
Daren berjalan gontai memasuki rumah sakit tempat Tasya di rawat. Pandangannya terlihat kosong, tak ada gairah. Daren menyandarkan tubuhnya di sebuah bangku yang berada di depan ruangan ICU.
" Del...kenapa tinggalin aku ! Apa aku sanggup melewati hidup ku tanpa mu ! Cepat kembali bersama anak kita, kita akan mulai semuanya dari awal ! " Ucap Daren lemah. Hatinya terasa rapuh.
" Tuan..." Panggil Doni, menyadarkan lamunan Daren membuat dirinya menoleh ke arah sumber suara.
" Ya..." Jawab Daren singkat.
" Kasihan sekali ngelihat nasibnya sekarang. Wajahnya sangat suram seperti orang tak ada gairah hidup. Demi wanita penipu itu, kau rela menghancurkan masa depan mu !" Ucap Doni yang menghujat Tuannya dalam hati.
" Kalau kau hanya ingin diam seperti patung, lebih baik kau pergi dari sini ! " Ucap Daren sambil menatap tajam ke arah Doni.
" Ma...maafkan saya Tuan. Saya mau menanyakan kapan Tuan kembali memimpin perusahaan ? Kondisi Perusahaan sangat mengkhawatirkan. Penjualan menurun, hingga laba perusahaan semakin menurun. Saya khawatir lama kelamaan bisa mengalami kebangkrutan. " Ujar Doni membuat Daren tak mampu menahan rasa takutnya. Dia tak mungkin bersikap masa bodo dengan perusahaan yang bertahun-tahun di dirikan oleh orang tuanya.
" Jika memang perusahaan sangat membutuhkan aku, aku akan datang besok ! "
" Ku harap seperti itu ! Lebih cepat lebih baik ! " Sahut Doni membuat kepala Daren hampir pecat.
" Menurut mu apa aku perlu menyewa orang untuk menjaga Tasya menggantikan diriku selama tak ada ? " Daren bertanya pada asistennya.
" Sepertinya itu lebih baik, jadi anda bisa lebih fokus pada perusahaan ! Toh Nyonya Tasya pun tak ada perubahan. Nanti jika anda di butuhkan, pasti pihak rumah sakit akan menghubungi anda ! " Jelas Doni membuat pikiran Daren terbuka.
" Baiklah Tuan, saya pamit pulang ! Jika ada yang di butuhkan, Tuan bisa hubungi saya ! " Ucap Doni dan langsung dapat anggukan kepala dari Daren.
πππ
__ADS_1
Kini hanya tinggal Daren seorang diri yang menemani Tasya. Dirinya termenung menatap sang istri dari luar jendela yang masih terus menutup mata. Sudah banyak waktu yang terbuang untuk menanti sang istri terbangun dari koma.
" Del, maafin aku yang membuat kamu menjadi seperti ini ! Aku yakin jika aku tak pernah menyakiti mu, kamu pasti masih dengan ku. " Ucap Daren sambil memejamkan matanya.
Sedangkan di kediaman Delia. Delia akhirnya memutuskan untuk berangkat malam ini juga ke Paris. Dia takut Daren akan menggagalkan rencana kepergian nya. Untungnya Reynaldi mempunyai saudara yang bisa membantu kepergian Delia, rencana nya dia juga akan menutup akses agar tak seorang pun yang tau kemana Delia pergi.
Tangis haru menyelimuti kepergian Delia. Saat Delia berpamitan dengan Bi Yati. Sejak Delia menyandang status sebagai Nyonya Daren, Bi Yati lah yang selalu menemani dan memberi semangat pada Delia.
Delia pergi di kawal oleh orang suruhan saudara Reynaldi. Keamanan Delia terjaga. Untungnya Daren tak menyuruh orang suruhannya menguntit Delia, karna dia sudah memberi kesempatan Delia untuk pergi.
" Delia...." Teriak Daren. Daren terbangun dari tidurnya, dirinya memimpikan Delia yang pergi meninggalkan dirinya.
Daren mencoba mengatur nafasnya yang seperti di Uber binatang buas.
" Ternyata hanya mimpi ! Benar kata Doni, aku memang harus mencari orang untuk menjaga Tasya. Tak mungkin aku hidup seperti ini ! Ku yakin jika diriku menghabiskan waktu ku untuk nya, pasti lambat laun Delia akan kembali pada ku.
Entah mengapa sejak tadi hatinya terasa gelisah, pikiran nya terus melayang pada sosok wanita cantik yang kini sedang mengandung anaknya.
" Apa mungkin Tuhan memiliki rencana lain ? Menyadarkan ku, siapa yang harus aku pilih ? Sekarang Delia sedang mengandung anak ku, dan Tasya justru keguguran dan sekarang masih terbaring koma dan bahkan sulit memberikan aku anak. " Gumam Daren dalam hati.
Semalam Daren tak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus melayang bersama Delia.
" Dari pada aku terus merasa tak jelas begini, lebih baik aku ke rumah Delia lalu berangkat ke perusahaan. Benar juga kata Doni lebih baik aku mencari orang untuk merawat Tasya, jadi aku bisa dekat terus dengan Delia. Aku akan maksa Delia untuk tidak pergi ! " Ujar Daren sambil berjalan di ke arah keluar rumah sakit. Padahal jam baru menunjukkan pukul 04.00 pagi. Untuk sementara Daren menitipkan Tasya ke perawat.
Daren melajukan mobil sport nya dengan kecepatan penuh. Tak lebih 10 menit dirinya sudah sampai di depan kediaman Delia. Scurity yang berjaga langsung membuka pintu gerbang untuk memberi masuk tuannya
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi dengan Scurity, Daren langsung memencet bel dan juga mengetuk pintu utama membuat Bi Yati terbangun dari tidurnya.
Setelah pintu terbuka, Daren langsung menerobos masuk ke dalam dan berteriak memanggil Delia...
" Del...Delia..." Daren menghampiri kamar Delia yang tertutup dan membukanya.
" Kemana dia ? Mengapa kamarnya terlihat rapih ? " Gumam Daren. Daren mencari Delia hingga ke kamar mandi, dan akhirnya dirinya tertuju pada pakaian Delia dan juga kosmetik di meja rias yang kosong.
" Delia...." Daren bersimpuh lemah di lantai, air mata nya menangis deras. Dirinya berteriak histeris terus meraung memanggil nama sang istri.
" Del...kenapa kamu tinggalkan aku ? Kenapa kamu pisahkan aku dengan anak ku ! Kembali Del...ku mohon ! "
Sedangkan di luar kamar Bi Yati, Pak Ahmad , dan Bi Yani yang baru pertama kali melihat tuannya serapuh itu merasa kasihan, namun ada perasaan takut jika tuannya mengamuk mencari keberadaan sang istri. Dan Bi Yati yang mengetahui ke mana Delia pergi, tetap akan menutup rahasia dari tuannya. Dia sangat mengetahui apa yang di perbuat dulu oleh tuannya, dan saat ini dia ingin melihat sejauh mana penyesalan yang di rasa tuannya saat Nyonya nya pergi dari hidupnya.
Dan benar saja setelah meluapkan kesedihan nya, kini Daren berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan. Daren bangun menghampiri ketiga orang yang sedang berdiri menatap dirinya. Tubuh ketiga nya merasa bergetar dan wajahnya terlihat pucat. Melihat tuannya yang menatap tajam.
" Katakan kemana Nyonya pergi ? Kapan Nyonya pergi ? Dan mengapa di antara kalian bertiga tak memberi tahu ? " Ucap Daren dengan keras, aliran darahnya terasa memanas. Membuat ketiga nya tertunduk tak berani menatap.
" Jawab !!! Jangan diam saja jadi patung !! " Suara Daren menggema.
" Maaf tuan, semalam saat Nyonya pergi saya tak sempat menanyakan ke mana nyonya pergi dan nyonya hanya bilang mau sekolah di luar negeri dan menitipkan rumah kepada saya sebelum pergi. Saya kira tuan sudah tahu dan tak peduli, karna memang nyonya selama ini terlihat sendiri. Sedangkan anda sibuk sama nyonya Tasya. " Ucap Pak Ahmad dengan takut, takut apa yang dia bicarakan salah.
" Benar tuan...kami pikir tuan tak akan peduli ke mana nyonya pergi. Jadi kami tak menghubungi anda ! Kami hanya membantu nyonya membawakan barang-barang ke taksi. " Sahut Bi Yati.
Daren melemah, memang tak seharusnya dia menyalahkan para pekerjanya. Wajar mereka melakukan seperti itu karna apa yang di perbuat dirinya selama ini kepada Delia bukan seperti suami yang baik. Sedikit banyak mereka mengetahui perbuatan jahatnya kepada istrinya.
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian ya, terima kasih ππππ·πΉπ»