Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda

Berbagi Cinta : Istri Kedua Tuan Muda
Proses Kehidupan


__ADS_3

Beberapa minggu berikutnya Delina kembali menjenguk Mahesa ke penjara. Mahesa tersenyum menyambut istrinya yang datang dengan wajah sumeringah. Dipandangnya istrinya yang semakin cantik dengan kalung berlian pemberiannya yang melingkar di lehernya.


"Sepertinya aku tidak salah memilihkan kalung itu untukmu. Kalung itu sangat cocok berada di lehermu,"  puji Mahesa menyambut pelukan Delina yang baru saja tiba.


"Aku juga sangat menyukai kalung ini. Terima kasih ya."


Mereka kembali duduk dan mulai berbincang. Tema perbincangan mereka kali ini adalah tentang permintaan maaf dari Mahesa kepada Delina. Karena perlakukannya yang terkesan buruk semenjak pernikahan mereka dulu. Mahesa menyadari semua kesalahannya itu dan dia merasa sangat menyesal atas perbuatannya.


"Aku tahu kamu sangat membenciku dan kamu boleh meluapkan dendam kamu dulu. Aku akan menerima apa pun yang kamu lakukan kepadaku. Tetapi setelah kamu meluapkan dendammu kepadaku, tolong jangan lagi membenciku," ucap Mahesa seraya menyibakkan rambutnya yang sudah mulai gondrong.


"Aku tidak pernah dendam kepada kamu. Memang dulunya agak kesel dengan perlakuan kamu kepadaku. Tetapi aku sadar memang aku salah sudah masuk ke dalam rumah tangga kalian yang harmonis," sahut Delina.


"Dan semenjak kedatangan aku dalam rumah tangga kalian. Menjadi ada kecemburuan dan persaingan yang dimulai dari istri pertama kamu," lanjut Delina.


Mendengar penuturan Delina, Mahesa justru tertawa. Entah istrinya itu tidak tahu atau terlalu polos. Sudah jelas-jelas Maharani diceraikan oleh Mahesa karena telah menjadi mata-mata dan ingin menjatuhkan karir Mahesa.


"Kamu salah Sayang. Maharani tidak pernah mencintaiku dengan tulus, dia hanya berpura-pura saja. Tujuan utamanya adalah meminta harta dariku, menjadi mata-mata Kenzo, dan menjatuhkan perusahaanku agar Kenzo, kekasihnya bisa lebih unggul dari aku," jelas Mahesa panjang lebar.


"Justru Maharani takut kamu datang dan membongkar kebusukan dia selama ini. Makanya Maharani selalu membuat gara-gara baik di rumah atau pun di perusahaan."


Terdengar hembusan napas kasar dari Mahesa. Pria itu benar-benar merasa bersalah, "Disini aku yang salah, Sayang. Aku yang sudah menghiraukan peringatan papa untuk tidak menikah dengannya. Aku pula yang terlalu menurut dengan semua perkataan Maha. Aku yang tidak peka dengan gerak-gerik mencurigakan Maha, bahkan aku membebaskan dia pulang pergi ke luar negeri hanya untuk mereke berselingkuh.


Mahesa sudah menundukkan kepalanya dengan dua tangan yang menyangga kepala pria itu.. Jika mengingat-ingat masa lalu, Mahesa hanya bisa menyesali semuanya. Berharap waktu bisa diputar dan Mahesa akan menuruti apa yang dikatakan Atmajaya. Namun, itu tidaklah mungkin terjadi, sekarang yang harus dia lakukan adalah menghadapi.

__ADS_1


"Itu semua yang menyebabkan aku berada disini, membuat papa meninggal secepat ini, dan membuat perusahaan menjadi ---" geram Mahesa kepada dirinya sendiri.


"Semua bukan salah kamu. Ini sudah menjadi takdir dari sang pencipta agar kita sama-sama belajar," potong Delina.


Ditariknya kedua tangan Mahesa lalu dia genggam. Delina mengarahkan matanya agar bertatapan langsung dengan Mahesa.


"Begitu pun aku menjadi istri kedua merupakan sebuah takdir. Itu artinya kita disuruh sama-sama belajar memahami hidup, memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik. Memilih apa yang harusnya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari," ucap Delina berkata bijak.


"Semua itu bukanlah kesalahan, melainkan sebuah proses yang membuat kita belajar lebih banyak di kehidupan ini," lanjutnya.


"Stop untuk menyalahkan diri sendiri. Mari kita belajar bersama-sama memahami makna hidup dan cobaan yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita."


Jujur saja Mahesa terperangah kaget dengan penuturan istri kecilnya yang sudah beranjak dewasa. Tidak menyangka kata-kata yang baru saja dia dengar keluar dari Delina. Perempuan yang dia kenal sewaktu perempuan itu lulus SMA. Dan kini waktu, pengalaman, dan proses kehidupan membuatnya menjadi perempuan yang kuat dan hebat.


"Dan kata ayahku jangan pernah sekali-kali menyalahkan takdir. Karena itu artinya kita menyalahkan Tuhan yang sudah menciptakan kita," imbuhnya.


"Yang seharusnya kita lakukanlah hanyalah banyak bersyukur atas semua kejadian baik atau buruk yang menimpa kita."


Delina sudah mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Seolah membangkitkan semangat bagi suaminya yang sedang bersedih itu. Tanpa diduga perempuan itu meneriakkan, "Semangat! Ayo semangat!"


Namun, tak lama kemudian Delina menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Karena dia menjadi pusat perhatian karena sudah berteriak seperti itu. Akhirnya dia malu sendiri dengan tingkahnya. Menundukkan kepala dan tersenyum tipis kepada orang-orang yang melihat kearahnya.


"Mari kita berproses bersama," ajak Delina dengan berbisik seraya menyodorkan jari  kelingkingnya.

__ADS_1


Mahesa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Delina. Rupanya belum sepenuhnya Delina benar-benar seperti orang dewasa. Sifat anak muda masih melekat pada dirinya. Segera Mahesa menyambut jari kelingking Delina dan mengeratkan jari kelingking keduanya.


Sepulangnya dari menjenguk Mahesa. Delina memutuskan untuk memeriksakan kandungannya dengan diantarkan oleh Lily. Mereka mengunjungi sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak bertaraf internasional. Rumah sakit rekomendadi dari Lily setelah mengadakan riset melalui internet dan bertanya-tanya orang.


"Nona kata kebanyakan orang dan kata google ini rumah sakit terbaik untuk memeriksakan kandungan. Peralatannya sangat lengkap dan pelayanan dari tenaga kesehatan yang sangat bagus," ucap Lily seperti layaknya pemandu saat masuk ke dalam rumah sakit itu.


"Baiklah aku percayakan semuanya kepadamu, Lily. Terima kasih sudah repot-repot mencarikan rumah sakit untukku," balas Delina.


Delina menggunakan katakan VVIP di rumah sakit tersebut. Jadi tidak perlu antri menunggu dokter karena langsung mendapatkan akses masuk ke ruang dokter.


"Silahkan, Bu," ucap perawat dengan sangat ramah menyambut Delina di ruang dokter.


Beberapa saat Delina diperiksa oleh dokter spesialis kandungan dibantu beberapa perawat. Mereka bertugas dengan sangat baik dan teliti. Tidak mau ada kesalahan yang bisa merugikan pasien.


"Pemeriksaan sudah selesai. Harap menunggu beberapa menit untuk melihat hasil lengkapnya," ucap perawat mempersilahkan Delina duduk di ruang tunggu VVIP bersama Lily yang sejak tadi ada disana.


Tidak lama kemudian perawat tersebut datang menghampirinya. Mempersilahkan Delina masuk kembali ke ruang dokter untuk menerima penjelasan dari hasil pemeriksaan.


"Bagaimana hasilnya, Nona?" tanya Lily yang sudah tidak sabar mendengar hasilnya. Pengawal Delina itu berdiri dan menyambut Delina tepat di depan pintu ruangan dokter.


###


Bagaimana hasil pemeriksaan kandungan Delina? Apakah hasilnya masih sama seperti pertama kali Delina memeriksakan kandungannya di dokter yang direkomendasikan oleh Maharani? Coba tebak. hehe

__ADS_1


🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar ya. Sehat dan sukses selalu teman-teman semua.


__ADS_2