Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Pura-pura Baik


__ADS_3

Delina diam sendirian di pojokan ruang keluarga. Menyaksikan kehangatan obrolan yang sedang dilakukan oleh Mahesa dan Venya. Dia memilih diam karena tidak tahu dengan topik yang mereka bicarakan. Selain itu saat ini dia lebih banyak diam saat berhadapan langsung dengan Venya.


"Sayang sini ikutan ngobrol." Mahesa menyadari istrinya yang diam sejak tadi.


"Oh ya Delina. Sibuk apa kamu sekarang?" tanya Venya coba basa-basi.


"Emh ... lagi enggak sibuk apa-apa nih, Kak. Palingan ngurus El," jawabnya sembari tersenyum kecil.


"Minggu depan baru mulai ke kantor lagi karena proyek yang aku tangani mulai berlangsung."


Venya tersenyum tipis dengan wajah datar yang sulit diaryikan. Kakak iparnya itu kembali berbincang-bincang dengan suaminya. Tampaknya mereka sedang asyik membicarakan salah satu keluarga mereka yang sukses menjadi wanita karir di Jepang.


Sesekali Venya tetap memberikan sindirian untuk Delina. Dia berkata kepada Mahesa, "Kita tahu sendiri kan latar belakang dia memang kaya sejak dulu. Bukan memanfaatkan kekayaan orang lain atau ... suaminya."


Entah apa maksud dari Venya yang tetap menyindirnya. Padahal Delina sudah sekuat tenaga memperjuangkan perusahaan dan karirnya. Tetapi tetap saja orang lain, terutama Venya memandangnya remeh.


"Mahesa enak bener Ferdi kamu suruh pegang perusahaan sendiri? Kau yakin dia amanah?" sindir Venya.


"Kak, apakah kau lupa dengan kehebatan Ferdi? Dia tidak akan mengecewakan aku, Kak," balas Mahesa.


"Ya, siapa tahu saja kan namanya juga orang. Kalau sudah berhadapan dengan banyak uang suka lupa sama daratan," sambung Venya.


"Benar Ferdi adalah kakak kandung istrimu?" lanjut Venya bertanya.

__ADS_1


Mahesa hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan kakaknya. Venya tahu kabar itu dari salah satu pelayan yang dia tanyai beberapa informasi saat Venya tidak ada di rumah itu. Ya, sedikit banyak Venya sudah tahu kabar apa saja yang terjadi selama dia tidak ada.


"Aku ke toilet sebentar," pamit Mahesa beranjak dar duduknya.


"Tante main yuk," ajak Keina yang baru saja mendekati Delina.


"Tante kejar-kerajan yuk," ajak Daiki yang berada di belakang Keina.


Langsung kedua bocah itu berebut menarik kedua tangan Delina secara bersamaan. Tidak ada satu pun diantara mereka berdua yang mau mengalah. Pokoknya mereka ingin main bersama dengan Delina.


"Sayang Keina ... Daiki ... main sama mama saja yuk," ucap Venya menengahi keributan.


"Enggak mama. Mama enggak bisa mengejar Daiki," tolak Daiki melambaikan tangannya.


"Enggak mama. Keina mau main masak-masakan sama Tante Delina," tolak Keina.


Sontak Venya melirik sinis Delina yang sedang diperebutkan dua anaknya. Dalam hati dia mengumpat kesal, "Enggak hanya papa, perusahaan, Mahesa saja yang dia rebut dariku. Rupanya anakku juga terpikat olehnya."


"Pakai pelet jenis apa sebenarnya anak itu? Kenapa semua orang tertarik dan baik kepadanya?" batin Venya bertanya-tanya.


Ketika suasana sedikit mereda karena Keina dan Daiki tiba-tiba berlari ke ruang bermain. Venya segera memanfaatkan kesempatan untuk mengancam Delina. Perempuan itu bangkit dari duduknya, mendekati Delina dengan berkacak pinggang.


"Jangan pikir kamu bisa berakting baik didepanku," ucap Venya.

__ADS_1


"Jangan juga kau coba mengalihkan perhatian anak-anakku!" tegasnya.


"Dan aku akan tetap menyingkirkan kamu dari rumah ini!"


"Ada apa ini?" tanya Mahesa yang tiba-tiba sudah kembali drai toilet.


"E-e i-ini aku hanya mengingatkan Delina supaya tidak terlalu menuruti Keina dan Daiki saat mengajaknya bermain," kilah Venya.


"Semakin diturutin mereka akan semakin neglunjak dan nakal," lanjutnya.


"Benarkah? Kalian tidak sedang ribut kan?" Mahesa memastikan.


Pria itu melemparkan pandangan kearah dua perempuan yang dihadapannya secara bergantian. Tatapannya menyuruh mereka mengatakan dengan jujur apa yang sedang terjadi.


"Delina? Tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Mahesa curiga karena istrinya seperti sedang ketakutan.


"I-iya e-enggak kenapa-kenapa kok," ucap Delina yang akhirnya membuat Mahesa menghela napas lega.


Dilain sisi Venya tersenyum sinis karena Delina tidak membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Selanjutnya dia bisa semena-mena lagi kepada Delina saat Mahesa tidak ada. Alias pura-pura baik didepan Mahesa doang.


###


Bukankah bangkai kalau lama-lama ditutupi akan tercium juga? Yaps. Kita tunggu saja tingkah Venya itu ketahuan sama Mahesa. Apa ya nanti yang akan dilakukan Mahesa kepada Venya jika ketahuan? Padahal sudah dibebasin dari penjara loh. Masih saja bertingkah.

__ADS_1


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.


__ADS_2