
Sesuai janji bunda, hari ini kita liburan sepuasnya. Daffa bersorak bahagia, rasa sedih inginnya bertemu sang ayah hilang sejenak.
" Sebelum kita berangkat, kita mampir dulu ya ke rumah mami Renita sekalian kita ketemu om Rey. Gimana ? " Ucap Delia pada sang anak sambil memakaikan pakaian untuk Daffa.
Daffa dan Delia kini sudah bersiap untuk pergi, Delia membawa mobil yang dia telah sewa. Berhubung Delia memang tak berniat menetap di Paris dan baginya Paris hanyalah sebuah tempat dirinya meniti karier dan berkembang untuk dunia bisnis, namun pada sejatinya dia akan tetap memilih Indonesia. Delia tak ingin jauh dari makam kedua orangtuanya. Delia di Paris hanya menyewa sebuah rumah untuk dirinya tinggal bersama Daffa, dan menyewa sebuah mobil jika dirinya perlu. Meskipun kariernya semakin meroket tak menjadikan dirinya lupa diri, dirinya selalu mempergunakan uangnya untuk suatu hal yang penting, semua dia lakukan demi masa depan Daffa. Dia tak ingin Daffa merasakan hidup seperti dirinya.
" Halo sayang...sini mami Renita cium. " Ucap Renita saat Daffa sampai dan masuk ke dalam rumah. Renita sangat menyayangi Daffa, terlebih dirinya belum juga di karunia anak. Renita menggendong tubuh mungil Daffa. Daffa adalah anak yang tampan dan sangat menggemaskan. Wajahnya memiliki kemiripan dengan sang ayah.
" Halo...Daffa. Om Reynaldi kangen banget sama kamu, kamu kangen ga sama om ? " Ucap Reynaldi, namun dengan tanpa berdosa Daffa menjawab tidak dan justru dirinya merasa kangen dengan sang ayah.
Jeder
Ucapan Daffa sangat menusuk ke jantung Reynaldi bahkan hingga ke lapisan terdalam.
" Daffa...ga boleh gitu jawabnya. Om Reynaldi bela-belain Loch ninggalin pekerjaan nya demi ketemu kamu. " Ucap Delia mengingatkan sang anak, Delia sangat tahu jika Reynaldi sangat tersinggung dengan ucapan Daffa. Terlihat di perubahan wajahnya.
" Sudah Del tak apa, namanya juga anak kecil. Dirinya kan ga ngerti. " Sahut Reynaldi, dia tak ingin memperpanjang masalah. Dan tugas dia adalah dua menaklukkan hati sang Delia dan Daffa anaknya.
" Anak pintar mau ke mana ? " Ucap Reynaldi yang memposisikan dirinya dengan Daffa.
" Bubun au jak ain. " Sahut Daffa.
" Om boleh ikut ga ? " Tanya Reynaldi lembut mengambil hati Daffa. Dan Daffa hanya menganggukan kepala tanda setuju. Dan tentunya hal ini membuat Reynaldi mendapatkan angin segar.
Reynaldi langsung mandi dan bersiap-siap. Dengan tanpa malunya dirinya ikut bersama Delia dan Daffa. Kalau Delia pribadi tidak masalah, karna sejak awal dirinya sudah menganggap Reynaldi sahabat nya terlebih sejak Daffa dalam kandungan Delia, Reynaldi sudah menganggap Daffa sebagai anaknya.
Reynaldi yang membawa mobil, sedangkan Daffa duduk di pangkuan sang bunda. Momen kebersamaan mereka seperti seorang anak bersama kedua orangtuanya.
" Sudah sampai kita ! " Ucap Reynaldi saat mobil mereka telah sampai di sebuah tempat hiburan. Delia dan Daffa turun dari bangku penumpang dan Reynaldi dari bangku pengemudi.
__ADS_1
Namun hal yang tak terduga terjadi, saat Reynaldi ingin menggandeng Daffa tenyata Daffa menolak nya mentah-mentah.
" Da au, om kan Yayah afa. " Tolak Daffa menghempaskan tangan Reynaldi.
Blus
Wajah Reynaldi berubah merah menahan rasa kesal. Jika bukan anak kecil dan bukan anak dari wanita yang dia cinta, mungkin Daffa udah habis di marahin bahkan Reynaldi cubit karna kesal.
" Maaf ya Rey perkataan Daffa membuat kamu tersinggung. " Ucap Delia yang melihat rona kekesalan di wajah Reynaldi.
" Ga apa Del, namanya juga anak kecil. " Sahut Reynaldi berusaha bersikap biasa, padahal dalam hatinya merasa sangat gondok bahkan kemarahan nya hingga ke ubun-ubun.
Delia, Daffa, dan Reynaldi kembali melanjutkan menuju arena bermain anak-anak. Berbagai wahana yang cocok dengan usianya, di coba Daffa. Dan pastinya sang bunda akan selalu setia mendampingi nya. Dan Reynaldi hanya asik memotret kebahagiaan mereka.
" Andai kalian bisa menerima aku di hidup kalian, pasti aku akan menjadi orang yang paling. " Ucap Reynaldi lirih.
Tawa bahagia tergambar dari wajah Daffa dan Delia saat menikmati berbagai macam arena bermain.
" Daren...aku akan berusaha untuk membuatmu hancur. Jika aku tak bisa mendapatkan cinta dari mereka, kau pun juga tak akan bisa. " Sahut Reynaldi.
" Rey...kita makan dulu yuk ! " Ajak Delia menghampiri Reynaldi yang sedang duduk termenung. Lamunan Reynaldi terhenti.
" Kamu ngomong apa Del tadi ? " Tanya Reynaldi sambil menggaruk-garuk tengkuk nya yang tak merasa gatal.
" Lagi melamun apa sih, sampe segitunya. " Goda Delia.
" Hehehe egak. Tadi cuma lagi terpikir tentang sketsa pesanan gaun pernikahan dari artis ternama. Tentunya aku tak mau mengecewakan. " Sahut Reynaldi berbohong, padahal yang di maksud bukan seperti itu. Dirinya sedang meluapkan apa yang ada di hati. Merasa geram karna penolakan Delia Daffa dan juga kekesalannya pada Daren. Dan ternyata Delia hanya ber o ria menanggapi penuturan Reynaldi.
Kini mereka sudah berada di sebuah tempat makan yang letaknya berada tak jauh dari arena bermain.
__ADS_1
" Bubun afa au ain ama Yayah, ayo emu Yayah ! " Ucap Daffa di sela-sela dirinya makan, keinginan dirinya untuk bertemu sang ayah sangat besar.
" Lagi-lagi kamu menyebut ayah mu di hadapan ku ! " Reynaldi merasa panas di hatinya.
" Doain Bunda semoga pekerjaan bunda cepat selesai. Jadi kita bisa pulang ke Indonesia ketemu Ayah, nenek, dan kakek di sana. " Rayu Delia.
" Lihat saja, aku akan berusaha untuk membuat kalian tidak akan bersatu selamanya ! " Ucap Reynaldi yang sudah mengepalkan tangannya di bawah meja makan.
Setelah selesai makan, mereka kembali ke arena bermain. Dan hari ini adalah hari untuk Daffa, waktunya untuk menyenangkan hati Daffa. Delia lakukan semata-mata hanya untuk Daffa.
Dan kali ini Reynaldi ikut bermain bersama Delia dan Daffa, tentunya ingin melakukan pendekatan dengan Daffa.
Bermain hari ini selesai, mereka kini mampir ke sebuah mall. Ide ini berasal dari Reynaldi karna dia ingin membelikan berbagai macam mainan untuk Daffa.
Mobil yang membawa mereka telah sampai di parkiran mall. Mereka turun dan masuk ke dalam mall. Daffa selalu dalam gandengan sang bunda.
" Afa ape, au ulang ! " Rengek Daffa karna sudah merasa lelah habis bermain.
" Sebentar ya sayang...Om Reynaldi mau kasih kejutan untuk kamu ! " Ucap Reynaldi lembut mengambil hati Daffa.
Kini mereka bertiga sudah sampai di sebuah counter yang menjual aneka macam mainan.
" Daffa mau apa ? Hari ini om akan belikan semua yang Daffa mau. Daffa boleh bebas milih apapun. " Ucap Reynaldi kepada Daffa. Awalnya Delia menolak keinginan Reynaldi karna menurut nya terlalu berlebihan. Delia tak ingin banyak berhutang budi, karna sudah terlalu banyak jasa Reynaldi kepadanya. Sedangkan sampai saat ini dirinya belum bisa membuka hatinya untuk Reynaldi begitu juga dengan Daffa.
Daffa menggelengkan kepalanya, dan berarti dirinya tak mau. Dan justru merengek kepada sang bunda ingin pulang karna mengantuk. Tak ada satu jenis mainan pun yang di ingin Daffa. Dan akhirnya mereka bertiga keluar kembali dari counter tersebut dan menuju parkiran untuk pulang.
Hai para readers setia aku , sambil menunggu up berikutnya mampir yuk di karya teman aku yang pastinya ceritanya sangat seru...
__ADS_1