Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Rencana Resepsi Pernikahan


__ADS_3

"Hei kenapa kau tidak mengatakan kepadaku langsung kalau ada saudara Pak Thomas yang ingin berbuat curang?" tanya Mahesa melalui sambungan telepon.


Pria yang berada di seberang sana hanya tertawa mendengar ucapan asik iparnya. Kemudian berkata, "Kau pikir aku tahu kalau dia adalah orang yang berniat jahat kepadamu."


"Ah! Aku yakin kau tahu kalau dia berniat jahat kepadaku," sahut Mahesa.


"Tega sekali kau membicarakan adikmu hampir saja kena imbas dari orang itu," tambahnya.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau dia orangnya. Setahu aku hanya akan ada orang yang ingin menganggu perusahaan. Makanya aku ingatkan kamu untuk berhati-hati dan terus waspada," terang Ferdi.


Mahesa protes kepada mantan asisten pribadi yang kini telah menjadi kakak iparnya sendiri. Sudah lama mereka tidak bertemu. Hanya sebatas pembicaraan melalu sambungan telepon. Itu saja jarang dilakukan.


"Dengar-dengar perusahaan di Surabaya sudah berkembang pesat. Hebat juga kau mengelola perusahaan kecil itu," puji Mahesa.


"Kau jangan meremehkan aku. Kau lupa siapa yang sudah membantumu berjuang merintis perusahaan raksasa milikmu?" sergah Ferdi tak terima.


"Iya ... iya ... aku enggak akan lupa," balas Mahesa.


Setelah beberapa saat membicarakan perkembangan perusahaan yang dipegang masing-masing. Akhirnya pembicaraan itu menuju kearah Delina. Yang sampai kini bahkan belum bertemu dengan kakak kandungnya semenjak kepergian Ferdi ke Surabaya.

__ADS_1


"Kapan kau akan ke Jakarta? Atau aku akan menyusulmu ke Surabaya?" tanya Mahesa.


"Apakah kau tidak merindukan adikmu? Dia terus merengek memintaku ke Surabaya. Bahkan sempat mengancam akan berangkat sendiri," terang Mahesa.


Pria diseberang sana justru tertawa mendengar cerita Mahesa. Sepertinya Ferdi juga merindukan adik kandungnya. Dan berniat untuk mengunjungi mereka ke Jakarta.


"Oh iya. Kau masih ingat kan mengenai rencana resepsi pernikahan yang ingin aku adakan," ucap Mahesa.


"Kau beneran akan mengadakan resepsi itu?" tanya Ferdi memastikan.


"Apakah sudah tidak terlalu terlambat?" tambahnya.


"Istriku butuh pengakuan!" sahut Mahesa cepat.


"Kau yakin? Apakah keadaan di perusahaan kamu sudah aman?" tanya Ferdi.


"Kau yakin sudah tidak ada musuh yang memantau keluarga kamu secara diam-diam?" lanjutnya.


"Tenang saja. Aku akan tingkatkan keamanan untuk keluargaku," ucap Mahesa.

__ADS_1


Sudah tidak ada alasan bagi Ferdi untuk menunda acara tersebut. Toh benar juga apa yang dikatakan Mahesa. Delina juga butuh diakui, setelah sekian lama orang mengira Delina hanya petinggi di perusahaan tersebut. Bukan istri dari pemilik perusahaan itu.


"Baiklah. Kalau kau ingin mengadakan resepsi," ucap Ferdi pada akhirnya.


"Jangan lupa kau harus datang ke acara itu!" seru Mahesa.


"Adikmu butuh dukungan dari keluarga kandungnya," tambah Mahesa.


"Acara akan dilaksanakan Minggu depan," ucap Mahesa.


Mungkin bagi Ferdi terlalu cepat mendengar acara itu akan dilaksanakan Minggu depan. Tetapi bagi Mahesa itu sudah direncanakan sematang mungkin.


"Ku tunggu kedatanganmu! Awas saja kalau enggak datang!" ancam Mahesa.


Pria itu kembali tertawa mendengar ancaman mantan atasannya itu. Setelah panggil diakhiri, Ferdi memikirkan kembali mengenai acara Minggu depan itu.


"Sekarang aku sudah siap bertemu dengan adikku," gumam Ferdi sembari memasukkan ponsel ke saku jasnya.


"Maafkan aku Delina harus menghindari kamu."

__ADS_1


###


Kira-kira apa yang membuat Ferdi siap kembali bertemu dengan adik kandungnya?


__ADS_2