
Bagaimana Mahesa tidak marah, saat kembali ke rumah. Keadaan rumahnya sangat berantakan. Botol dan gelas bekas minuman beralkohol berceceran dimana-mana. Belum lagi orang-orang tidak sadarkan diri setelah mabuk.
"Dimana Clarissa?" teriak Mahesa marah.
Rupanya hampir setiap malam perempuan itu mengadakan party di rumahnya. Menggundang teman-temannya untuk bersenang-senang di rumah milik Mahesa. Dan mengakui rumah itu adalah rumahnya.
"Dasar perempuan kurang ajar! Kau apakan rumahku?" bentak Mahesa.
"Bangun kak!"
"Semuanya pergi!"
Dia mendapati Clarissa tengah tiduran di sofa ruang keluarga. Ditariknya perempuan itu dengan kasar supaya bangun dari tidurnya. Suara Mahesa yang m3mekkan telinga semua orang, membuat satu persatu mereka bangun.
"Pergi kalian semua!" ucapnya sekali lagi.
"Pengawal tolong seret mereka semua keluar dari rumah ini!" perintahnya kepada para pengawalnya.
Para pengawal melaksanakan tugas mereka untuk membereskan orang-orang mabuk itu. Sedangkan Mahesa mengarahkan tatapan tajamnya kearah Clarissa.
"Dan kamu cepat angkat kaki dari rumah ini!" perintahnya.
"Sayang ... rupanya kau sudah kembali? Kamu kemana saja? Aku bingung mencarimu kemana."
"Kemarilah Sayang, aku merindukanmu."
Bukannya takut akan kemarahan Mahesa. Clarissa justru bertingkah seolah-olah tidak melakukan kesalahan. Perempuan itu langsung merentangan tangannya untuk memeluk Mahesa.
"Lepaskan! Aku sudah bertemu dengan istriku dan dia akan kembali ke rumah ini," ungkap Mahesa.
"Maka dari itu sebaiknya kaus segera pergi dari rumahku!" lanjutnya.
__ADS_1
Clarissa mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan itu. Dia sama sekali tidak menemukan keberadaan orang yang Mahesa sebut sebagi istri. Oleh karena itu, Clarissa tidak percaya dengan ucapan Mahesa. Mungkin saja pria itu hanya mengancamnya.
"Dimana istri kamu Sayang? Aku tidak melihatnya," celetuk Clarissa.
"Kamu membohongiku ya?"
Mahesa berdecak seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia teringat dengan pesan dari Delina. Bahwa untuk sementara waktu dia harus merahasiakan identitas Delina sebagai istrinya.
"Maksudku beberapa hari lagi dia akan tiba di rumah," sambung Mahesa.
"Aku kan juga akan menjadi istrimu, Sayang," timpal Clarissa.
"Kita akan tetap melaksanakan acara pernikahan kita yang tertunda."
"Segera aku kabari waktu pelaksanaanya."
Clarissa merangkul bahu Mahesa seraya menggerlingkan matanya genit. Mahesa sudah sangat geram dengan tingkahnya. Namun, dia tetap harus bertahan untuk sementara waktu. Seperti pesan yang disampaikan oleh Delina kepadanya.
Kembali pada aktivitas yang selalu mereka lakukan sebelum menghilangnya Mahesa. Keduanya berangkat ke kantor bersama-sama. Seolah tidak ingin terpisahkan, tangan Clarissa terus melingkar di lengan Mahesa.
"Bisakah kau menjauhkan tanganmu dari lenganku?" tanya Mahesa merasa risih.
"Enggak Sayang. Aku tidak mau kau diambil oleh orang lain," tolak Clarissa.
"Lihat saja semua karywan perempuan yang kerja disini matanya jelalatan memandangmu."
"Aku tidak terima akan hal itu."
Dengan angkuhnya Clarissa berjalan dengan terus menggandeng Mahesa. Tentu saja mencuri perhatian para karyawan yang berpapasan dengan mereka.
"Kenapa kalian lihat-lihat?" ucapnya sinis kepada beberapa karyawan.
__ADS_1
"Pengen punya pacar tampan ya?" imbuhnya dengan angkuh.
Bertepatan saat masuk ke dalam lift. Ada seorang perempuan yang jarang Clarissa lihat tetapi masuk ke dalam lift khusus. Tentu saja hal tersebut menyulut emosinya.
"Heh siapa kamu berani masuk ke dalam lift ini?" gertaknya.
Perempuan yang dimaksud langsung menoleh kearah Clarissa. Menatap perempuan itu dari ujung kepala ke ujung kaki. Lalu menatap mata Clarissa.
"Saya?" tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah kamu! Siapa lagi bod0h!" umpatnya.
"Clarissa!" bentak Mahesa menengahi.
"Biarkan saja!" lerainya.
Perempuan yang tidak lain adalah Delina itu menyunggingkan senyuman sinis. Merasa kalah membuat Clarissa menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
Dalam hatinya bertanya, "Siapa dia? Anak baru saja songong."
Ini adalah kali pertama pertemuan antara Delina dan Clarissa. Sampai-sampai Clarissa mengira Delina adalah anak baru.
Kemudian dia berkata, "Enak nih dikerjain."
Diam-diam Clarissa juga menyunggingkan senyuman. Rasanya tidak sabar ingin mengerjai Delina, yang dia sangka sebagai karyawan baru di perusahaan.
###
Kayaknya seru ini nanti permainan yang akan dilakukan Clarissa. Eh, ngomong-ngomong kan Delina juga punya rencana untuk mengungkap kasusnya. Yuk mari kita tunggu jalan ceritanya.
🌱 Jangan lupa klik favorit, like dan komentar. Sehat dan sukses selalu ya teman-teman.
__ADS_1