
Nama Tasya di panggil untuk masuk, Tasya melangkah kaki nya dengan rasa takut yang luar biasa. Untungnya Daren dengan setia mendampingi dirinya.
" Silahkan duduk Nyonya Tasya, saya akan memberikan hasil pemeriksaan kemarin ! " Ucap Dokter Sheila memberikan beberapa amplop yang berisi hasil pengecekan Tasya.
Perasaan gugup menghantui Tasya, dia takut jika apa yang dia pikirkan benar terjadi.
" Tenangkan hatimu ! Apa aku saja yang membukanya ? " Ucap Daren lembut.
Tasya menggelengkan kepala dengan lemah, baginya ini hal pertama yang sangat menakutkan baginya.
" Kalau begitu bukalah, ku yakin semua akan baik-baik saja ! " Sahut Daren menguatkan Tasya.
Perlahan tapi pasti, dan kini sudah terpampang jelas hasil dari pemeriksaan.
Tes
Tes
Tes
Air mata menetes satu persatu dari pelupuk matanya. Dunia terasa runtuh seketika. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa dirinya mengidap penyakit stadium 3.
" Tidak...tidak mungkin ! " Tasya berteriak seperti orang gila.
" Tenang sayang...aku di sini ! Apa hasil nya ? " Daren mendekap erat Tasya sambil meraih kertas dari tangan Tasya.
__ADS_1
Mata Daren membulat seketika saat dirinya membaca tulisan yang ada di kertas itu yang menyatakan Tasya istri mengidap kanker serviks stadium 3.
" Owh Tuhan tidak mungkin...ku yakin pemeriksaan ini salah ! " Daren menggelengkan kepalanya seakan menolak dengan hasil yang dia dapat.
Bisa Daren lihat, Tasya terlihat sangat lemah. Bahkan membuka mata pun dirinya tak sanggup.
" Buka matamu sayang, lihat aku ! Kita hadapi bersama ! " Ucap Daren menyakinkan. Sungguh tak adil bagi Tasya jika Daren harus meninggalkan Tasya dalam keadaan terpuruk.
" Dok...berarti aku ga akan bisa hamil kan ? Tak bisa memiliki anak ! " Tasya berteriak histeris.
" Tenangkan dirimu sayang ! " Daren meraup kedua pipi Tasya, dan kini netra mereka saling menatap.
" Lihatlah aku ! Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah meninggalkan mu ! Kamu harus kuat ! " Daren berusaha untuk kuat dan menguatkan Tasya.
Daren lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang, dirinya selalu di hadapkan dengan situasi yang sulit. Dimana dirinya tak pernah memiliki kekuatan untuk meninggalkan Tasya.
" Tuhan jika Tasya memang jodohku, dekatkan lah padaku ! Biarkan hatinya hanya terpaut padaku ! " Doa Daren.
Daren dan Tasya pergi ke luar ruangan dokter, namun sebelum keluar dokter Sheila sempat memberikan peringatan dan sebuah resep untuk membuat Tasya memiliki stamina. Dan kelak Tasya harus melakukan kemoterapi untuk mematikan sel-sel kanker.
Doni dengan setia menunggu tuannya di parkiran. Setelah Daren mengetahui posisi Doni, dirinya langsung bergegas menghampiri nya. Tak ada rona bahagia tergambar dari wajah Daren dan juga Tasya. Membuat Doni penuh tanda tanya dalam hatinya.
" Jalan Don ! " Ucap Daren dingin dan Doni pun melajukan kendaraannya.
Suasana di dalam mobil terasa hening, bukan hanya Doni dan Daren yang hanya diam seribu bahasa tapi Tasya pun hanya diam hanya raut kesedihan yang dia di tampilkan di wajah cantiknya.
__ADS_1
" Ternyata apa yang aku takutkan benar terjadi ? Aku yakin sebentar lagi nenek lampir itu akan menendang aku ke luar. Tuhan, mengapa kau begitu jahat padaku. Terus menerus memberikan penderitaan padaku. Baru aku merasakan kebahagian, menikmati cinta Daren lagi tapi kini kau lempar aku kembali bahkan begitu menyakitkan. Bukan karna aku takut mati, tapi aku takut jika harus kehilangan cintanya ! " Ucap Tasya lirih dalam hati, dia menahan air mata yang ingin turun. Menahan rasa sesak yang menyelimuti nafasnya. Selama perjalanan Tasya hanya memandang jalanan luar dari dalam mobil.
Mobil mereka telah sampai di apartemen. Tak ada kemesraan yang di lakukan Daren. Tasya sangat mengerti jika saat ini suaminya telah kecewa dengannya. Tak ada lagi harapan untuk memberikan seorang anak untuk nya. Tangis pun tak akan merubah semuanya.
Bahkan saat telah sampai di apartemen pun tak ada sepatah kata pun terlontar dari Daren. Daren memilih untuk mandi dan bersiap untuk pergi kembali, namun kali ini dia tak akan di antar Doni. Dia akan pergi sendiri menenangkan diri. Meluapkan rasa sesak yang ingin dia luapkan yang sejak tadi ingin dia keluarkan.
" Sayang...mau ke mana ? Ku mohon jangan tinggalkan aku ! Bukankah kamu tadi telah berjanji akan selalu ada untukku melewati semuanya bersama ? " Ucap Tasya mengiba, dirinya sadar bahwa pantas suaminya melakukan hal itu padanya. Aku bukanlah wanita sempurna.
" Bangunlah ! Jaga dirimu baik-baik ! Aku hanyalah seorang manusia dan seorang suami, jadi pantas jika aku merasa kecewa dengan apa yang terjadi ! Aku butuh ketenangan ! " Daren membantu Tasya untuk bangun dan pergi meninggalkan Tasya begitu saja, meskipun Tasya berusaha terus memanggil dirinya dan berlari mengejar Daren hingga dirinya terasa lemas.
" Aaaahhh...kenapa dunia ini tak adil padaku ? Kenapa aku selalu menderita ? " Tasya melemparkan semua yang tersusun rapi di meja riasnya, ya Tasya mengamuk tak terima dengan kenyataan hidup yang dia hadapi.
" Delia...kenapa hidupmu begitu sempurna ! Aku benci kamu ! Aku akan buat perhitungan denganmu, saat nanti aku menemukanmu ! " Tasya memandang cermin meja rias dengan penuh kebencian seakan Delia kini berada di hadapannya.
" Brengse*...pasti nenek lampir itu akan menyuruhku pergi meninggalkan anaknya, dia pasti menendangku saat dirinya mengetahui aku tak bisa lagi memberikan anaknya keturunan. Hiks...hiks... " Tasya merosot di lantai, tangannya menutupi wajahnya yang terus mengeluarkan air mata. Dirinya baru merasakan serapuh ini.
Hatinya begitu kelu, dia tidak pernah menyangka jika dirinya kini mengidap penyakit kanker serviks bahkan sudah stadium 3.
Doni yang melihat Tasya dari cctv hanya bisa menggelengkan kepala.
" Bukannya tobat, udah penyakitan masih aja jahat aja ! " Gumam Doni saat melihat tampilan Tasya di cctv yang sedang mengacak-acak kamarnya melemparkan semua yang dia lihat, berteriak seperti orang gila.
Daren melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh, hingga kini dirinya telah sampai di daerah perkebunan teh yang terhampar luas yang di kelilingi gunung. Udara di sana terasa sangat sejuk. Di tempat itu pun dia bisa bebas berteriak karna situasi di sana benar-benar sepi.
" Aaaahhhh....kenapa dunia ini tak adil padaku ? Delia...ku mohon kembalilah padaku ! Aku rindu kamu dan anak kita ! Maafkan aku yang banyak menyakitimu, aku menyesal...Mungkin takdirku memang harus bersamamu dan berpisah dengan Tasya. Ku mohon pulanglah, kuatkan aku dan yakini aku jika hanya kamulah tempat aku kembali ! Hiks...hiks..." Daren bersimpuh di antara tumbuhan teh. Kakinya terasa lemas.
__ADS_1