
"Emh ... Kakak beneran beli baju yang ini?" tanya Delina menenteng baju yang dipilihkan kakak iparnya.
"Iyalah, kamu itu butuh baju itu," ucap Venya.
"Aku malu pakai baju kaya gini, Kak," sambung Delina.
"Astaga Delina! Jadi selama ini kamu tidak punya baju kaya gitu?" tanya Venya kaget.
Venya memilihkan dua buah lingerie berwarna merah dan hitam. Bagi Delina pakaian itu terlalu seksi untuknya. Terlalu terbuka untuk tubuhnya, bahkan dia sangat malu membayangkan dirinya mengenakan pakaian itu.
"Kamu jangan terlalu polos Delina. Itu namanya pakaian dinas malam," ucap Venya lirih.
"Pakaian dinas malam?" ulang Delina mengernyitkan alisnya bingung.
"I-iya kamu pakai ini di depan Mahesa. Pasti dia senang dan memintamu memakai pakaian ini terus," lanjut Venya sembari cekikikan.
"Percaya deh," imbuhnya.
Baiklah disini Delina mulai paham dengan istilah pakaian dinas malam. Akhirnya dia pun menuruti perkataan Venya dan melanjutkan kegiatan belanja mereka. Lebih tepatnya Venya memilihkan beragam pakaian untuk Delina. Karena dia merasa Delina terlalu polos dalam hal berpakaian, dia pun berniat membuat adiknya menjadi lebih fashionable.
"Kak, aku ke toilet dulu ya," ucap Delina.
"Jangan! Aku ikut!" pinta Venya.
__ADS_1
"Kenapa ikut? Toiletnya kan deket, cuma disitu, Kak," lanjutnya sembari menunjuk ke suatu arah.
"Pokoknya aku ikut dan aku akan menunggumu tepat di depan pintu toilet," kekeh Venya.
Meskipun bingung Delina tetap menuruti kemauan Venya. Membiarkan kakak iparnya menunggunya di depan pintu toilet sampai dia selesai buang air kecil. Dan setelah itu Venya juga cepat-cepat mengajak Delina untuk kembali pulang. Padahal acara belanja mereka belum selesai.
"Ada apa sih, Kak?" tanya Delina penasaran dengan perubahan sikap Venya.
"Sudah cepat bayar belanjaannya dan kita pulang," perintah Venya.
"Baiklah, Kak. Tunggu sebentar ya."
Selama itu pula Venya terus mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Dia merasa ada beberapa orang yang dari tadi terus memantau aktivitas mereka. Awalnya Venya mengira itu hanya perasaannya saja. Tetapi penglihatannya menemukan satu sosok orang yang sejak tadi seperti mengikutinya.
"Masalah? Enggak ada, Kak," jawab Delina.
"Yakin?" Venya memastikan.
"Iya, Kak."
Delina adalah tipa orang yang tidak senang bermasalah dengan orang lain. Tipe orang yang suka mengalah daripada memperpanjang masalah. Kalau pun ada masalah dia akan segera menyelesaikannya agar tidak berlarut-larut.
"Sedari tadi kita diperhatikan sama orang asing," ucap Venya akhirnya jujur.
__ADS_1
"Sepertinya dia sedang memata-matai kamu," lanjutnya.
"Makanya aku tanya apakah kamu sedang bermasalah dengan orang lain."
Kembali Delina mencoba mengingat-ingat. Tetapi memang benar kalau saat ini dia sama sekali tidak memiliki masalah dengan orang lain. Karena akhir-akhir ini pula dia membatasi ruang geraknya di publik. Alias lebih banyak di rumah mengurus dua anak kecil, dua keponakan, dan mengantar Venya terapi.
"Salah lihat paling, Kak," ucap Delina berusaha positif thinking.
"Enggak mungkin," ucap Venya.
Karena merasa takut jika adik iparnya kenapa-kenapa. Venya mencari keberadaan Lily untuk memberitahukan kejadian tadi siang saat di mall. Tujuannya supaya pengawal pribadi Delina lebih sigap dan lebih ketat melakukan penjagaan terhadap Delina.
"Orang asing yang memata-matai Nona Delina?" ulang Lily setelah mendengar cerita panjang lebar dari Venya.
"Baiklah, Nyonya. Terima kasih atas informasinya," lanjutnya.
Tentu saja kabar itu membuat Lily menjadi tidak tenang dan terus kepikiran. Setelah kehidupan nona mudanya membaik dan berhubungan baik dengan Venya. Kenapa masih ada masalah yang harus membuatnya waspada kembali.
"Apa jangan-jangan orang itu ..." gumam Lily menebak-nebak.
###
Bentar-bentar sabar dulu siapa sebenarnya orang yang memata-matai Delina. Emang Lily tahu siapa orangnya?
__ADS_1
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.