Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Menguping


__ADS_3

Hari demi hari Delina masih tetap setia menemani Venya untuk terapi. Seperti di hari itu saat waktu senggang. Delina memberanikan diri menanyakan mengenai mama dari Venya dan Mahesa. Awalnya Delina takut menanyakan hal tersebut, tetapi dia harus memberanikan diri. Karena memang dirinya sangat penasaran dengan keberadaan mama mertuanya.


"Oh, mama ..." ucap Venya mulai menjawab pertanyaan itu.


"Mama sudah pergi dari rumah semenjak aku berumur sepuluh tahun," lanjutnya menjelaskan.


"Pergi kemana, Kak? Dan kenapa mama pergi?" tanya Delina antusias.


"Hmmm ... maafkan aku Kak menanyakan hal ini," imbuhnya merasa tidak enak.


Venya tidak merasa kerberatan dengan permintaan Delina. Dia mulai menceritakan bagaimana ceritanya mama kandung mereka pergi dari rumah itu. Semenjak itulah mereka tumbuh dan berkembang hanya dengan Atmajaya. Tanpa sosok ibu yang menemani keseharian mereka.


"Tetapi cerita itu belum jelas kebenarannya. Saat itu papa sedang emosi dan mengusir mama dari rumah," ungkap Venya.


"Jadi belum tentu mama yang berbohong dong, Kak?" tanya Delina yang diangguki oleh Venya.


"Kenapa Kakak atau Mahesa tidak mencari keberadaan mama?" lanjut Delina.


"Papa melarang kami mencari keberadaan mama. Bahkan pernah memarahi kami waktu kami sempat ingin mencari mama," jawab Venya.

__ADS_1


"Entahlah rasa sakit hati papa sangatlah besar sehingga membuatnya tidak mau dekat lagi dengan perempuan manapun."


Kisah mama Venya dan Mahesa yang diusir dari rumah tidak jauh beda dengan kisah Maharani yang selingkuh dengan pria lain. Cuma bedanya belum ada bukti kebenaran yang menunjukkan mama benar-benar selingkuh atau tidak. Bisa jadi itu hanyalah fitnah dari orang-orang disekitarnya, karena kita tidak pernah tahu orang yang benar-benar baik. Atau hanya pura-pura baik di depan kita saja.


***


Tidak sengaja Gritte mendengarkan percakapan Mahesa dengan istrinya melalui telepon. Kebetulan saat itu Gritte sedang mengerjakan laporan yang penting dan masih berada dalam satu ruangan dengan Mahesa. Perempuan itu memasang kupingnya lekat-lekat untuk mendengarkan pembicaraan Mahesa.


"Iya Sayang. Aku akan segera pulang secepatnya," ucap Mahesa.


"Ada satu pekerjaan lagi yang harus aku selesaikan," imbuhnya.


"Setelah ini aku janji akan segera pulang."


Gritte yang hanya mendengarkan kemesraan itu merasa tingkah atasannya itu terlalu berlebihan. Bahkan dia terkesan sirik dengan Mahesa dan istrinya.


"Ya sudah. Aku matikan teleponnya ya Sayang," ucap Mahesa.


"Sampai jumpa di rumah," pungkasnya.

__ADS_1


Mahesa kembali memeriksa pekerjaan yang sedang diselesaikan Gritte. Sebelum mendekat kearah tempat duduk Gritte. Perempuan itu tiba-tiba berkata, "Tuan, bukankah habis ini kita bertemu dengan klien?"


Sontak Mahesa langsung mengernyitkan alisnya, "Kau saja yang bertemu dengan klien. Aku harus segera pulang."


"Tetapi, Tuan," ucap Gritte hendak protes.


"Tidak ada tapi-tapian, proyek ini sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu. Dan pertemuan hari ini hanya akan menyampaikan laporan sementara proyek," sela Mahesa.


"Aku rasa kau bisa menanganginya sendiri," imbuhnya.


Dengan menggerutu akhirnya Gritte berangkat bertemu dengan klien itu sendiri. Dia menyesali keputusan Mahesa yang memilih pulang daripada menemui klien bersamanya. Padahal dia juga ingin lebih dekat dengan Mahesa;


"Punya atasan terlalu bucin," kesal Gritte berjalan masuk ke dalam sebuah restoran.


"Awas saja. Jangan harap sebagai tuan muda kamu bisa seenaknya sendiri," lanjutnya.


"Sekarang aku tahu kelemahan kamu adalah keluargamu," pungkasnya.


###

__ADS_1


Eh ... eh ... eh ...siapa dia sebenarnya kok ngomongnya kaya gitu? Wah jangan-jangan.


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.


__ADS_2