Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Hampir Bunuh Diri


__ADS_3

Foto-foto yang dikirimkan Maharani kepada Mahesa tempo hari. Adalah foto-foto antara Delina dan Ferdi yang diambil secara tidak sengaja alias candid. Sebenarnya bukan foto yang bisa menggiring opini bahwa Ferdi dan Delina selingkuh. Hanya foto tanpa sengaja yang menunjukkan kedekatan antara mereka.


"Seseorang telah mengirimkan beberapa foto kemesraan kalian," kata Mahesa dengan menyunggingkan senyuman.


"Saya tidak pernah bermesraan dengan Nona Delina, Tuan," elak Ferdi.


Kemungkinan orang yang tidak bertanggung jawab itu memotret kebersamaannya dengan Delina. Foto diambil dari sudut pandangan yang membuat mereka tampak mesra. Padahal tidak sesuai dengan kenyataannya.


"Tidak usah mengelak. Aku punya semua buktinya," ejek Mahesa.


"Benar Tuan. Saya memang ada perasaan suka kepada Nona Delina. Namun, kamu tidak memiliki hubungan spesial," lanjut Ferdi membela diri.


"Tidak hanya foto. Aku juga memiliki screenshot rekaman CCTV saat kau masuk ke kamar Delina," tukas Mahesa.


"Apakah kau masih mau mengelak kalau tidak ada hubungan spesial diantara kalian?"


Sebenarnya Ferdi sangat penasaran siapa yang mengirim foto-foto itu kepada Mahesa. Dan bagaimana foto-foto itu diambil sampai membuat fitnah kepadanya.


"Tuan, Anda jangan salah paham terlebih dahulu. Saya masuk ke kamar Nona Delina untuk ..." ucap Ferdi kembali ke bayangan beberapa waktu yang lalu.


Diawal pernikahan Delina dan Mahesa, Ferdi pernah memergoki Venya dan Maharani menggeroyok Delina. Mereka memaki-maki Delina, mengancam Delina, dan tidak segan-segan memukul tubuh Delina. Kebetulan saat itu tidak ada siapa pun di rumah kecuali pelayan.


"Ampun Nyonya ... ampun ..." tangis Delina memohon Venya dan Maharani menghentikan aksinya. Perempuan itu memohon dengan bersimpuh di lantai.


Satu kali pukulan keras di kepala Delina membuat Delina tak sadarkan diri. Dua perempuan itu saling tatapan dengan tersenyum bangga bisa menghabisi Delina. Aksi mereka tentu saja tidak terekam CCTV, karena sebelumnya mereka sudah mematikan CCTV yang berada di lokasi kejadian.


"Nyonya ada apa ini?" Ferdi datang hendak menolong Delina.


"Heh! Bukan urusanmu. Lebih baik kau jangan pernah ikut campur!" bentak Venya.


"Kalau kau ikut campur dengan masalah ini. Tak segan-segan aku akan memecat kamu!" ancamnya.


Keduanya sama-sama melipat kedua tangan mereka di depan dada. Sebelumnya meninggalkan Ferdi, Maharani berkata sinis, "Awas saja ya!"

__ADS_1


Segera Ferdi membopong Delina ke dalam kamar. Merebahkan perempuan itu di atas tempat tidur dan meminta tolong pelayan untuk melakukan pertolongan pertama. Sementara dirinya keluar untuk menelpon dokter keluarga.


"Selamat malam, Nona. Bagaimana keadaan Anda? Apakah sudah minum obat?" tanya Ferdi saat Delina membukakan pintu kamar. Malam harinya Ferdi kembali menjenguk Delina untuk melihat keadaan Delina.


"Nona ... apa yang Anda lakukan?" Ferdi terkejut saat Delina sudah siap dengan satu koper kecil dan tas ransel andalannya.


"Anda mau kemana, Nona," lanjutnya.


Setelah diselidiki ternyata Delina ingin melarikan diri dari rumah itu. Perempuan yang masih belia itu merasa tidak akan sanggup hidup menjadi istri kedua dengan segala ancaman yang ada. Dia pun memutuskan untuk pergi dari Keluarga Mahesa.


"Nona ... melarikan diri bukanlah solusi yang tepat," ucap Ferdi yang sudah duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar Delina.


"Jika tuan besar tahu, dia akan menyelidiki kasus ini. Bisa-bisa masalahnya semakin panjang, Nona. Jangan sampai Nyonya Venya dan Nyonya Maharani semakin benci kepada Anda," lanjut Ferdi menasihati.


Sebelum Ferdi masuk ke kamarnya, Delina sudah menangis sendirian di dalam kamar. Sampai sekarang pun air mata tak henti membasahi pipinya. Tampaknya dia sangat kesepian dan tidak tahu kepada siapa akan mengadu.


"Tetapi aku sudah enggak kuat, Fer," ucap Delina ditengah sesenggukan.


"Apa aku bunuh diri saja biar masalah tidak berkepanjangan?" lanjutnya.


"Bunuh diri juga bukanlah solusi yang baik. Justru akan menambah masalah dan beban pikiran jiwa Anda. Meskipun nyawa Anda sudah tidak ada, tetapi jiwa Anda akan selalu kepikiran. Apakah Anda ingin mati gentayangan?" lanjut Ferdi.


Delina menggeleng-gelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ferdi. Delina menetap Ferdi dengan iba, "Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Solusi terbaiknya adalah Anda harus menghadapi semuanya, Nona," saran Ferdi.


"Tetapi Fer---" ucapannya terjeda.


"Iya. Saya tahu ini memang sangat berat jika dibayangkan, Nona. Tetapi Anda kan belum mencobanya," sahut Ferdi dengan tersenyum.


"Jangan kebanyakan membayangkan yang enggak-enggak, Nona. Lebih baik Nona bangkit dan merencanakan semua yang ada di depan Nona. Nona masih sangat muda dan energik. Saya yakin Nona bisa menghadapi semuanya."


"Apalagi ada Tuan Atmajaya yang selalu berpihak kepada Anda, Nona."

__ADS_1


Semenjak kejadian tersebut Delina menjadi lebih semangat menjalani hidupnya menjadi istri kedua. Tidak dipungkiri memang sejak saat itulah Ferdi dan Delina menjadi lebih akrab. Delina sering curhat dan meminta saran dari Ferdi. Dan hanya Ferdi yang bisa dia mintai tolong baik dalam masalah pribadi, pekerjaan, atau rumah tangganya.


"Dan jangan sungkan minta tolong kepada saya jika Nona membutuhkan bantuan," pungkas Ferdi mengakhiri perbincangan malam itu.


Mahesa mendengarkan cerita yang disampaikan Ferdi dengan seksama. Asistennya itu sedang mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi saat itu.


"Percayalah Tuan. Setelah mendapatkan pesan dari Tuan Atmajaya. Saya menganggap beliau sebagai adik saya sendiri," ungkap Ferdi.


Dari raut mukanya Mahesa belum sepenuhnya percaya dengan kata-kata Ferdi. Tanpa menatap Ferdi, Mahesa berkata, "Apakah etis seorang asisten masuk ke dalam kamar istri atasannya?"


"Mengakulah akhir-akhir ini kau juga seringkali terekam CCTV masuk ke dalam kamar Delina," lanjut Mahesa dengan senyuman sarkas.


Kembali Ferdi mengingat-ingat kejadian yang dimaksud Mahesa. Memang beberapa minggu yang lalu Ferdi menghampiri Delina ke dalam kamarnya. Saat itu dia mendapatkan laporan dari Lily mengenai kegalauan yang sedang dirasakan Delina.


"Ehm ... untuk yang akhir-akhir ini saya mencoba menghibur Nona Delina, Tuan," ucap Ferdi menatap Mahesa. Namun, pria itu terus memalinkan wajahnya.


"Menghibur?" ulang Mahesa.


"Menghibur dengan masuk ke dalam kamar? Ngapain?" cerca Mahesa.


Sudah dikatakan bahwa Ferdi sudah menganggap Delina seperti adik sendiri. Jadi tidak mungkin terjadi hal-hal terlarang walau pun mereka di dalam sebuah kamar.


"Alasan saja! Mau menghibur kok masuk ke dalam kamar perempuan yang bukan istri sendiri," kesal Mahesa.


"Benar, Tuan. Saya hanya memberikan motivasi kepada Nona Delina," balas Ferdi.


"Memberikan motivasi? Sejak kapan jadi motivator?" ledek Mahesa.


Ferdi menghela napas, "Tuan. Saat itu Nona Delina galau dengan keadaan rahimnya," sambar Ferdi cepat. Agar tidak mendapat cercaan dari Mahesa terus.


"Nona Delina galau setelah memeriksakan kesehatan rahimnya ke dokter," lanjut Ferdi.


###

__ADS_1


Apakah Ferdi akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada rahim Delina? Dan masih jadi teka-teki nih apa yang disampaikan Atmajaya kepada Ferdi.


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.


__ADS_2