
Atmajaya menceritakan mengenai kedatangan Maharani di rumah mewah mereka. Sejak awal firasat pria tua itu sudah tidak enak. Dan benar saja perempuan itu membawa pengaruh buruk kepada putra bungsunya.
"Pada mau kemana malam-malam begini?" tanya Mahesa saat berpapasan dengan Atmajaya yang baru saja tiba di rumah.
"Kita mau ke acara ulang tahun temannya Maharani, Pa," bohong Mahesa dengan nada terbata.
"Kita berangkat dulu ya, Pa." Mahesa menggandeng istrinya masuk ke dalam mobil.
Melihat gelagat aneh pada Mahesa, Atmajaya memerintahkan orang untuk memata-matai kemana perginya Mahesa dan istrinya. Orang suruhan Atmajaya mengatakan bahwa mereka menuju sebuah klub malam. Semenjak saat itulah Mahesa mulai mengenal dunia malam dan hampir setiap hari mereka keluar untuk berpesta.
"Kenapa saham perusahaan turun?" tanya Atmajaya melalui telepon.
"Sudah dua minggu harga saham kita terus menurun. Apa yang sedang terjadi?" cecar Atmajaya.
"Itu hanya sementara, Pa. Akan aku tangani segera," tutur Mahesa dengan santainya.
Semenjak mengenal pesta setiap malamnya, pekerjaan Mahesa banyak yang tertunda. Pria itu lebih mementingkan bersenang-senang daripada fokus ke perusahaan.
"Fokuslah pada perusahaan, Mahesa!" Seru Atmajaya marah. Dengan tidak sopannya Mahesa menutup panggilan telepon begitu saja. Itu adalah kali pertama Atmajaya diperlakukan tidak sopan oleh anaknya sendiri.
"Kenapa anak ini menjadi tidak sopan?" kesal Atmajaya menatap ponselnya yang sudah tidak tersambung dengan Mahesa.
Mahesa juga menjadi anak yang sering mengabaikan Atmajaya. Padahal Mahesa adalah anak yang sangat memperhatikan orang tua dan keluarganya kerena Atmajaya mendidiknya sedemikian rupa. "Kenapa sekarang kau jarang meluangkan waktu untuk papa?" Atmajaya protes.
"Maaf, Pa. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan," kilah Mahesa.
"Akhir-akhir ini pekerjaanku menumpuk, Pa."
__ADS_1
"Kalau ada waktu luang Mahesa pasti akan menemui Papa," janji Mahesa.
Atmajaya menyunggingkan senyuman mendengar jawaban putranya. Pria tua itu berkata, "Ketika kau sudah beristri jangan sekali-kali melupakan orang tuamu."
Mahesa termenung dengan nasihat sang papa. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak karena dirinya sudah dikendalikan oleh Maharani. Entah kenapa dia sangat mencintai istrinya itu, ibarat Maharani telah mengalihkan dunianya. Apa pun yang dikatakan Maharani akan dia turuti.
"Kemana lagi istrimu?" tanya Atmajaya saat tidak mendapati Maharani di rumah.
"Ke Australia jenguk saudaranya yang sedang sakit, Pa," bohong Mahesa. Padahal kenyataannya Maharani berpamitan untuk arisan bersama teman-teman disana.
Gaya hidup Maharani adalah tipe perempuan sosialita. Aktivitasnya hanyalah kumpul bersama teman-temannya, arisan barang-barang mewah, berbelanja, dan liburan bersama teman-temannya. Sampai-sampai dalam sebulan bisa empat kali berpergian ke empat negara sekaligus.
"Bimbinglah istrimu dengan benar, jangan hanya memberikan fasilitas saja untuknya. Ajari dia berbisnis, jangan hanya menghambur-hamburkan uang. Ajaklah dia ikut mengelola perusahaan," pesan Atmajaya yang selalu dia katakan kepada Mahesa.
"Papa tahu uangmu tidak akan habis kalau hanya untuk memenuhi keinginan istrimu. Tetapi ingatlah masa depan, kau butuh pendamping yang bisa menggantikanmu disaat-saat yang mendesak," lanjutnya panjang lebar.
"Ya ... setidaknya tahu sedikitlah tentang perusahaan."
"Iya ... nanti kalau ada waktu akan aku ajari Maha untuk mengurus perusahaan," balas Mahesa.
"Jangan kalau ada waktu! Ajari dia mulai saat ini," balas Atmajaya yang hanya diangguki kepala oleh Mahesa.
"Ajari juga untuk berperilaku sopan kepada Papa."
Mengingat beberapa kali Maharani keluar masuk rumah mewah itu dan berpapasan dengan Atmajaya. Namun, Maharani tidak pernah menyapa atau mengucapkan salam kepada papa mertuanya.
"Papa rasa sopan santun istrimu sangatlah kurang, Mahesa," tukas Atmajaya.
__ADS_1
"Maafkan Maha, Pa."
"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf. Ke depanya tolong bimbing istrimu agar lebih baik lagi."
Suatu ketika Maharani pernah datang menemui Atmajaya guna meminta warisan. Terbilang sangat nekad karena berani meminta warisan kepada mertuanya. Atmajaya pun menolak permintaan Maharani mentah-mentah, karena prinsip hidupnya adalah berusaha terlebih dahulu.
"Jika mau warisan kamu harus belajar mengelola perusahaan sampai perusahaan yang kamu kelola berkembang pesat. Barulah jika itu berhasil perusahaan akan menjadi milikmu," tutur Atmajaya memberikan tantangan kepada Maharani.
Prinsip hidup yang diajarkan Atmajaya menyuruh anaknya untuk berusaha keras terlebih dahulu. Ketika sudah berhasil maka hasil kerja keras itu akan Atmajaya berikan secara cuma-cuma. Begitupun dengan Venya yang sudah berhasil mengelola pabrik kosmetik di Jepang.
"Ya kalau mau harta warisan setidaknya bantulah suamimu agar perusahaan yang dia pegang berkemgang pesat," tantang Atmajaya.
Memang saat ini Mahesa Grup menjadi perusahaan terbesar se-Asia, tetapi itu berkat kerja keras Atmajaya yang dilanjutkan oleh Mahesa. Kalau Mahesa Grup menjadi lebih besar daripada saat ini. Barulah Mahesa dikatakan berhasil.
"Ta-tapi aku gak bis---" Maharani hendak beralasan namun dicegah oleh Atmajaya.
"Tidak ada yang tidak mungkin sebelum mencobanya," potong Atmajaya.
Maharani malas sekali dengan apa yang disebut mengurus perusahaan. Dia tidak akan mau menghabiskan waktunya dengan pusing memikirkan perusahaan. Lebih baik dia bersenang-senang dengan teman-temannya, begitulah pikirnya.
"Tolong pantau Maharani yang suka keluar negeri. Sebenarnya apa yang dia lakukan di luar negeri?" perintah Atmajaya kepada salah satu orang suruhannya.
Karena penasaran dengan Maharani, Atmajaya menyewa seseorang untuk memata-matai Maharani. Dan setiap seminggu sekali orang suruhannya itu melaporkan kepada Atmajaya.
"Apa kau bilang?" ucap Atmajaya seolah tidak percaya. Mata pria tua itu sudah membulat sempurna.
###
__ADS_1
Apa lagi yang akan diketahui oleh Atmajaya dari sosok Maharani? Apakah itu akan membuatnya semakin tidak menyukai Maharani? Tebak yuk.
🌱Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu.