
Pagi itu Delina bercermin dengan bangganya mengenakan hadiah dari Mahesa. Sebuah kalung berlian cantik yang tampak elegan melingkar di lehernya. Perempuan itu memancarkan senyuman senang di depan cermin. Tak menyangka Mahesa menyiapkan hadiah mahal ini untuknya.
"Ya ampun bagus banget kalungnya," gumam Delina masih takjub.
Kalung berlian itu dibeli Mahesa sejak sehari sebelum pernikahannya dengan Delina. Namun, dia lupa untuk memberikan kalung itu dan justru sifat dingin yang selalu dia tunjukkan kepada istri keduanya.
"Nona ... apakah Anda sudah selesai ngacanya? Waktu sudah semakin siang, Nona," kata Lily mengingatkan Delina yang sudah lupa waktu.
"Oh iya. Maafkan aku Lily, kalung ini sangat bagus dan aku sangat menyukainya," balas Delina masih bercermin.
"Benar Nona, kalung itu sangat cocok untuk Anda," puji Lily yang membuat Delina semakin percaya diri.
"Namun, Anda juga harus segera berangkat ke perusahaan karena ada pertemuan, Nona." Lily kembali mengingatkan.
Usai mengikuti pertemuan di sebuah restoran hotel bintang lima. Delina memutuskan untuk pulang akhir dan membicarakan beberapa masalah perusahaan dengan Ferdi. Hanya tersisa mereka berdua di meja itu.
"Kita sudah mengaku kalah dari Perusahaan KNZ, Nona," ucap Ferdi melaporkan.
"Yang perlu kita lakukan saat ini adalah melanjutkan proyek marger perusahaan dengan perusahaan milik Pak Thomas. Jika proyek ini berhasil, kira-kira dua tahun ke depan kita bisa menyaingi Perusahan KNZ," papar Ferdi menyampaikan strateginya.
__ADS_1
Delina mencermati apa yang dikatakan Ferdi dengan baik. Setelah beberapa saat mempertimbangkan, akhirnya Delina setuju dengan rencana Ferdi.
"Baiklah kita sepakat untuk bersama-sama melanjutkan marger perusahaan. Toh enggak enak juga sudah membicarakan ini dengan Pak Thomas, tidak enak kalau tiba-tiba menundanya," cetus Delina.
"Aku akan menyerahkan proyek ini kepada kamu ya Ferdi dan aku akan membereskan proyek perusahaan cabang. Saat ini tidak ada yang mengendalikan mereka, aku takut mereka yang di perusahaan cabang tidak bekerja serius," usul Delina.
Mereka berdua sedang fokus menyusun rencana yang akan mereka laksanakan satu persatu. Karena banyak sekali perusahaan yang dilimpahkan kepada Delina, maka dia sangat membutuhkan Ferdi untuk membantu mengelola perusahaan. Perempuan itu mencatat rencana-rencananya pada laptop yang ada dihadapannya.
"Fer ... bagaimana kalung aku bagus kan?" tanya Delina memamerkan kalung barunya.
"Kalung apa Nona?" Ferdi mengernyit bingung karena tidak ada kalung yang melingkar di leher Delina.
"Astaga Nona. Kalung Anda jatuh disini," ucap Ferdi meraih kalung yang berada di bawah meja.
Delina bernapas lega karena kalung kesayangannya ditemukan. Coba saja kalau benar-benar hilang. Dia tidak akan bisa membayangkan betapa marahnya Mahesa kepadanya. Tidak mau Delina melihat Mahesa kembali ke sifatnya yang dulu yang emosional dan selalu dingin kepadanya.
"Saya sudahlah ayo kita kembali ke kamar," ajak Kenzo memeluk Maharani dari belakang.
"Sebentar sayang masih ada pertunjukkan yang bagus di bawah sana," tolak Maharani menatap ke bawah.
__ADS_1
Kenzo menumpukkan dagunya di atas bahu Maharani. Pria itu sudah tidak sabar kembali ke kamar untuk bermesraan dengan sang kekasih. Dia pun berkata, "Aku sudah menang atas kekalahan Mahesa. Sepertinya semuanya sudah cukup, Sayang."
"Ini adalah saatnya kita merayakan kemenangan kita. Ayolah, Sayang," ajak Kenzo. Namun, kekasihnya itu menggelengkan kepala. Menolak ajakan Kenzo untuk kembali ke kamar hotel mereka.
"Apa kau masih mau membuatnya tersiksa lagi?" lanjut Kenzo diakhiri dengan bertanya.
Maharani menganggukkan kepalanya dan tersenyum jahat. Kemudian dia berkata, "Aku masih ingin membuatnya lebih tersiksa, Sayang."
"Masih ada satu rencana yang harus aku lakukan, Sayang," imbuhnya.
"Apa rencana itu? Apa kau tidak kasihan dengan mereka?" gurau Kenzo.
"Tidak pernah aku kasihan kepada mereka."
"Yang ada semakin dendam aku kepada mereka."
Kenzo semakin mendekap Maharani, dia sangat bangga memiliki kekasih yang berkorban banyak untuknya. Berhasil membuatnya mengalahkan saingan beratnya. "Baiklah aku akan mendukung apa yang kamu lakukan, Sayang."
###
__ADS_1
Waduh masih bertingkah ini orang. Kira-kira rencana apa lagi yang akan dia perbuat ya? Apa tidak capek jahat terus?