Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku

Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku
Ngidam mangga muda dari pohon


__ADS_3

" Sayang...mas hari ini ke kantor ya. Kerjaan ayah udah banyak yang terbengkalai. " Ujar Daren sambil menatap wajah istrinya yang semakin hari semakin cantik. Baginya, saat hamil aura nya semakin terlihat.


" Eemmmm.." Sahut Delia dengan lesu, sebenarnya dia ingin sekali mangga muda dari pohon. Tapi dia juga merasa tak tega untuk mengutarakannya.


" Kamu kenapa ? Kenapa jadi ga bersemangat seperti ini ? Apa ada yang kau inginkan ? " Tanya Daren. Dia yakin jika sang istri sedang menginginkan sesuatu.


Dan akhirnya dengan berat hati Delia mengutarakan apa yang dia inginkan. Dia ingin suaminya memanjat pohon untuk mengambil mangga.


" Ya sudah jika kamu ingin mangga dari pohon, nanti aku akan mencari pohon mangga yang bisa di panjat dan aku akan mencari orang yang bisa memanjat. " Ujar Daren namun langsung dapat gelengan kepalanya.


Daren menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana caranya dia naik. Seumur hidup nya tak sekalipun dirinya melakukan hal itu, dan hari ini sang istri meminta dirinya untuk manjat.


" Apa kamu yakin sayang ? Terus terang aku belum pernah manjat ke atas pohon, nanti kalau aku jatuh Gimana ? " Tanya Daren penuh iba.


Mendapat penolakan, wajah Delia berubah mendung. Dia terlihat sedih. Tentu saja membuat Daren tak tega dan mau tak mau harus nurutin kemauan sang istri, meskipun dirinya belum pernah melakukan hal itu.


" Dari pada di suruh manjat pohon, mending manjat kamu yang. Meskipun Berkali-kali aku harus manjat, aku yakin mampu. " Gumam Daren dalam hati.


Daren akhirnya melonggarkan dasi nya kembali dan mengambil ponselnya dari saku celananya.


" Ya Tuan. Ada apa ? " Tanya Doni yang kini sedang dalam perjalanan ke kantor.


" Kamu di mana ? Tolong kamu ke sini, ada urusan penting ! " Ucap Daren sambil menekan kata penting.


Dan akhirnya Doni berputar balik untuk menuju rumah bosnya.


" Mas, aku ikut ya ? Nanti mas boong lagi yang naik bukan mas. Bisa aja kan mas nyuruh Doni dan lainnya. " Sahut Delia membuat Daren tertawa geli dalam hati.


" Ckk.. Tau aja ni cewek pikiran gw. " Gerutu Daren.


Dan akhirnya lagi-lagi Daren menuruti keinginan istrinya. Dia di bikin tak berkutik.


Doni sudah sampai. Dan akhirnya Daren memilih untuk turun menemui Doni untuk membicarakan hal itu. Sedangkan Delia kini sedang bersiap-siap.

__ADS_1


" Tuan, sebenarnya ada hal penting apa yang ingin Tuan bicarakan ? " Tanya Doni membuka obrolan. Wajahnya terlihat sangat serius menanti jawaban dari tuannya.


" Istri saya ngidam ingin makan mangga langsung dari pohon. Dan kamu harus temenin saya untuk mencari pohon mangga yang bisa saya panjat. " Sahut Daren membuat Doni melongo. Bahkan sempat menepuk-nepuk wajahnya memastikan omongan bosnya.


" Ckk...ga salah itu si bos ngomong gitu. Busye* pamor nya nyonya Delia gede banget ya. Sampe-sampe si bos ga bisa menolaknya. Baru tau gw bos mau manjat pohon, biasanya manjat bini nya terus. " Doni tertawa geli dalam hati.


Delia turun sudah dalam keadaan rapih, dirinya langsung menghampiri Doni dan suaminya yang sedang mengobrol. Kali ini Delia akan membawa serta Daffa.


" Mas, ayo ! " Ajak Delia pada suaminya.


" Kita sarapan dulu ya, mas laper. Kamu juga kan belum sarapan. " Ujar Daren.


" Aku Ga mau makan mas ! aku ingin makan mangga muda dulu ! " Sahut Delia dengan wajah yang tak bersahabat. Membuat Daren menghela nafas panjang. Dirinya tak ada kekuatan untuk melawan.


Dan akhirnya hanya suaminya saja yang sarapan, Delia hanya menunggu saja.


Kini Doni, Daren, Daffa, dan Delia sudah dalam perjalanan mencari pohon mangga.


" Don, gimana ? Apa sudah ada pohon mangga yang bisa saya panjat ? " Tanya Daren membuka omongan. Dirinya sudah merasa gelisah, pasalnya sudah berkeliling mencari pohon mangga belum juga ketemu. Sedangkan sang istri sudah memasang wajah sendu membuat Daren bertambah kelabakan.


Perjalanan mereka kali ini terpaksa harus berkeliling memutari perkampungan.


Dan akhirnya mereka telah sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat luas dan tak memiliki garasi .


" Don, cepat sana kamu turun temui pemilik rumah ! Nanti kalau sudah pasti, saya baru turun ! " Titah Daren kepada sang asisten membuat Doni menggerutu dalam hati. Kenapa harus dirinya yang ngomong bukan dirinya.


Setelah perbincangan yang memakan waktu 10 menit akhirnya sang pemilik rumah mengijinkan nya. Terlebih Doni bilang jika istri bos nya sedang mengidam dan habis ngambek 7 hari 7 malam mengunci diri di dalam kamar. Hal itu tentu saja menambah rasa tak tega di benak pemilik pohon mangga tersebut.


" Ayo kita turun ! " Ajak Daren setelah sudah pasti pemilik pohon mangga itu mengizinkan dirinya.


Daren, Delia ,dan Daffa turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Doni.


" Permisi pak. Saya izin memanjat pohon. " Ucap Daren sopan. Delia pun ikut mengangguk saat sang pemilik melirik ke arahnya.

__ADS_1


Sejak tadi Daren hanya memandang pohon mangga itu. Dan belum berani naik.


" Pohonnya tinggi banget. " Ucap Daren.


" Kenapa mas ga mau ambilin itu mangga ? " Tanya Delia saat mendengar penuturan suaminya tadi.


" Kata siapa ? Mas mau kok sayang. Cuma ini pohon kan tinggi, mas lagi berpikir cara manjat nya. Kan kamu tau mas ga pernah manjat pohon. " Sahut Daren merayu istri nya. Padahal kini jantungnya sudah berdegup kencang kaki nya terasa gemetar dan tiba-tiba kepalanya terasa migran.


Daren mencoba merayu sang istri apa boleh yang mengambilnya Doni atau menyuruh orang lain. Namun sayangnya sang istri tak mau. Dia hanya ingin Daren yang mengambil.


" Ckk...pengen lihat si bos manjat pohon. " Ucap Doni dalam hati.


" Asli ini Xtreme banget. Mending manjat kamu aja yang, enak. " Gumam Daren dalam hati.


Dan akhirnya dengan berat hati. Perlahan demi perlahan Daren mencoba menaik ke atas. Sungguh pandangan yang sangat lucu. Dia tak menyangka jika bos nya sangat takut dengan istrinya.


" Yeay...berhasil. Ucap Daren senang seperti baru saja memenangkan tender besar.


Hatinya bertambah senang saat sang istri menerima mangga hasil kerja kerasnya.


" Ini gimana turunnya ya ? Dan saat melihat ke bawah matanya menjadi kunang-kunang. " Ujar Daren.


" Bos bisa turun ga ? Coba turun pelan-pelan dengan cara mundur ! " Ujar Doni mengajari bosnya.


Bruk


Daren tersungkur di tanah untungnya sudah tidak terlalu tinggi. Cuma tetap saja Daren merasakan sakit di sekitar pinggang dan bokongnya.


Melihat bos nya seperti itu. Doni secara spontan justru tertawa keras , hingga akhirnya dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Daren.


Kata Daren, sungguh memanjat pohon lebih sulit dari meraih tender besar dan lebih sulit dari memanjat sang istri.


Mohon maaf baru up lagi. Apa masih ingin lanjut ???

__ADS_1


Yuk jangan lupa dukungannya πŸ™πŸ˜„πŸ˜ƒπŸ˜πŸ˜˜πŸ˜


__ADS_2