Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku

Berbagi Cinta : Madu Dalam Pernikahan Ku
Penderitaan Tasya


__ADS_3

Dan akhirnya sore ini tidak ada acara olahraga ranjang antara Delia dan juga Daren. Delia terus mengamuk mengoceh di dalam kamar membuat Daren tak berdaya. Tak berdaya bukan karna lemas, tapi karna ucapan Delia membuat Daren kena skak mati. Dan akhirnya hanya membaringkan tubuhnya di ranjang dan membiarkan Delia keluar dari kamar.


Jika dulu Daren selalu melakukan pemaksaan, berbeda saat ini. Dia ingin melakukannya dengan penuh cinta. Tanpa keterpaksaan.


" Daren mana ? Ga jadi bikin Ade nya Daffa ? " Ucap Mama Mila tanpa filter saat sang menantu turun menghampiri dirinya yang sedang duduk santai menonton siaran tv.


" Ada di kamar lagi tiduran. Ga lah mah, Delia kan lagi menunggu panggilan untuk sidang pertama. Delia da ga mau berhubungan sama mas Daren mah, kan Delia mau cerai nanti yang ada jadi mempersulit di persidangan. " Sahut Delia.


Mama Mila hanya bisa menghela nafas panjang. Mama Mila sudah berusaha agar anak dan menantunya tak bercerai. Tapi di balik kesabaran dan kelembutan Delia, Delia memiliki sifat keras kepala dalam bersikap.


Untungnya Daffa sudah bangun dari tidurnya. Dia langsung keluar mencari keberadaan sang nenek dan ternyata melihat sang bunda sudah datang.


" Anak bunda yang pintar. " Ucap Delia sambil mendudukkan Daffa dalam pangkuannya.


" Yayah ana Bubun ? " Daffa menanyakan keberadaan sang ayah.


Daren keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dan langsung mengambil Daffa dari Delia dan menggendongnya. Keakraban Daffa semakin dekat dengan sang ayah. Bukan hanya saat bermain saja, saat tidur pun seperti itu. Selalu ingin tidur di kamar sang ayah dan tidur dengan personil lengkap. Ayah dan Bunda yang mengapit tubuhnya.


Kebahagiaan terus terasa di keluarga Agung dengan hadirnya Daffa di tengah-tengah mereka. Terlebih wajah, gaya dan celoteh Daffa sangat menggemaskan.


\=\=\=\=


Sore ini seperti biasanya Tasya pulang ke kontrakannya dari Kantor dengan berjalan kaki. Tubuhnya terasa sangat lelah. Karna dua hari tenaganya benar-benar terkuras, terlebih semenjak pulang ke Indonesia Tasya belum pernah periksa penyakitnya lagi.

__ADS_1


Tasya membaringkan tubuhnya ke kasur busa. Hidupnya benar-benar sangat jauh dari kata mewah. Sama halnya yang di rasakan Reynaldi. Biasanya di layani pembantu dalam hal mengurus makan dan pakaian nya, tidur dengan fasilitas mewah dan sekarang benar-benar menjadi seorang bujangan yang tinggal di kontrakan yang semuanya di lakukan sendiri.


" Aku harus menghubungi Reynaldi. Simpanan uangku benar-benar sudah habis buat makan sehari-hari. " Gumam Tasya. Tasya meraih ponselnya dan menekan nomor telpon Reynaldi. Tapi baru panggilan kedua, Reynaldi baru mengangkatnya.


" Ya...ada apa ? Tadi lagi ada penumpang, aku ga bisa mengangkat telpon darimu. " Ucap Rey di panggilan telpon.


Tasya mencoba mengutarakan maksud dari tujuan dia menghubungi Reynaldi. Dia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya sehari-hari. Bahkan untuk makan malam ini saja dia bingung. Tapi ternyata di luar dugaan. Reynaldi justru memaki-maki Tasya, menghina Tasya hingga membuat Tasya menangis.


" Hiks....hiks...kenapa hidupku menderita seperti ini ? Daren ku mohon maafkan aku ? Tolonglah aku ! Aku sudah tidak sanggup lagi menderita seperti ini. Aku janji ga akan menyakiti kamu lagi ! " Ucap Tasya lirih. Air mata terus mengalir hingga membasahi pipinya. Hari-harinya selalu di selimuti dengan penyesalan.


" Apa sebaiknya aku buka saja penyamaran aku ke Daren ? Aku yakin pasti Daren mau memaafkan aku. Tapi...aku lupa Daren sudah membenciku ! Hiks...Hiks...." Tasya bertambah frustasi saat dirinya baru teringat akan dosa yang dia lakukan pada Daren yang membuat Daren sangat murka padanya.


( Mungkin Tasya lupa minum AqUa , jadi lupa πŸ˜€ )


Namun saat jam menunjukkan pukul 01.00 pagi perutnya terasa sangat lapar. Tasya berniat untuk mencari makanan yang bisa meredakan rasa laparnya.


" Mie habis, telor habis, cemilan juga ga ada ! " Ucap Tasya lesu. Dan ternyata air galonnya pun tersisa sedikit hanya setengah gelas. Sedih banget hidupnya.


( πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜•πŸ˜ŒπŸ˜šπŸ˜‘πŸ˜€πŸ˜ )


Dan akhirnya Tasya memilih untuk tidur kembali. Berulang kali dirinya mencoba memejamkan matanya, namun terasa sangat sulit. Karna perutnya tak bisa di ajak kompromi. Bayangan kedua orang tua nya hadir mengiringi lamunannya.


" Mami, papi, Tasya udah ga sanggup. Hiks..hiks...biar Tasya ikut mami papi aja ! " Tasya terisak tangis. Dia merasa hidup di dunia, tak ada tempat dirinya berkeluh-kesah. Dulu dia masih punya Daren.

__ADS_1


" Aw....perutku sakit ! Aish...sakit banget ! Aku sudah tak tahan, mungkin sudah waktunya aku meninggalkan dunia. Selamat tinggal Daren, selamat tinggal cintaku ! " Ucap Tasya saat sebelum dirinya menutup mata. Darah segar mengalir dari kedua pahanya.


Tasya tak sadarkan diri. Tergeletak di kasur.


Hari telah pagi, Daren sudah bersiap-siap ke kantor bersama dengan Delia. Delia sebenarnya sudah merasa jenuh, baginya suatu hal yang tak bermanfaat. Dia lebih ingin Daren melakukan hal itu sendiri. Meskipun Delia pernah merasa sakit hati dengan perbuatan Tasya, tapi dengan kondisi Tasya yang sekarang justru Delia merasa iba. Sehingga dia lebih memilih bersikap biasa saat Daren dan Doni mengerjai Tasya.


" Tuan, wanita itu belum masuk juga. " Ucap Doni yang mendapat informasi bahwa sampai sekarang Tasya belum sampai kantor.


" Kemana tuh orang ? Coba cari di kontrakan ! Jangan sampai dia melarikan diri dari kita sebelum kita memasukkannya ke penjara ! " Perintah Daren.


Dan Doni akhirnya dengan terpaksa menghampiri Tasya.


" Rasanya sangat malas sekali harus menginjakkan kakiku di rumah wanita ular itu ? " Gerutu Doni. Saat mobil bosnya sudah terparkir di halaman kontrakan Tasya.


Doni melangkahkan kakinya, dan kini sudah berada di depan pintu kamar kontrakan Tasya. Doni mengetuk pintu. Namun tak juga ada jawaban dari dalam kamar. Suasana terlihat sepi tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam.


" Kemana wanita itu ? Kenapa tak menjawab dan keluar ? Lampu depan juga masih menyala di dalam pun sama. Apa dia melarikan diri ? Aku terpaksa harus mendobrak pintu kamar ini agar aku tau keberadaan wanita itu ! " Dan hitungan ketiga pintu kamar Tasya di tendang Doni hingga pintu kamar Tasya terbuka dengan paksa. Doni langsung masuk dan matanya membulat sempurna saat melihat Tasya yang sudah tergeletak dan terdapat bekas darah yang sudah mengering.


Doni langsung mengangkat tubuh Tasya dan berlari menggendong Tasya dan meletakkan Tasya di jok belakang. Doni kembali untuk menutup pintu kamar Tasya lebih dulu, sebelum dirinya membawa Tasya ke rumah sakit.


" Tuan, Tasya saya temukan tergeletak di kasur. Dan sepertinya, sebelumnya sempat mengalir darah segar dari kedua pahanya. " Ucap Doni saat menghubungi tuan Daren. Mata Daren membulat sempurna saat mendengar Tasya tak sadarkan diri.


Nahlo Tasya masuk rumah sakit lagi. Si Daren bisa ga, ga peduli sama Tasya ? Apa dia akan sok jadi pahlawan lagi seperti dulu ? Nantikan jawabannya di part berikutnya.

__ADS_1


Yuk ah jangan lupa dukungannya. Mumpung lagi ada vote ni hari Senin, sedekahkan ke author aja πŸ˜πŸ˜€πŸ™πŸ˜„πŸ˜πŸ˜˜πŸ€—


__ADS_2