Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Tanggungjawab Besar


__ADS_3

Samar-samar Atmajaya mendengarkan percakapan di telepon antara Maharani dengan seseorang. Mendekatlah Atmajaya kearah Maharani yang saat itu berada di ruang keluarga. Pria itu memasang kupingnya untuk mendengarkan isi percakapan mereka.


"Baiklah Sayang. Nanti aku akan menelepon kamu lagi," tutup Maharani sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


Perempuan itu langsung membalikkan badan dan bertatapan langsung dengan Atmajaya. Maharani menjadi salah tingkah saat mendapati Atmajaya berada di belakangnya.


"Emmm ... Papa kenapa membuatku kaget," celetuk Maharani.


"Emmm ... sejak kapan Papa berada disini?" tanyanya takut kalau Maharani mendengar apa yang dia bicarakan dari telepon.


Papa mertuanya diam tak menjawab, dia melangkah dan mendudukan dirinya di atas sofa. Mengusap dagunya perlahan, "Teleponan sama siapa? Sepertinya mesra sekali."


Pertanyaan itu berhasil membuat Maharani panas dingin, sampai bingung ingin menjawab apa. Atmajaya melanjutkan, "Bukankah suamimu masih ada di dalam kamar?"


"Emmm ... ini sahabat dekat Maha, kok Pa," bohongnya.


"Dia perempuan. Biasanya kita memang memanggilnya dengan sebutan sayang."


"Maha mau ke atas dulu membangunkan Mahesa karena sudah siang," pungkasnya meninggalkan Atmajaya.


Atmajaya menatap kepergian Maharani yang terburu-buru ingin segera meninggalkannya. Pria tua itu menggelengkan kepalanya.


"Ternyata benar apa yang dikatakan Denny kalau dia bermain dibelakang Mahesa," gumam Atmajaya.


Hasil penyelidikan yang dilakukan diam-diam oleh orang suruhan Atmajaya. Denny yang merupakan orang suruhannya mengatakan kalau Maharani di luar negeri bersama seorang pria. Tidak seperti apa yang dikatakan Mahesa kalau Maharani bersama teman-temannya.


"Sebenarnya siapa orang yang bermain belakang dengan Maharani?" gumam Atmajaya.

__ADS_1


Dibukanya kembali bukti-bukti berupa video dan foto yang diberikan Denny. Keduanya tampak mesra menghabiskan waktu berdua di berbagai negara. Perilaku Maharani membuat Atmajaya semakin kepikiran, rasanya dia ingin marah. Namun, belum menemukan waktu yang tepat untuk meluapkan amarahnya.


"Bagaimana caraku menyampaikan hal ini kepada Mahesa?" Atmajaya bingung ingin memulainya darimana. Cepat atau lambat dia harus mengatakannya kepada Mahesa.


"Mahesa sangat mencintai Maharani. Tetapi dia mencintai orang yang salah."


Cara halus yang digunakan Atmajaya adalah mencarikan calon istri kedua untuk Mahesa. Tujuannya supaya sedikit demi sedikit Mahesa bisa melupakan Maharani. Karena jika Atmajaya langsung mengatakan secara blak-blakan Mahesa tidak akan percaya kepadanya.


"Setelah berhasil menyuruh Tuan Mahesa menikah dengan Anda. Tuan Atmajaya menyuruh saya untuk mengganti semua harta miliknya menjadi atas nama Anda, Nona," ungkap Hendra.


"Beliau takut jika harta itu atas nama dirinya atau atas nama Tuan Mahesa. Takut akan direbut oleh Nyonya Maharani. Dan Nyonya Maharani tidak akan bisa menuntut harta gono-gini setelah perceraiannya."


"Andalah salah satu orang yang dipercaya memegang semua aset milik Keluarga Mahesa. Karena Tuan Atmajaya tahu bahwa Anda adalah orang baik yang tidak akan berkhianat."


Hendra mengatakan apa yang dia tangkap dari pesan dan surat wasiat Atmajaya. Pria yang menjabat sebagai kuasa hukum keluarga itu pun juga menyukai pembawaan Delina yang lembut dan polos. Mencerminkan jika dia memang orang baik dan Atmajaya tidak salah memilih menantu.


"Meskipun pernikahan Anda awalnya tanpa didasari rasa cinta dan terlalu mendadak. Tetapi Anda menjalani hari-hari Anda dengan ikhlas dan tulus," lanjutnya.


Selama ini memang Delina tidak pernah mengeluh dengan kehidpuannya yang menyakitkan. Dimulai dari mendadak menikah disaat baru saja lulus SMA, menjadi istri kedua yang terabaikan, mendapat tekanan pekerjaan diusia yang masih muda, dan mendapatkan ancaman dari istri pertama. Tak menyangka Delina bisa melewati cobaan itu satu persatu.


Dibalik semua itu Delina sering menangis secara diam-diam. Meratapi hidupnya dan tidak bisa cerita kepada siapa pun selain menangis sendiri. Perempuan itu tersenyum manis, "Sayalah yang wajib bangga kepada papa yang sudah banyak membimbing."


"Tuan Atmajaya semakin bangga pada Anda saat Anda berhasil memimpin sebuah proyek besar. Termasuk kebanggannya pada Anda saat bisa menyelesaikan satu persatu masalah di perusahaan."


Hendra mengungkapkan semua yang dirasakan Atmajaya karena dia adalah salah satu orang kepercayaan yang tahu semuanya. Sayangnya memang Atmajaya belum sempat mengatakan rasa bangganya langsung kepada Delina.


"Dan semua harta warisan Tuan Atmajaya sepenuhnya diberikan kepada Anda, Nona." Hendra menata berkas-berkas yang tadi telah dia buka.

__ADS_1


"Rawatlah dengan baik dan kembangkan usaha-usaha yang telah dirintis oleh Tuan besar." Hendra menyerahkan sebuah koper berisi surat-surat berharga.


Deg-degan Delina dan gemetaran menerimanya. Dia berpikir apakah pantas dirinya menerima itu semua? Apakah tidak terlalu berlebihan jika dia yang memegang semua harta warisan itu?


"Pak Hendra ... apakah ini benar? Apakah saya bisa mengelola ini semua? Ini terlalu banyak dan rumit," tanya Delina tidak percaya dengan dirinya sendiri. Rasanya seperti mimpi, dia senang tetapi tanggung jawabnya semakin besar. Bayangkan mengelola seluruh harta peninggalan Keluarga Mahesa sendirian.


"Iya benar, Nona. Memang begitu banyak perusahaan milik Keluarga Mahesa yang tersebar diberbagai kota. Saya yakin Anda bisa mengelola ini semua dengan sangat baik," tutur Hendra.


"Jika butuh bantuan katakan saja pada saya. Saya akan membantu Anda. Dan tentunya ada Ferdi yang juga siap membantu Anda kapan pun dan dimana pun. Iya kan Fer?" Hendra mengalihkan pandangannya kepada Ferdi yang duduk berseberangan dengannya.


Hendra berusaha meyakinkan Delina. Meskipun perempuan itu masih tampak tidak percaya dengan tanggung jawab barunya.


"Oh iya. Tuan Mahesa meminta Anda datang menemuinya besok, Nona." Hendra menyampaikan pesan Mahesa kepada Delina.


"Baiklah Pak. Besok saya akan menemui Tuan Mahesa."


Yang Delina takutkan kalau Mahesa marah kepadanya. Biasanya ketika sedang ada masalah Delina menjadi sasaran empuk kemarahannya. Apa pun masalahnya Delina yang akan dimarahi.


"Kenapa Tuan Mahesa menyuruhku untuk menemuinya?" gumam Delina menatap langit-langit kamarnya.


Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan esok harus bertemu dengan Mahesa. Dia akan menyiapkan mental terlebih dahulu sebelum bertemu dengan suaminya.


###


Apakah memang benar Mahesa meminta Delina menemuinya hanya untuk memarahinya?


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2