
Ketika ada jadwal berkunjung Delina datang dengan membawa beberapa barang bawaan. Kali ini dia membawa banyak sekali tas yang berisi beragam kebutuhan Mahesa. Sebelum masuk, Delina melewati proses pengecekan barang-barang sebelum diberikan kepada tahanan.
"Bawa apaan kok banyak banget?" tanya Mahesa menyambut kedatangan istrinya.
"Bawa banyak makanan kesukaan kamu," balas Delina menaruh beberapa barang bawaannya.
"Memangnya kamu tahu apa makanan kesukaan aku?"
"Tau dong. Kan aku mengamati kamu selama ini."
Mahesa mengelus puncak kepala Delina, merasa gemas dengan istri mudanya itu. Mereka mendaratkan tubuhnya pada kursi yang sudah disediakan. Delina berpesan, "Nanti dimakan ya makanan ini. Aku memasak semua ini spesial untuk kamu."
"Pasti akan aku habiskan semua ini. Ada nasi goreng buatan kamu enggak?" tanya Mahesa.
"Nasi goreng? Enggak ada nasi goreng. Ini semua makanan yang bisa disimpan untuk beberapa hari. Aku bawanya rendang, ayam goreng lengkuas. Memangnya kenapa?" Delina bingung kenapa suaminya dibawakan nasi goreng.
"Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali bawakan nasi goreng buatan kamu ya, aku suka nasi goreng yang waktu itu aku makan saat sarapan bareng sama papa."
Delina baru menyadari kalau ternyata Mahesa menyukai nasi goreng buatannya. Ya maklum saja kalau enak dan Mahesa ketagihan. Nugroho, ayah Delina merupakan pedagang nasi goreng pastilah memiliki resep nasi goreng yang enak untuk menarik pelanggan. Delina tersenyum, "Baiklah lain kali akan aku bawakan nasi goreng spesial untukmu."
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang kamu telah berjuang banyak untuk Mahesa Grup," ucap Mahesa membuka obrolan hari itu.
"Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Ferdi. Dia mengatakan kalau sedikit demi sedikit perusahaan sudah mulai bangkit."
"Kamu sangatlah hebat Sayang. Sungguh aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat ini jika tidak ada kamu yang menggantikan aku mengurus perusahaan."
Setiap saat waktu Delina habis untuk mengurus pekerjaan. Pagi hari dia gunakan untuk mengkontrol perusahan-perusahaan cabang melalui laporan dari para pemimpin di perusahaan cabang. Siang harinya Delina kuliah secara online sembari mengerjakan pekerjaan yang ada. Sore sampai malam biasanya dia gunakan untuk rapat, jika tidak ada rapat dia gunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda.
"Kata Ferdi kamu terlalu giat dalam bekerja dan jarang beristirahat ya?" tanya Mahesa berdasarkan laporan yang dia terima dari Ferdi. Asistennya itu mengatakan kalau Delina susah untuk disuruh istirahat, bahkan waktu akhir pekannya saja dia gunakan untuk bekerja.
"Ah. Enggak kok. Aku bekerja sewajarnya saja. Ya kalau capek pasti aku istrirahat dong," elak Delina disertai tawa.
"Memang Ferdi-nya saja yang agak berlebihan dalam bercerita. Aku sering istirahat kalau sudah bosan dengan pekerjaan. Sesekali juga nyolong nonton film saat lagi kerja," bohong Delina agar suaminya tidak memaksanya libur.
Lalu digenggamnya kedua tangan Delina, matanya menatap manik mata istrinya. Kemudian berkata, "Sayang tetapi benar lho. Aku memang sangat bangga dengan apa yang sudah kamu lakukan untuk perusahaan sampai detik ini. Aku sangat menghargai kerja keras kamu. Terima kasih banyak atas semua yang kamu lakukan."
"Tetapi ingatlah Sayang. Bahwa istirahat itu sangat penting. Jangan terus mengerjar deadline pekerjaan yang tiada habisnya. Jika lelah istirahatlah, jika bosan liburlah, dan jika penat berlebihan berliburlah ke suatu daerah. Aku mengizinkan kamu liburan dengan ditemani Lily," lanjut Mahesa panjang lebar.
Mahesa yang notabene sudah menjadi CEO bertahun-tahun, bisa merasakan penat saat berkutat dengan pekerjaan. Tentu saja merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Delina, mengurus banyak sekali perusahaan pasti banyak menyita pikirannya. Maka dari itu Mahesa menyuruh istrinya untuk istirahat dan berlibur jika sudah penat dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Sayang apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mahesa tiba-tiba saat melihat perubahan di wajah sang istri. Yang tadinya datang dengan wajah gembira, kenapa sekarang berubah menjadi agak pucat.
Delina memang tiba-tiba merasa tidak enak badan. Perempuan itu mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan langsung dengan Mahesa. Dengan tangannya Mahesa justru menarik kembali wajah Delina untuk menatapnya, "Kamu kenapa Sayang? Kamu sakit?"
"Sudah aku bilang istirahatlah jika capek. Jangan memaksa untuk bekerja terus. Aku yakin ini karena kamu kecapekan kerja," cerocos Mahesa mengingatkan.
"Sepertinya kamu harus ke dokter. Aku panggilkan petugas kesehatan disini ya," ucap Mahesa yang sudah bangkit berdiri.
Delina menggeleng-gelengkan kepalanya, mencegah Mahesa dengan menahan lenga pria itu agar tidak berannak. Dia tidak pertanyaan Mahesa atau pun berkata-kata. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual dan kepalanya pusing. Pandangan matanya pun mulau blur dan tidak jelas. Dengan lemah lembut Delina berkata, "A-aku ti-tidak kenapa-kenapa kok."
Kebetulan pula saat itu waktu kunjungan sudah habis. Untungnya Delina tidak harus memberikan banyak alasan untuk membohongi Mahesa. Setelah berpamitan Delina berjalan pelan-pelan keluar dari ruang kunjungan.
"Delina ... apa kamu baik-baik saja?" teriak Mahesa yang tidak disahuti oleh Delina. Mahesa sangat khawatir dengan keadaan Delina yang mendadak pucat seperti itu.
Sesampainya di parkiran mobil Lily langsung memapah Delina masuk ke dalam mobil. Pengawal Delina juga ikutan khawatir melihat kondisinya. "Nona Anda kenapa?" panik Lily.
"Mari saya antarkan ke dokter," tawar Lily yang mendapat penolakan dari Delina. Perempuan itu ingin segera pulang dan istirahat di rumah saja. Namun, Lily tetap akan memanggilkan dokter untuk datang ke rumah dan memeriksa Delina.
###
__ADS_1
Ada apa dengan Delina ya? Sakit apa Delina kok tiba-tiba pusing dan mual. Semoga saja tidak ada orang yang berbuat jahat kepadanya.
🌱Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.