
Rupanya Mahesa harus sangat bersyukur karena Delina tidak pergi dari rumah. Perempuan itu hanya pindah ke kamar bawah yang jauh dari kamar utama. Dia masih sangat kecewa dengan Mahesa dan tidak mau dekat-dekat dengan pria itu.
"Nona Anda harus makan dulu, dari tadi Anda belum makan. Kasian Baby El kalau Anda sakit," bujuk Lily seraya menyodorkan sepiring nasi.
"Aku tidak lapar Lily," tolak Delina menjauhkan piring itu dari hadapannya.
"Tetapi Anda harus tetap makan, Nona. Apa Anda mau makan sesuatu? Biar saya siapkan," ucap Lily menawarkan yang hanya dijawab Delina dengan gelengan kepala.
Selama di kamar bawah, Delina hanya melamun melihat taman samping rumah dari balik jendela kamar. Sementara Lily yang main dengan Baby El seraya sesekali menoleh kaarah Delina yang terus saja melamun dan bersedih. Tak tega rasanya Lily melihat Delina sedih, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nona, sebelumnya saya minta maaf. Tetapi jika Nona membutuhkan teman untuk mencurahkan hati Nona. Saya bisa menjadi pendengar Anda, Nona," kata Lily setelah berhasil menidurkan Baby El.
"Jangan memendam amarah terlalu lama, itu tidak baik bagi tubuh dan pikiran, Anda Nona."
Sontak Delina langsung memeluk Lily yang sudah duduk di sampingnya. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Lily. Lily pun membiarkan Delina mencurahkan tangisannya sampai tuntas. Dia membiarkan semuanya mengalir begitu saja sampai Delina berhenti menangis dengan sendirinya.
"Lily apa yang harus aku lakukan? Aku enggak mau dimadu lagi Lily, aku sudah menahan diri untuk jadi istri kedua dulu. Dan rasanya sangat menyiksa Lily," ucap Delina mencurahkan isi hatinya.
__ADS_1
"Nona, sebaiknya Anda jangan berpikir yang macam-macam dulu. Tuan Mahesa sangat mencintai Anda, tidak mungkin beliau menikah lagi," balas Lily seraya mengelus ounggung Delina untuk memberikan ketenangan.
"Mungkin saja Lily, dia sudah punya anak dari perempuan itu. Bisa saja Mahesa menikahi perempuan itu demi anak mereka," ucap Delina lagi disela isak tangisnya.
Hal yang paling ditakutkan Delina adalah jika nantinya perempuan itu menuntut pernikahan dengan Mahesa. Dengan alasan karena Mahesa sudah menghamilinya dan kini memiliki anak kandung dengan perempuan itu. Sungguh Delina tidak dapat membayangkan jika itu benar terjadi dalam hidupnya.
"Nona, ucapan dan pikiran adalah doa yang bisa terjadi dalam hidup Anda. Saat ini Tuan Mahesa benar-benar mencintai Anda. Bahkan dia menolak menikah dengan perempuan itu," kata Lily.
"Lebih baik mulai sekarang Anda berpikir yang baik-baik. Jangan memikirkan kejadian yang membuat Anda takut," lanjut Lily mencoba menenangkan,
***
"Selamat pagi, Tuan," sapa Robby mendekati Mahesa yang sedang duduk di sofa kamar Sahira.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengantarkan laporan yang harus Anda tanda tangani segera," lanjutnya mengutarakan niatnya datang.
"Ini berkas laporannya, Tuan."
__ADS_1
Robby menyodorkan berkas-berkas itu ke hadapan Mahesa. Dan pria itu langsung mengambil bolpen dan menandatanganinya. Tidak banyak bicara dan langsung menyerahkan balik berkas itu kepada Robby. Pria yang sudah berstatus sebagai asisten pribadi Maheas itu pun tersenyum.
"Tuan daripada Anda terus galau, lebih baik buktikan saja kebenarannya kepada Nona Delina," usul Robby.
"Aku sudah mencoba mengajaknya berbicara, namun dia selalu menolak dan mengurung diri di dalam kamar," sahut Mahesa tanpa menoleh kearah Robby.
"Saya bisa membantu Anda, Tuan," ucap Robby menawarkan bantuan.
"Bisa apa kau?" Mahesa tersenyum meremehkan.
Pria itu tidak pantang menyerah walau diremehkan oleh atasannya. Dia pun berniat menjelaskan apa yang akan dia lakukan supaya Mahesa bisa baikan dengan Delina.
"Saya yakin dengan cara ini, Nona Delina tidak akan marah lagi kepada Anda," ucapnya.
"Bagaimana Tuan? Apa Anda setuju dengan saran saya?"
###
__ADS_1
Kira-kira apa solusi yang diberikan Robby untuk Mahesa ya? Benarkah bisa membuat Delina tidak marah lagi kepadanya?
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.