Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku

Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku
Sidang perceraian tahap pertama


__ADS_3

" Mas, Minggu depan sidang pertama kita ! Kamu jangan sampai ga datang ya ! " Ucap Delia pada Daren.


Daren hanya menghela nafas panjang. Kepalanya tiba-tiba terasa pening karna harus memikirkan sifat sang istri yang keras kepala tetap ingin bercerai dari nya.


" Ya...aku akan datang ! " Sahut Daren lesu.


Matahari seakan tak bersinar lagi, menyinari hati. Bumi pun terasa runtuh. Saat memikirkan pernikahannya berada di ujung tanduk.


" Hari ini kamu ikut ke kantor atau mau ke butik dulu ? " Tanya Daren tak semangat. Delia tau, jika keputusannya untuk bercerai bukan suatu putusan yang di inginkan suaminya.


" Hari ini aku ga ke kantor dulu ya mas, ada hal penting yang harus aku kerjakan ! " Ujar Delia. Delia berusaha untuk mulai berjaga jarak dengan sang suami.


Doni telah sampai, dan Daren pun berpamitan berangkat pada Delia dan Daffa.


Daren terlihat tak semangat. Wajah nya seperti kanebo kering, terlihat sangat kaku. Dan bahkan di tekuk sebelas.


" Kenapa ya tuan Daren ? Muka di tekuk-ketuk seperti cucian baru kering yang di lipat. Seperti ga pernah dapat jatah satu tahun dari Nyonya Delia. " Gumam Doni dalam hati.


Hanya memakan waktu 20 menit. Mereka telah sampai di gedung Agung Jaya Group. Aura wajah yang sangat menakutkan tergambar di wajah Daren saat memasuki gedung perkantoran. Karyawan yang berpapasan hanya memilih menundukkan kepalanya memberi hormat.


Daren menduduki bokongnya di kursi kebesarannya. Dan tangannya mulai memijat-mijat keningnya yang terasa pusing.


" Don, cariin saya pengacara yang bisa bantu saya memenangkan sidang perceraian. Saya ga mau cerai Don, tapi nyonya mu kekeh mau cerai dari saya. " Ucap Daren frustasi.

__ADS_1


" Owh jadi ini alasan dari tadi tuan Daren mukanya ga ngenakin banget. " Gumam Doni dalam hati. Saat mendengar penuturan Tuannya.


\=\=\=\=


Daren meminta Doni untuk menutup rapat tentang sidang perceraiannya dengan Delia. Dia tak ingin satu orang karyawan pun yang tau tentang permasalahan yang dia hadapi. Terlebih jika Tasya yang mendengarnya, pasti akan bersorak gembira akhirnya tanpa susah payah Daren dan Delia bercerai.


" Mas, kita nanti ketemu di pengadilan ya ! Soalnya aku datang sama pengacara aku ! " Ucap Delia yang sudah berdandan rapih. Delia tak membawa serta Daffa, karna ini sidang resmi. Delia memilih menitipkan Daffa pada Bi Yati dan Bi Yani.


Jujur kedua art itu sangat sedih. Mereka masih terus berharap jika nyonyanya mau berubah pikiran. Membatalkan perceraiannya. Terlebih mereka sempat merasa senang dengan keharmonisan kedua majikannya, dan sekarang harus menjalani sidang perceraian.


Delia pergi lebih dulu, karna dia harus membicarakan lebih dulu pada pengacaranya. Sama halnya dengan Delia, tak lama kemudian Daren pun di jemput oleh Doni untuk bertemu dulu dengan pengacaranya di kedai coffee.


" Daffa, ayah jalan dulu ya ! Doakan ayah, semoga bunda berubah keputusan. Bunda sama ayah bisa bersatu. " Ucap Daren dengan suara lirih. Bahkan kedua art nya ikut merasakan apa yang di rasa Daren saat itu.


Mobil mereka telah terparkir di kedai coffee. Daren turun dan langsung menghampiri pengacara yang menangani kasusnya dengan Delia.


Bert, tolong saya ! Usahakan semaksimal mungkin, agar hakim memutuskan gugatan itu tidak sah. Kamu bilang, kalau hubungan kami masih baik. Memang dulu saya pernah menyakiti Delia bahkan sampai menikah lagi, menduakan dia. Tapi sekarang saya sudah memutuskan untuk serius hidup sama dia, terlebih dengan istri kedua saya sudah bercerai. Pokoknya saya akan bayar berapa pun kamu, jika kamu bisa memenangkan kasus ini ! " Ucap Daren pada Albert pengacaranya.


" Saya akan usahakan tuan Daren. Dan menurut saya, tuntunan nyonya Delia tidak kuat. Terlebih Tuan Daren tetap menafkahi nyonya Delia dan selalu mencukupi keinginan nyonya Delia. " Sahut Albert percaya diri akan memenangkan kasus ini.


\=\=\=\=


Daren kini sudah duduk bersebelahan dengan Delia. Suasana dingin sangat terasa. Delia menganggap Daren seperti musuh, memilih dia menyerahkannya pada sang pengacara. Mama Mila, Doni, dan juga Papa Agung sudah hadir dalam persidangan tersebut. Dia ingin menyaksikan langsung sidang perceraian kedua anaknya tahap pertama.

__ADS_1


Terlihat saling debat antar pengacara Delia dan juga pengacara Daren. Mereka sama-sama ingin memenangkan dalam sidang ini. Suasana terasa sangat panas. Semua ingin menang dengan pendapat nya sendiri.


" Maaf, hakim ketua yang saya hormati. Klien saya masih sangat berharap jika nyonya Delia mau memaafkan kesalahannya. Dia janji ga akan menyakiti lagi. " Ucap pengacara Daren. Memohon agar hakim ketua menyetujui terlebih mereka hubungan nya masih sangat baik. Tak ada alasan juga untuk bercerai.


" Maaf juga hakim ketua yang saya hormati. Tapi klien saya sudah terlanjur sakit hati akibat penghinaan yang di lakukan oleh tuan Daren, dan sangat sulit untuk memaafkan kesalahannya. Tuan Daren juga selalu menafkahi istri nya dengan semua fasilitas mewahnya. Semua peranannya sebagai seorang suami dan ayah telah dia jalani dengan baik. " Ucap pengacara Daren.


Pihak pengadilan memutuskan untuk melakukan mediasi kedua belah pihak. Berharap kedua pasangan saling memaafkan dan menerima satu sama lain. Karna semua manusia memang tak pernah luput dari dosa. Menurut pengadilan, pernikahan ini masih bisa di lanjutkan. Yang terpenting kedua belah pihak harus saling mengerti. Dan hakim ketua memutuskan untuk kasus ini di tunda dulu 1 bulan.


Delia merasa kecewa karna keinginan untuk cepat bercerai, sekarang hanyalah sebuah mimpi. Berbeda hal nya dengan Daren yang justru tersenyum licik. Ini adalah yang dia harapkan. Tuan memang berpihak padanya. Membantu dirinya untuk tetap mempertahankannya.


" Mas, aku duluan ! Mah, pah Delia duluan ! " Ucap Delia. Berpamitan pada Daren, Mama Mila, dan papa Agung.


Delia berjalan keluar dengan pengacaranya. Ada perasaan cemburu yang di rasa Daren saat melihat kedekatan Delia dengan sang pengacara.


Dan akhirnya Daren, Doni, dan sang pengacara memilih untuk mampir lagi ke kedai coffee untuk mengobrol di sana.


" Gimana menurut mu Bert ? Apa masih ada titik terang untuk kami bersatu ? " Ucap Daren langsung membuka omongan.


" Tenang aja Tuan, kita pasti akan memenangkan kasus ini. Pengadilan tidak akan mengabulkan permintaan nyonya Delia. " Ujar Albert.


Daren, Doni, dan Albert masih asyik mengobrol di kedai. Meluapkan ketakutan-ketakutan apa yang Daren rasakan saat ini. Terlebih Delia sepertinya berusaha keras untuk berpisah.


Dan setelah mengobrol selesai, Daren dan Doni berpamitan pulang. Untuk ke Kantor. Sama halnya dengan Albert yang memilih langsung pulang ke kantornya.

__ADS_1


__ADS_2