
" Mas, hari ini aku jadwalnya kontrol. Kamu mau ikut ? " Ujar Delia pada sang suami. Sambil memasangkan dasi suaminya.
" Oh ya ? Jam berapa jadwalnya ? " Sahut Daren sambil menatap manik mata istrinya.
Delia memberitahu bahwa jam 15.00 jadwal kontrolnya. Dan Daren berjanji akan pulang dan menyusul ke rumah sakit.
Setelah rapi, mereka turun untuk sarapan dan sudah ada Daffa yang sedang nonton tv di temenin suster Vira.
" Kakak, nanti mau ikut bunda lihat Dede bayi ? " Ujar Daren kepada sang anak. Mendengar ucapan sang ayah, Daffa langsung jingkrak-jingkrak merasa senang. Delia dan Daren melihat hal itu ikut tersenyum. Karna Daffa terlihat sangat antusias.
" Ya udah mas jalan dulu ya, soalnya ada meeting sama divisi di kantor jam 09.00. " Ujar Daren pamit, Delia langsing mencium punggung tangan suaminya. Dan Daren mencium kening sang istri.
Kini Daren telah sampai di Perusahaan yang dia pimpin. Jam tepat jam 09.00 Daren sudah berada di ruang meeting. Suasana dingin sangat terasa, saat bekerja dia akan bekerja sungguh-sungguh. Meeting di mulai. Masing-masing Divisi mempresentasikan tentang perkembangan dan hasil kerja mereka.
Meeting selesai, Daren langsung meraih ponselnya untuk menghubungi sang istri sambil menunggu datangnya makan siang yang sedang di beli oleh Doni.
" Kamu lagi apa yang sama Daffa ? Aku baru aja selesai meeting, dan sekarang lagi nunggu Doni beli makanan untuk makan siang. " Ujar Daren.
" Ni lagi nyuapin Daffa sambil nemenin Daffa main. " Sahut Delia yang langsung memperlihatkan Daffa dan wajahnya di panggilan telepon.
Bagi Daren keluarga kecilnya selalu menjadi moo booster buat dirinya untuk bersemangat. Tak ada lagi Daren yang egois mementingkan keinginan nya. Lagi pula apa lagi yang dia cari ? Semua telah dia miliki, hanya perlu bersyukur dan menikmatinya.
__ADS_1
" Ayah...ayah lagi apa ? Aku lagi main ni sama bunda ? " Tanya Daffa yang melihat wajah ayahnya di layar ponsel.
" Ayah lagi nunggu om Doni beli makanan. Daffa makan yang banyak ya ! Nanti sore Daffa ikut sama bunda ya, kita ketemu di sana. " Ujar Daren dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Daffa.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.15, Delia dan Daffa sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Berhubung jarak rumah dengan rumah sakit tak jauh berada di dekat komplek perumahan nya, Delia berangkat lebih santai. Lagi pula dirinya sudah daftar lewat telepon, hanya perlu daftar ulang saja itu pun prosesnya tak terlalu lama.
Kali ini Delia di drop supir, karna nanti dia akan pulang bersama suaminya. Dan kini Delia telah sampai di rumah sakit, lalu menggandeng sang anak masuk ke dalam rumah sakit menuju poli kandungan.
" Kakak pengen adik cewek apa cowok ni ? Semoga hari ini Dede nya ga nutupin jenis kelamin nya lagi, jadi kita bisa tau. " Ujar Delia pada sang anak. Jam sudah menunjukkan pukul 14.55. Dokter sudah mulai memeriksa satu persatu pasien. Karna jadwal praktek nya 14.50. Dan hari ini dokter datang tepat waktu. Dan Daren pun sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan membawa mobil sendiri. Tak lama kemudian dia sampe dan langsung masuk ke dalam menyusul sang istri.
" Kakak ingin adiknya cewek, pasti lucu dan menggemaskan. " Sahut Daffa membuat sang bunda tersenyum. Delia tak menyangka jika sang anak menginginkan adik perempuan. Padahal Daffa laki-laki, Delia berpikir jika Daffa ingin punya adik cowok agar bisa main bersama nya tapi ternyata penafsiran nya salah.
" Ayah..." Teriak Daffa saat melihat sang ayah sedang melangkahkan kakinya menuju dirinya dan sang bunda.
Tak lama kemudian nama Delia di panggil untuk pemeriksaan.
" Selamat sore dok. " Sapa Delia ramah.
" Kita langsung USG dulu aja ya ! Ayo tiduran dulu. " Sahut Dokter yang menangani Delia.
Daren sengaja memilih dokter kandungan wanita, karna dia tak ingin tubuh istrinya di lihat dan di pegang laki-laki lain meskipun hanya seorang dokter. Ya begitulah kalau udah bucin, menjadi sangat posesif.
__ADS_1
" Wah selamat, kakak mau punya adik cewek ni. " Ujar Dokter membuat Daffa merasa senang karna keinginan untuk memiliki adik cewek terwujud. Delia pun sama seperti Daffa. Dia juga merasa senang. Karna memang dia sangat mengharapkan kelak anak yang dia lahirkan adalah perempuan. Berbeda dengan Daren yang hanya berharap sang anak sehat dan terlahir normal tanpa kurang satu pun dan istri bisa melahirkan dengan selamat.
" Dok, aman kan ya kalau kami melakukan hubungan suami istri ? " Tanya Daren to the point membuat wajah Delia berubah merah menahan rasa malu, entah mengapa dirinya merasa risih jika harus ngomong tentang ranjang sangat berbanding terbalik dengan sang suami yang tak ada rasa malu.
" Silahkan boleh, terlebih nanti saat menjelang kelahiran harus sering mengunjungi baby nya. " Mendengar penuturan sang dokter membuat Daren tersenyum senang dan melirik sang istri dan menggodanya. Hal ini di jadikan kartu As untuk Daren, jika sang istri menolak nya.
" Cih...di larang aja nyosor terus apa lagi di izinin begini. Bisa-bisa aku kelimpungan ngadepin dia. " Gerutu Delia dalam hati.
" Ya udah sekarang bapak puas-puasin dulu main nya. Nanti setelah istri bapak melahirkan, bapak harus melakukan puasa selama 40 hari sampai selesai masa nifas. Tapi semua balik lagi kepada kesiapan istri nya. Kadang ada juga istri yang masih merasa takut berhubungan suami istri karna bekas jahitan merasa nyeri dan merasa takut. Biasanya ini terjadi untuk yang melahirkan secara sesar. Untuk nyonya Delia waktu melahirkan yang pertama normal apa sesar ? " Tanya Dokter. Normal dan untuk kelahiran kedua pun dirinya berharap akan melahirkan secara normal lagi.
" Karna nyonya Delia melahirkan secara normal, jadi kemungkinan besar kelahiran kedua bisa normal lagi. Jadi bapak puasanya ga terlalu lama, tapi ingat balik lagi ke istri nya kapan siapnya ! " Ungkap dokter.
Setelah selesai pemeriksaan dan konsultasi, Daren Delia Daffa keluar dari ruangan menuju apotik untuk menebus obat kecerdasan otak bayi dan vitamin. Karna Delia tak perlu obat mual atau penguat kandungan, kandungan nya aman ga ada masalah.
" Mas, ini bikin malu aja sih ! Segala nanyain begituan. " Gerutu Delia sambil memberi cubitan di pinggang suaminya.
" Lo kenapa harus malu ? Ini kan penting sayang. Demi hidup dan mati aku dan sang soulmate. Kamu kan tau nafs* suami kamu ini super duper, tak tahan lihat kamu. Huhft tapi untuk sementara aku harus sabar, karna mainan aku sebentar lagi buat Dede dulu. " Ucap Daren lemas kalah mengingat mainan kenyalnya yang sementara waktu harus berbagi pada sang anak.
" Huh dasar...ayah yang ga mau kalah sama anak. " Gerutu Delia membuat Daren tertawa geli.
Masih mau lanjut ??
__ADS_1
Terus beri dukungan ya buat karya iniπππππ