Namun, rasanya Ferdi tidak memiliki napsu makan. Dia hanya menyendokkan beberapa nasi ke dalam mulutnya.


"Habis ini kita ke makam," ucap Mahesa setelah sendokan ketiga. Tuan muda itu langsung menengkurapkan sendoknya di atas piring.


Ini merupakan kali pertama Mahesa mengunjungi makam Atmajaya. Tidak pernah terbayangkan bahwa dia tidak bisa melihat detik-detik saat papanya dikuburkan. Bahkan dia sama sekali tidak hadir saat pemakaman, karena harus menjadi tahanan


"Kita ke rumah orang tua Delina," ajak Mahesa yang diangguki kepala oleh Ferdi.


Setibanya di rumah orang tua Delina, Mahesa disambut baik oleh semua anggota keluarga Delina. Meskipun Mahesa bukanlah menantu yang baik dihadapan mereka selama ini. Tetapi mereka sangat menghormati kedatangan Mahesa.

__ADS_1


"Silahkan duduk," sambut Nugroho sembari mengarahkan tangannya ke sofa.


Mahesa dan kedua orang tua Delina larut dalam obrolan hangat pada siang menjelang sore itu. Sesekali mereka membicarakan mengenai Delina dan kebiasaannya. Berdasarkan apa yang disampaikan kedua orang tuanya, Delina adalah gadis yang manja. Namun, setelah hidup menjadi istri kedua sifatnya berubah drastis menjadi perempuan mandiri dan berwibawa.


"Ah ... Delina. Aku sangat merindukan kamu," gumam Mahesa seraya senyum-senyum sendiri.


"Oh iya. Dimana Delina?" tanya Nugroho disela-sela obrolan itu.


"Kok enggak ikut kesini?" lanjutnya.


Keluarga Delina tidak tahu mengenai masalah yang sedang melanda rumah tangga anaknya. Setahu mereka hubungan antara Mahesa dan Delina baik-baik saja. Karena memang Delina selalu ceria dan tampak bahagia ketika menceritakan kehidupannya bersama Mahesa.


"Pasti dia sedang sibuk kerja ya?" tebak Yunita, ibu Delina.


"Ingatkan dia untuk tidak terlalu sibuk bekerja. Sebagai perempuan dia juga harus mengurus rumah tangganya. Menyiapkan kebutuhan kamu, memasak untuk kamu, dan lain sebagainya," sahut Nugroho memberi nasihat.


"Dan tentunya untuk tidak lupa membuatkan cucu pertama untuk kami," lanjutnya.


Lagi-lagi Mahesa hanya tersenyum kaku menanggapi itu semua. Ternyata harapan orang tuanya dan mertuanya sama-sama mengharapkan calon cucu. Tetapi bagaimana mau memberikan calon cucu kalau Delina-nya saja tidak ada disampingnya.


"Baiklah. Akan aku sampaikan kepada Delina," ucap Mahesa sebelum pamit meninggalkan kediaman rumah orang tua Delina.


Sepanjang perjalanan menambah beban pikiran Mahesa. Disamping dirinya yang merasa bersalah akibat kepergian Delina. Dia juga merasa menyesal telah mengeluarkan kata-kata kasar dan sempat mengusir Delina saat itu. Dan kini dia tidak tahu harus mencari Delina kemana, padahal dia sudah mengerahkan banyak orang suruhan untuk mencari keberadaannya. Namun, sampai sekarang hasilnya nihil.

__ADS_1


"Antarkan aku ke Lightroom," pinta Mahesa kepada sopir yang mengantarkannya.


"Kenapa tuan mau kesana?" tanya Ferdi bingung.


"Aku hanya ingin melupakan sejenak semua masalah yang ada," jawab Mahesa tanpa menoleh kearah Ferdi.


"Apakah melepaskan masalah harus ke Lightroom, Tuan?" tanya Ferdi.


"Jangan banyak tanya! Ikuti saja perintahku dan setelah itu kau bisa langsung pulang!" tegasnya.


Lightroom adalah sebuah klub malam ternama di ibukota. Banyak pebisnis yang menghabiskan uangnya dengan berpesta disana. Dulunya hampir setiap malam Mahesa dan Maharani berpesta dengan teman-temannya di Lightroom.


"Ups ... maaf Tuan," ucap seorang perempuan cantik yang menyenggol bahu Mahesa saat berpapasan. Perempuan berambut pirang itu mengerlingkan matanya seraya mengangkat satu tangannya yang memegang segelas wine.


"Apakah kau datang sendirian?" tanya perempuan itu saat mendapati Mahesa yang dari tadi hanya sendirian.


"Tuan, apakah aku boleh duduk disini?" tanyanya lagi. Perempuan itu sepertinya siap menggoda mangsa barunya. Pria tampan yang jika dilihat dari luarnya sangatlah tajir.


###


Wah tau sendiri kan di klub malam itu pasti banyak godaan. Apalagi saat datangnya sendirian. Kita lihat saja apakah Mahesa akan tergoda atau kekeh hanya ingin melepaskan semua pikiran dan masalahnya saja?


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2